Alasan Investasi Emas
Orang berinvestasi dalam emas karena perannya yang bersejarah sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Emas dianggap sebagai aset yang aman dan sebagai perlindungan terhadap inflasi dan depresiasi mata uang. Bank sentral adalah pemegang emas terbesar, mendiversifikasi cadangan untuk memperkuat ekonomi mereka, dengan pembelian signifikan pada tahun 2022. Ekonomi yang sedang berkembang seperti Cina, India, dan Turki terus memperbesar cadangan mereka. Korelasi emas dengan aset lainnya berbanding terbalik dengan Dolar AS dan Treasurys AS. Ketika nilai-nilai ini menurun, harga emas cenderung naik dan lebih disukai di masa-masa yang tidak stabil. Ketidakstabilan geopolitik, ketakutan resesi, dan suku bunga juga mempengaruhi harga emas, dengan kinerja Dolar AS menjadi faktor yang sangat penting. Penurunan harga emas yang sedikit kita lihat hari ini tidak begitu penting dibandingkan dengan gambaran ekonomi yang lebih besar. Sebagai aset yang tidak menghasilkan imbal hasil, emas cenderung berkinerja baik ketika suku bunga diharapkan turun, dan konsensus pasar berkembang bahwa Federal Reserve akan mulai memotong suku bunga pada kuartal pertama 2026. Pandangan ini menurunkan biaya peluang memiliki emas, menyarankan para pedagang untuk mempertimbangkan posisi panjang melalui kontrak berjangka atau dengan membeli opsi panggilan.Dampak Mata Uang dan Tren Ekonomi Terhadap Harga Emas
Kita juga harus mempertimbangkan hubungan berbanding terbalik emas dengan Dolar AS. Indeks Dolar (DXY) baru-baru ini melemah, turun di bawah 101 pada kuartal terakhir tahun 2025, yang secara historis memberikan angin segar bagi komoditas yang diperdagangkan dalam dolar. Ketidakstabilan geopolitik yang berkelanjutan sepanjang tahun 2025 juga memperkuat status emas sebagai aset yang aman, menambah dukungan dasarnya. Pembelian oleh bank sentral telah memberikan dukungan kuat bagi harga emas, membatasi risiko penurunan bagi para pedagang. Melihat kembali tahun ini, data dari World Gold Council menunjukkan bahwa bank sentral secara kolektif membeli lebih dari 800 ton dalam tiga kuartal pertama tahun 2025, suatu laju yang mirip dengan aktivitas rekor yang kita lihat pada tahun 2022. Permintaan yang terus-menerus dari para pemain institusional membuat posisi pendek yang agresif menjadi strategi yang sangat berisiko di lingkungan saat ini. Saat inflasi telah mereda dari puncaknya, pembacaan CPI November 2025 sebesar 3,1% menunjukkan inflasi tetap di atas target 2% dari Fed, menjadikan peran emas sebagai pelindung inflasi tetap relevan. Inflasi yang persisten ini, ditambah dengan pertumbuhan yang melambat terlihat dalam angka PDB Q3 2025, menciptakan latar belakang yang menguntungkan bagi logam mulia. Para pedagang bisa menggunakan opsi pada ETF emas untuk bersiap menghadapi volatilitas seputar rilis data ekonomi mendatang awal tahun depan.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.