Derek Halpenny dari MUFG: PMI jasa dan komposit Inggris melemah, kekhawatiran energi memicu lonjakan inflasi biaya input ke rekor tertinggi

    by VT Markets
    /
    Apr 9, 2026

    PMI (Purchasing Managers’ Index/indeks manajer pembelian) sektor jasa dan gabungan (komposit) Inggris menunjukkan penurunan yang lebih tajam dibanding Eropa. Estimasi final PMI Jasa berada 0,7 poin persentase (ppt) di bawah estimasi awal.

    Indeks Harga Input PMI Komposit (mengukur kenaikan biaya bahan baku/energi dan biaya pemasok yang dibayar perusahaan) naik rekor 6,7 ppt. Kenaikan ini melampaui rekor sebelumnya setelah pound melemah usai referendum Brexit 2016.

    Sentimen Inggris Berbeda Arah dengan Eropa

    Kenaikan 6,7 ppt itu juga lebih besar daripada lonjakan saat guncangan inflasi global setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Laporan tersebut mengaitkan kenaikan harga input dengan kekhawatiran terkait energi.

    Food & Drink Federation memperkirakan inflasi pangan Inggris pada akhir tahun sebesar 9–10%. Proyeksi ini diperbarui pekan lalu.

    Teks tersebut menyebut risiko inflasi bisa tetap ada meski terjadi gencatan senjata. Disebutkan juga bahwa kenaikan suku bunga Bank of England (bank sentral Inggris) masih mungkin terjadi.

    Volatilitas Suku Bunga Sterling dan Implikasi Perdagangan

    Terlihat pola yang kembali muncul: sentimen bisnis Inggris tampak lebih rapuh daripada Eropa, selaras dengan kekhawatiran yang pernah muncul pada 2024. PMI Komposit Inggris S&P Global/CIPS (survei aktivitas sektor swasta) untuk Maret 2026 turun tipis ke 52,5, menandakan momentum pemulihan ekonomi yang terlihat pada akhir tahun lalu mulai memudar. Perlambatan ini kembali menyorot tekanan inflasi yang mendasar di Inggris.

    Peringatan soal harga input pada periode tersebut terasa relevan saat ini, terutama setelah lonjakan besar pascaguncangan energi 2022. Meski inflasi pangan sempat turun tajam sepanjang 2025 dari puncak pascapandemi di atas 19%, data terbaru Office for National Statistics (ONS/badan statistik pemerintah Inggris) menunjukkan kenaikan yang mengkhawatirkan menjadi 3,1% bulan lalu. Ini mengindikasikan tekanan harga lebih sulit turun (sticky) daripada yang diharapkan, sehingga menyulitkan pembuat kebijakan.

    Kondisi ini menjadi dilema besar bagi Bank of England, yang menahan Bank Rate (suku bunga acuan) di 5,5% selama enam bulan terakhir. Pasar sudah memperhitungkan (pricing in) setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun, tetapi sinyal inflasi yang bertahan membuat pandangan itu berpotensi keliru. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti futures, swap, dan opsi) sebaiknya mempertimbangkan posisi untuk volatilitas (naik-turun harga) yang lebih tinggi di pasar suku bunga jangka pendek, karena peluang suku bunga ditahan lebih lama atau bahkan naik lagi tampaknya diremehkan.

    Akibatnya, pound bisa menguat kembali jika pasar mulai menilai ulang jalur suku bunga secara serius. Posisi pasar saat ini terlihat terlalu tenang, membuka peluang bagi trader opsi (kontrak hak beli/jual) pada GBP/USD atau EUR/GBP. Membeli opsi call sterling (hak untuk membeli pada harga tertentu) dapat menjadi cara untuk bersiap jika pasar kembali bersikap lebih “hawkish” (cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi) dalam beberapa pekan ke depan.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code