Permintaan Aset Aman Makin Kuat
Emas naik karena permintaan aset aman ke level tertinggi sejak akhir Januari, mendekati $5.400, naik lebih dari 2% hari itu. Kontrak berjangka (futures, yaitu kontrak untuk membeli/menjual aset di harga tertentu pada tanggal tertentu) indeks saham AS turun 1,2% hingga 1,6% pada sesi Eropa. Dolar AS menguat, dengan Indeks USD naik lebih dari 0,5%. Franc Swiss naik, dan Bank Nasional Swiss (SNB) mengatakan bisa melakukan intervensi (masuk ke pasar untuk memengaruhi nilai mata uang) guna membatasi penguatan CHF yang berlebihan. Laporan sebelumnya menyebut Presiden Donald Trump mengumumkan “operasi tempur besar” setelah serangan Israel ke Teheran, dan Tasnim melaporkan pengeboman AS di Teheran. Israel menetapkan keadaan darurat, dan militernya mengatakan rudal diluncurkan dari Iran, memicu sirene dan serangan balasan lanjutan. Dengan eskalasi risiko geopolitik yang tajam, pasar kemungkinan mengalami lonjakan volatilitas (naik-turunnya harga yang cepat dan besar) yang kuat dan bertahan. CBOE Volatility Index (VIX, “indeks ketakutan” yang mengukur ekspektasi gejolak pasar saham AS) yang sempat melonjak di atas 35 pada awal konflik Ukraina 2022, berpotensi naik lebih tinggi karena keterlibatan langsung AS dan kematian kepala negara. Trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) dapat mempertimbangkan membeli opsi call VIX (hak membeli di harga tertentu) atau memasang long straddle (strategi membeli call dan put sekaligus di level harga yang sama untuk memanfaatkan pergerakan besar ke arah mana pun) pada indeks utama seperti S&P 500 untuk memanfaatkan lonjakan ketidakpastian. Untuk pasar saham, strategi cepatnya adalah bersiap menghadapi penurunan lanjutan. Dengan futures indeks AS sudah turun, kita bisa membeli opsi put (hak menjual di harga tertentu; umumnya untung saat harga turun) pada SPX dan NDX untuk lindung nilai (hedging, mengurangi risiko) dari posisi beli yang sudah ada atau untuk berspekulasi atas koreksi yang lebih dalam. Penurunan awal 13% pada S&P 500 dalam dua bulan pertama 2022 memberi contoh bagaimana pasar bereaksi terhadap perang besar, dan situasi saat ini kemungkinan lebih berat.Guncangan Energi dan Penempatan Portofolio
Dampak paling langsung kemungkinan terjadi pada harga energi, dan kita perlu menyesuaikan posisi. Serangan balasan di kawasan Teluk langsung mengancam Selat Hormuz, titik sempit jalur pelayaran (chokepoint) tempat sekitar 20% pasokan minyak harian dunia lewat. Gangguan di sini dapat memicu lonjakan pasokan yang sangat besar, sehingga membeli opsi call pada futures minyak WTI dan Brent menjadi transaksi utama untuk menangkap risiko kenaikan harga. Emas berperan sebagai aset aman utama, dan reli ini kemungkinan berlanjut kuat. Pergerakan menuju $5.400 menunjukkan perpindahan ke aset aman yang bisa makin besar saat dampak ekonomi konflik terlihat. Kita dapat menambah eksposur dengan membeli opsi call pada futures emas atau memakai ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa) penambang emas ber-leverage (menggunakan pinjaman/“pengganda” untuk memperbesar naik-turun), karena aset ini relatif terlindung dari risiko pihak lawan (counterparty risk, risiko pihak lain gagal memenuhi kewajiban) yang bisa menekan sistem perbankan. Di pasar mata uang, Dolar AS tetap menarik karena likuiditasnya (kemudahan jual-beli tanpa mengganggu harga) yang terbaik saat krisis. Walau Franc Swiss dan Yen Jepang juga diuntungkan, SNB sudah memberi sinyal tidak nyaman dengan Franc yang naik terlalu cepat, yang menambah risiko intervensi seperti yang terjadi dalam dekade terakhir. Strategi pasangan (pairs trade, mengambil posisi beli pada satu mata uang dan jual pada mata uang lain) yang paling sederhana adalah menjual mata uang komoditas seperti Dolar Australia terhadap Dolar AS, karena permintaan bahan industri kemungkinan melemah di tengah kekhawatiran resesi global.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.