Inflasi Mendingin Dan Dampaknya Pada Kebijakan
Penurunan inflasi Singapura ke 1,2% pada Februari adalah perkembangan penting, melanjutkan tren penurunan sejak tahun lalu. Angka ini di bawah perkiraan pasar, yang berarti tekanan kenaikan harga mereda lebih cepat dari perkiraan. Ini mengurangi kebutuhan mendesak bagi Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS, yaitu bank sentral Singapura) untuk mempertahankan kebijakan yang ketat (kebijakan yang membatasi agar inflasi turun). Dengan rapat kebijakan MAS berikutnya dijadwalkan pada April 2026, inflasi yang rendah ini memperkuat alasan untuk perubahan yang lebih “lunak” (dovish, yaitu lebih mendukung pelonggaran kebijakan). Kami menilai bank sentral kini bisa mempertimbangkan mengurangi kemiringan (slope, yaitu tingkat penguatan yang ditargetkan) dari pita kebijakan S$NEER (Singapore Dollar Nominal Effective Exchange Rate, yaitu nilai tukar dolar Singapura terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang). Langkah ini sebelumnya dihindari sepanjang 2025 karena inflasi yang masih tinggi. Ini akan menjadi pelonggaran pertama dalam lebih dari dua tahun, dan menandai perubahan arah kebijakan. Untuk posisi valuta asing (foreign exchange/FX, yaitu perdagangan nilai tukar mata uang), pandangan ini mengarah pada dolar Singapura yang lebih lemah ke depan. Kita bisa mempertimbangkan membeli opsi call USD/SGD (call option, yaitu kontrak yang memberi hak untuk membeli pada harga tertentu; USD/SGD adalah pasangan dolar AS terhadap dolar Singapura) dengan jatuh tempo melewati rapat April untuk bersiap jika pasangan ini naik. Volatilitas tersirat 1 bulan (implied volatility, yaitu perkiraan pasar atas besar-kecilnya pergerakan harga; dipakai untuk menghitung harga opsi) berada di sekitar 4,8%, sehingga biaya opsi relatif murah untuk momen penting seperti ini. Dari sisi suku bunga, harapan inflasi yang lebih rendah dan MAS yang lebih longgar seharusnya menekan perkiraan suku bunga jangka pendek. Kami melihat peluang pada pembelian kontrak berjangka SORA (Singapore Overnight Rate Average, yaitu rata-rata suku bunga pinjaman antarbank semalam di Singapura) untuk kuartal ketiga 2026. Ini adalah cara langsung untuk mengambil manfaat dari perubahan penilaian pasar menuju jalur suku bunga yang kurang agresif untuk sisa tahun tersebut.Saham Dan Penempatan Aset Berisiko
Latar ekonomi ini juga mendukung saham lokal, karena biaya pinjaman yang lebih rendah membantu laba perusahaan. Kita bisa mempertimbangkan posisi beli (long, yaitu berharap harga naik) pada kontrak berjangka STI (Straits Times Index, yaitu indeks saham utama Singapura), dengan target menembus level hambatan 3.450 (resistance, yaitu area harga yang sering menahan kenaikan). Inflasi yang menurun memberi kondisi yang lebih baik bagi aset berisiko dalam waktu dekat.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.