Emas Mendekati US$4.680 karena Dolar yang Melemah Mendongkrak Harga, Sementara Pelemahan Minyak Membatasi Kekhawatiran akibat Konflik

    by VT Markets
    /
    Apr 8, 2026

    Emas naik 0,63% pada Selasa ketika harga minyak turun dari level tertinggi harian di tengah laporan negosiasi AS-Iran yang mandek, yang dibantah media Iran. Perhatian tertuju pada tenggat waktu Donald Trump untuk membuka kembali Selat Hormuz pada pukul 20.00 Waktu Timur AS, dengan ketidakpastian apakah ada kesepakatan sebelum kemungkinan serangan AS kembali terjadi.

    XAU/USD diperdagangkan di $4.678 setelah memantul dari $4.607, didukung melemahnya Dolar AS. Indeks Dolar AS turun 0,17% ke 99,82 (indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama).

    Sinyal Timur Tengah Masih Bertentangan

    Laporan soal Timur Tengah tetap beragam. Tehran Times menolak klaim bahwa jalur diplomasi terputus, sementara Wall Street Journal menyebut kedua pihak tetap kukuh pada posisinya. Axios melaporkan gencatan senjata tampak kecil kemungkinannya meski ada kemajuan dalam 24 jam terakhir, dan CNN menyebut militer Israel siaga untuk kemungkinan serangan.

    Pejabat bank sentral AS (Federal Reserve/Fed) turut berbicara, termasuk Austan Goolsbee dan John Williams, dengan peringatan soal independensi bank sentral (kemampuan bank sentral mengambil keputusan tanpa tekanan politik) dan inflasi yang dipicu energi (kenaikan harga yang didorong lonjakan biaya minyak/gas). Williams mengatakan inflasi utama (headline inflation: inflasi total termasuk harga energi dan pangan) bisa tetap tinggi hingga pertengahan tahun dan mencapai sekitar 2,75% per tahun, sementara kebijakan saat ini dinilai sudah sesuai.

    Pesanan Barang Tahan Lama AS (Durable Goods Orders: pesanan untuk barang yang umur pakainya panjang seperti mesin dan kendaraan) turun 1,4% pada Februari, lebih buruk dari perkiraan penurunan 0,5%. Sementara itu, pesanan barang inti (core goods: data yang biasanya mengecualikan komponen paling volatil seperti transportasi/pesawat) naik 0,8% dibanding bulan sebelumnya (month-on-month: perubahan dibanding bulan sebelumnya). Survei ekspektasi The Fed New York menunjukkan ekspektasi inflasi satu tahun di 3,4%, dengan ekspektasi jangka lebih panjang tetap.

    Pasar tidak memperkirakan Fed akan melonggarkan kebijakan pada 2026, dengan suku bunga diperkirakan tidak berubah sepanjang tahun. Fokus tertuju pada pidato pejabat Fed, risalah FOMC (minutes: catatan rapat Komite Pasar Terbuka Federal), pertumbuhan, klaim pengangguran, dan inflasi. Secara teknikal, support (level penopang harga) adalah SMA 100 hari (Simple Moving Average/rata-rata bergerak sederhana 100 hari: rerata harga 100 hari untuk melihat tren) di $4.644 dan resistance (level penahan kenaikan) SMA 20 hari di $4.731, dengan level acuan di $4.700, $4.600, $4.553, $4.500, serta SMA 50 hari di $4.937.

    Emas Bertahan di Tengah Latar Inflasi

    Emas terlihat bertahan, mirip periode ini pada 2025 saat ketegangan di Selat Hormuz mendorong permintaan kuat. Saat ini, pendorongnya bukan semata risiko geopolitik mendadak, melainkan inflasi yang bertahan tinggi, yang menjaga permintaan aset lindung nilai (safe haven: aset yang dicari saat pasar bergejolak). Meski harga minyak stabil, ketidakpastian ekonomi memberi penopang bagi emas batangan.

    Dengan Indeks Volatilitas CBOE (VIX: “indeks ketakutan” yang mengukur perkiraan gejolak pasar saham) yang rendah di sekitar 14,5, volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) pada opsi emas tidak semahal saat ketegangan militer pada 2025. Ini memberi peluang bagi trader untuk mempertimbangkan membeli opsi call (hak membeli aset di harga tertentu sebelum jatuh tempo) untuk bersiap jika harga menembus kenaikan baru. Premi yang lebih rendah (biaya membeli opsi) berarti modal yang dipertaruhkan lebih kecil untuk pergerakan yang dipicu data inflasi mendatang.

    Komentar pejabat Fed tahun lalu terbukti tepat, karena pasar uang (money markets: pasar instrumen jangka pendek seperti deposito dan surat utang sangat pendek) benar menilai tidak ada pemangkasan suku bunga pada paruh pertama 2026. Data CPI terbaru (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen: ukuran inflasi berdasarkan harga barang dan jasa) yang dirilis Maret 2026 menunjukkan inflasi utama masih “lengket” di 3,2% (artinya sulit turun cepat), sehingga Fed sulit melonggarkan kebijakan. Ini berbeda dari proyeksi inflasi 2,75% pada 2025 yang lebih dipicu energi, karena inflasi saat ini lebih menyebar ke banyak sektor.

    Data ekonomi juga menggambarkan kondisi berbeda dari penurunan pesanan barang tahan lama yang dianalisis pada Februari 2025. Laporan terbaru untuk Februari 2026 menunjukkan kenaikan mengejutkan 1,4%, menandakan sebagian sektor ekonomi masih kuat. Ketahanan ekonomi ini, bersama inflasi, menguatkan alasan emas sebagai diversifikasi portofolio (alat untuk menyebar risiko investasi), bukan hanya aset safe haven murni.

    Dari sisi teknikal, level support kunci yang dipantau bergeser dari area $4.600 pada 2025 ke basis baru yang lebih kuat di sekitar $4.820. Dalam beberapa pekan ke depan, pelaku pasar dapat memakai derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures untuk lindung nilai/hedging) guna melindungi posisi beli (long: posisi yang diuntungkan jika harga naik) sambil mengamati uji resistance di $4.950. Jika harga bertahan di atasnya, momentum baru bisa masuk, mirip reaksi pasar terhadap berita geopolitik setahun lalu.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code