Risiko Inflasi dan Neraca Eksternal
Mitra pasar maju mengalami pertumbuhan upah yang tetap sulit turun (sticky: tidak cepat turun meski kondisi berubah), sehingga inflasi tetap tinggi. Ini menciptakan perbedaan harga dibanding Asia Utara. Kesenjangan harga tersebut menekan nilai tukar efektif riil (REER/APAC: nilai tukar yang sudah disesuaikan dengan inflasi dan dibandingkan terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang). Pertumbuhan upah yang rendah di APAC dibanding pasar maju menambah tekanan turun pada REER. Dorongan inflasi global yang kembali terjadi karena gangguan pasokan (supply-driven: kenaikan harga karena pasokan terganggu, bukan karena permintaan naik) dapat mengubah cara nilai tukar menyesuaikan. Dalam skenario itu, mata uang APAC mungkin bisa menerima tingkat REER yang lebih tinggi. Jika REER naik, kesenjangan valuasi (valuation gap: perbedaan antara nilai “wajar” dan nilai saat ini) bisa menyempit. Penyesuaian akan terjadi lewat jalur inflasi (harga domestik naik) daripada lewat tekanan harga karena upah naik.Implikasi untuk Strategi Mata Uang
Kami melihat ekonomi Asia Utara menghadapi risiko sisi pasokan yang dapat memengaruhi neraca pembayaran. Walau bank sentral dapat memakai beberapa alat fiskal (kebijakan pemerintah) untuk meredam dampak harga energi, inflasi utama diperkirakan naik dalam waktu dekat. Ini hampir pasti memicu respons kebijakan moneter (kebijakan suku bunga dan pengaturan uang beredar) yang cenderung mendukung mata uang yang lebih kuat. Dinamika inflasi baru ini didorong faktor eksternal (dari luar negeri), berbeda dengan yang terjadi pada mitra pasar maju hingga 2025, saat upah yang sulit turun menjadi penyebab utama. Hal ini menciptakan kesenjangan valuasi yang besar, dengan REER Asia Utara terlihat sangat tertekan. Lonjakan harga komoditas (barang mentah seperti minyak dan logam), dengan minyak naik 12% dalam sebulan terakhir hingga di atas US$90 per barel, adalah contoh guncangan pasokan global (global supply shock: gangguan pasokan yang mendorong harga naik secara luas) yang mengubah situasi. Kondisi ini memberi peluang bagi mata uang yang nilainya rendah (undervalued: dianggap lebih murah dari nilai wajarnya) untuk menguat sebagai cara melawan inflasi impor (imported inflation: kenaikan harga dalam negeri akibat barang impor lebih mahal karena harga global atau kurs). REER Won Korea Selatan, misalnya, masih 8% di bawah rata-rata lima tahun, dan kesenjangan ini bisa mulai menutup. Kami menilai ekonomi ini dapat menerima, bahkan mungkin menginginkan, nilai tukar riil yang lebih tinggi. Trader (pelaku transaksi jangka pendek) dapat mempertimbangkan posisi untuk penguatan mata uang Asia Utara terhadap dolar AS dan Euro dalam beberapa minggu ke depan. Dengan derivatif (instrumen turunan: kontrak yang nilainya mengikuti aset lain), ini bisa berupa membeli opsi call (hak untuk membeli pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu) atas Won Korea atau mengambil posisi long pada kontrak forward (kontrak untuk membeli/menjual di masa depan pada harga yang disepakati) atas Dolar Taiwan. Profil risiko-imbal hasil (risk-reward: perbandingan potensi untung dan potensi rugi) untuk transaksi ini membaik seiring perubahan cerita inflasi global. Data terbaru dari Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan harga impor untuk Februari 2026 naik 3,5%, laju tercepat dalam lebih dari setahun, sehingga menambah tekanan pada pembuat kebijakan. Ini memperkuat pandangan bahwa bank sentral di kawasan akan lebih cenderung membiarkan mata uangnya menguat untuk menyerap guncangan harga dari luar. Ini membuat posisi long pada mata uang seperti Yen terlihat menarik, karena mata uang yang lebih kuat menjadi alat untuk menjaga stabilitas harga. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.