Guncangan Energi Terus Menekan Euro
Risiko penutupan Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak dan gas. Ketergantungan Eropa pada energi impor terus menekan euro, karena kenaikan harga minyak mentah dan gas alam dapat melemahkan ekonomi. Pasar memantau rilis akhir PMI Jasa Zona Euro (Purchasing Managers’ Index/indeks survei aktivitas bisnis sektor jasa) untuk pergerakan jangka dekat. Di AS, data ADP (perkiraan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta) dan PMI Jasa ISM (survei aktivitas sektor jasa dari Institute for Supply Management) akan dirilis, sementara berita geopolitik tetap menjadi pendorong utama permintaan dolar AS. Euro terlihat kesulitan melawan dolar AS, dan tren ini kemungkinan berlanjut. Tekanan datang dari dua arah: konflik di Timur Tengah membuat dolar menjadi aset aman (tempat investor menyimpan dana saat risiko naik), sementara ketegangan yang sama memicu krisis energi yang lebih merugikan Eropa. Kombinasi ini membuat posisi yang mengandalkan EUR/USD turun terlihat lebih masuk akal. Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar berita; ini adalah guncangan pasokan, yaitu pasokan berkurang tiba-tiba sehingga harga naik. Dengan harga minyak Brent (patokan harga minyak global) melonjak di atas $110 per barel, level yang tidak terlihat lebih dari setahun, investor beralih ke dolar AS yang dianggap lebih aman. Ini mirip dengan pola “lari ke aset aman” pada peristiwa geopolitik sebelumnya, yang menegaskan peran dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia (mata uang yang paling banyak disimpan bank sentral dan dipakai dalam perdagangan internasional).Perbedaan Kebijakan Dan Ide Transaksi Opsi
Bagi Eropa, ini ancaman ekonomi langsung. Kontrak berjangka gas alam Eropa TTF (harga acuan gas di Eropa; kontrak berjangka adalah perjanjian harga untuk transaksi di masa depan) sudah naik 40% dalam sebulan terakhir, dan data final produksi industri Jerman untuk Januari 2026 turun mengejutkan 1,2%. Ini menunjukkan harga energi tinggi sudah merusak sektor industri utama ekonomi Zona Euro. Perbedaan kondisi ekonomi ini mengubah perkiraan kebijakan bank sentral. Pasar kini hanya memperkirakan dua pemangkasan suku bunga Federal Reserve pada 2026, sementara ada spekulasi Bank Sentral Eropa mungkin harus memangkas suku bunga lebih cepat untuk menopang ekonomi yang melemah. Kesenjangan perkiraan kebijakan ini akan terus membebani euro. Melihat ke belakang, penurunan pasangan ini ke area 1,1530 pada November 2025 adalah peringatan penting. Sekarang level rendah itu diuji lagi, dan kondisi dasar (faktor ekonomi utama yang memengaruhi nilai mata uang) untuk euro justru makin buruk sejak saat itu. Situasinya terasa mirip dengan guncangan energi yang dialami Eropa pada 2022, yang menekan nilai mata uang secara besar. Trader derivatif (produk keuangan yang nilainya mengikuti aset lain) dapat mempertimbangkan membeli opsi put EUR/USD untuk mendapat untung jika harga turun lagi. Opsi put adalah kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk menjual pada harga tertentu. Opsi dengan strike price (harga kesepakatan) di bawah level penting 1,1500, seperti 1,1450 atau 1,1400, memberi cara langsung untuk mengambil posisi atas pelemahan yang diperkirakan. Memilih tanggal kedaluwarsa pada April atau Mei 2026 memberi waktu agar strategi ini berjalan. Strategi lain adalah menjual opsi call EUR/USD yang out-of-the-money (harga kesepakatan lebih tinggi dari harga saat ini, sehingga belum “menguntungkan” jika langsung dieksekusi) atau membuat bear call spread (strategi opsi yang mengandalkan harga turun/tertahan dengan menjual call dan membeli call lain pada strike lebih tinggi untuk membatasi risiko). Pendekatan ini bisa mendapat manfaat dari penurunan harga dan berjalannya waktu. Trader dapat menjual call dengan strike sekitar 1,1700, yang memberi jarak dari level saat ini sambil menerima premi (uang yang diterima dari menjual opsi) dari pihak yang berharap harga memantul.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.