Didorong oleh ketegangan di Timur Tengah dan selisih imbal hasil, investor mencari aset aman, sehingga Dolar AS tetap kuat

    by VT Markets
    /
    Mar 27, 2026
    Indeks Dolar AS (DXY) naik ke sekitar 99,90 lalu stabil. Kenaikan ini didukung oleh permintaan Dolar AS sebagai **aset aman** (mata uang yang biasanya dicari saat pasar khawatir), ketegangan Timur Tengah yang melibatkan Iran, serta **perbedaan suku bunga** (selisih tingkat bunga antar negara yang memengaruhi arus uang). Presiden AS Donald Trump mengatakan kenaikan harga Minyak dan turunnya pasar saham yang terkait ketegangan dengan Iran tidak separah perkiraan. Ia menyatakan dampak ekonomi apa pun diperkirakan bisa dipulihkan.

    Euro Dan Pound Melemah

    EUR/USD turun mendekati 1,1530 setelah data PMI Zona Euro yang lemah dan kekhawatiran pertumbuhan yang berlanjut. **PMI** (Purchasing Managers’ Index) adalah indikator survei aktivitas bisnis; angka lemah biasanya menandakan ekonomi melambat. GBP/USD turun ke sekitar 1,3320 karena kekhawatiran pertumbuhan Inggris dan Dolar AS yang lebih kuat menekan pasangan ini. USD/JPY naik mendekati 159,80, didukung oleh kenaikan **imbal hasil** (yield) Obligasi Pemerintah AS dan **perbedaan arah kebijakan** (kebijakan bank sentral yang bergerak tidak sejalan). Risiko geopolitik juga kadang mendukung Yen, sehingga kenaikannya terbatas. AUD/USD turun mendekati level terendah dua bulan sekitar 0,6890 karena **penghindaran risiko** (risk aversion: investor mengurangi aset berisiko) dan Dolar AS yang kuat. Minyak WTI diperdagangkan di sekitar $94,30 per barel karena ketidakpastian terkait Iran membuat harga memuat **premi risiko** (tambahan harga karena peluang gangguan pasokan). Emas turun menuju $4.380 karena Dolar AS yang lebih kuat mengalahkan permintaan aset aman. Data yang akan rilis pada Jumat, 27 Maret meliputi Kepercayaan Konsumen Inggris bulan Maret, Penjualan Ritel Inggris bulan Februari, HICP Zona Euro bulan Maret (perkiraan awal), serta Sentimen Konsumen Michigan AS bulan Maret dan Ekspektasi Inflasi. **HICP** adalah indeks harga konsumen versi Uni Eropa (ukuran inflasi).

    Melihat Kembali Ke 2025

    Melihat kembali periode yang sama pada 2025, kita mengingat pasar yang didorong oleh perpindahan ke aset aman di tengah ketegangan di Timur Tengah. Indeks Dolar AS mendekati 100 ketika pelaku pasar mencari perlindungan di Dolar AS. Kondisi ini menekan mata uang yang sensitif terhadap risiko dan menguntungkan dolar karena statusnya sebagai aset aman. Premi risiko geopolitik itu kemudian memudar, terlihat dari harga energi. Minyak West Texas Intermediate, yang sempat diperdagangkan di atas $94 per barel saat kekhawatiran 2025, kini bergerak lebih tenang di sekitar $81 pada akhir Maret 2026. Ini menunjukkan strategi berbasis **derivatif** (instrumen turunan seperti opsi atau futures yang nilainya mengikuti aset lain) untuk kejutan pasokan mendadak menjadi kurang menarik, dan fokus perlu bergeser ke dasar permintaan global. Dolar AS tetap kuat, dengan DXY bertahan dekat 103, tetapi dorongannya berubah dari faktor keamanan menjadi perbedaan suku bunga. Data inflasi AS bulan lalu, yaitu **Indeks Harga Konsumen** (CPI) Februari 2026, tercatat 2,9%, membuat Federal Reserve berhati-hati menurunkan suku bunga. Pelaku pasar sebaiknya menilai **opsi** (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) berdasarkan skenario suku bunga “tinggi lebih lama” dibanding kepanikan geopolitik tahun lalu. Perubahan besar terjadi pada pasangan USD/JPY, yang tahun lalu sempat menuju 160. Bank Sentral Jepang akhirnya mengakhiri kebijakan suku bunga negatif pada awal 2026, menciptakan perubahan mendasar yang membatasi pelemahan yen. Pasangan ini kemudian turun kembali mendekati level 151, dan strategi **volatilitas** (strategi yang bergantung pada besar-kecilnya pergerakan harga) kini perlu memperhitungkan bank sentral Jepang yang lebih aktif. Dolar Australia berada dekat level terendah dua bulan sekitar 0,6890 pada periode ini di 2025 akibat penghindaran risiko luas. Meski sudah pulih dari titik rendah itu, mata uang ini masih tertekan di sekitar 0,65 karena kekhawatiran berkelanjutan atas data ekonomi Tiongkok. Artinya, strategi transaksi sebaiknya kurang berfokus pada ketakutan global dan lebih pada kondisi ekonomi Asia. Emas gagal menguat selama ketegangan 2025 karena dolar sangat kuat, dan saat itu tercatat turun menuju $4.380. Kini, dengan dolar turun dari puncaknya dan pasar memperkirakan penurunan suku bunga pada waktunya, emas mendapat penopang dan diperdagangkan di sekitar $4.550. Ini menunjukkan opsi beli (call) pada emas bisa lebih menarik sekarang dibanding saat krisis tahun lalu.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code