Emas Turun Mendekati US$4.800 setelah Kekhawatiran Inflasi akibat Lonjakan Harga Minyak Mengikis Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga pada Perdagangan Awal Asia

    by VT Markets
    /
    Apr 16, 2026

    Emas turun ke sekitar $4.800 pada awal perdagangan Asia Kamis, mengakhiri kenaikan dua hari. Permintaan aset aman—aset yang biasanya diburu saat pasar takut risiko—terkait ketegangan Timur Tengah melemah seiring harga minyak naik.

    Bloomberg melaporkan pada Rabu bahwa AS dan Iran mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata dua minggu untuk memberi waktu lebih bagi perundingan damai. Ketegangan masih tinggi di sekitar Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dan gas yang pada praktiknya tertutup sejak perang dimulai hampir tujuh minggu lalu.

    Harga Minyak dan Suku Bunga

    Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dari sisi energi, sehingga pasar mengurangi perkiraan pemangkasan suku bunga dan menekan emas. Emas tidak memberi imbal hasil bunga (aset tanpa bunga), sehingga biasanya kurang menarik saat suku bunga tinggi.

    Pembelian oleh bank sentral bisa menjadi penopang harga. Bank Sentral China (PBoC/People’s Bank of China) memperpanjang tren pembelian menjadi 18 bulan berturut-turut hingga Maret 2026.

    Bank sentral adalah pemegang emas terbesar dan sering membelinya untuk diversifikasi cadangan (menyebar aset agar tidak bergantung pada satu instrumen) dan menjaga kepercayaan pada mata uang. Pada 2022, mereka menambah 1.136 ton senilai sekitar $70 miliar, pembelian tahunan tertinggi dalam catatan, menurut World Gold Council.

    Pergerakan emas sering berlawanan arah dengan Dolar AS dan US Treasuries (obligasi pemerintah AS). Emas juga bisa bergerak berlawanan dengan aset berisiko seperti saham. Harga dipengaruhi geopolitik, kekhawatiran resesi, suku bunga, dan Dolar AS karena emas dihargai dalam dolar.

    Strategi Opsi dan Volatilitas

    Emas turun ke area $4.800 seiring meredanya permintaan aset aman dari ketegangan Timur Tengah. Kenaikan harga minyak kini menjadi faktor utama, memunculkan kekhawatiran inflasi dan langkah bank sentral terkait suku bunga. Ini menyulitkan pelaku pasar derivatif—instrumen turunan seperti opsi dan futures (kontrak berjangka)—karena harus menimbang risiko geopolitik dan kebijakan moneter (kebijakan bank sentral soal suku bunga dan uang beredar).

    Dengan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI)—patokan harga minyak AS—menembus $140 per barel, ekspektasi inflasi menjadi perhatian besar. Laporan terbaru CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) tercatat 3,8%, di atas target bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed). Ini menguatkan narasi “suku bunga tinggi lebih lama” (higher-for-longer). Kondisi ini membuat pembelian call option (opsi beli, hak membeli pada harga tertentu) emas lebih berisiko, karena aset tanpa bunga biasanya tertekan saat suku bunga tinggi.

    Kabar apa pun soal kemungkinan perpanjangan gencatan senjata AS-Iran dapat memicu lonjakan volatilitas—naik-turun harga yang tajam—sehingga arah pasar sulit ditebak. Penutupan Selat Hormuz tetap menjadi risiko besar; eskalasi bisa mendorong emas melonjak lagi. Dalam situasi ini, strategi seperti membeli straddle atau strangle bisa dipakai untuk mengambil peluang dari pergerakan besar ke dua arah:
    – Straddle: membeli opsi beli dan opsi jual (put) pada strike price (harga kesepakatan) yang sama.
    – Strangle: membeli opsi beli dan opsi jual dengan strike price berbeda.

    Permintaan stabil dari bank sentral juga tetap penting, terlihat dari PBoC yang memperpanjang tren pembelian hingga bulan lalu. Tren ini memberi dukungan dasar, sehingga put option (opsi jual, hak menjual pada harga tertentu) untuk bertaruh pada penurunan tajam berpotensi berhadapan dengan dukungan jangka panjang.

    Pada akhirnya, banyak pergerakan emas bergantung pada Dolar AS karena harga emas dihitung dalam dolar. Perkiraan suku bunga tinggi yang bertahan lama membuat dolar tetap kuat, menjadi penghambat utama bagi emas. Pelaku pasar sebaiknya memantau Dollar Index (DXY)—indeks kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama; jika menembus 107,00, ini bisa memicu penurunan lanjutan yang besar pada gold futures (kontrak berjangka emas).

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code