Konflik Timur Tengah yang meningkat memicu penghindaran risiko, mendorong penguatan dolar dan menekan EUR/USD ke bawah 1,1600.

    by VT Markets
    /
    Mar 24, 2026
    EUR/USD turun di bawah 1.1600 setelah kenaikan kecil, diperdagangkan di sekitar 1.1590 pada sesi Asia hari Selasa. Pergerakan ini terjadi karena Dolar AS menguat seiring meningkatnya sikap menghindari risiko (risk aversion: pelaku pasar cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman) yang terkait dengan konflik di Timur Tengah. The Guardian melaporkan bahwa Israel melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran. Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan jeda serangan AS terhadap infrastruktur energi setelah pembicaraan dengan Iran, sementara Israel mengatakan operasi akan terus berlanjut sesuai arahan pemerintah.

    Eskalasi Geopolitik Mendorong Sikap Menghindari Risiko

    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan tidak ada “dialog” dengan Washington. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan “tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS”, dan penasihat Mohsen Rezaei mengatakan perang akan berlanjut sampai Iran menerima kompensasi penuh atas kerusakan. Reuters melaporkan bahwa Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan langkah suku bunga berikutnya belum jelas kecuali konflik cepat berakhir dan kenaikan harga minyak terbukti hanya sementara. Kenaikan harga minyak menambah kekhawatiran inflasi (inflasi: kenaikan harga barang/jasa secara umum) dan memengaruhi perkiraan kebijakan bank sentral (bank sentral: lembaga yang mengatur suku bunga dan peredaran uang). ECB (Bank Sentral Eropa: bank sentral kawasan Euro) mempertahankan suku bunga minggu lalu dan menyebut prospek “jauh lebih tidak pasti” karena konflik Iran. Pada 2022, Euro mencakup 31% transaksi FX (FX/foreign exchange: pasar tukar mata uang), dengan nilai transaksi harian rata-rata di atas $2,2 triliun; EUR/USD sekitar 30% dari perdagangan, dengan EUR/JPY 4%, EUR/GBP 3%, dan EUR/AUD 2%. Konflik Timur Tengah yang makin memanas menjadi pendorong utama, mendorong dana mengalir ke Dolar AS yang dianggap lebih aman. Kami melihat Indeks Volatilitas CBOE (VIX: ukuran “ketakutan” pasar saham AS, makin tinggi berarti pasar makin gelisah) melonjak ke atas 25 dalam sepekan terakhir, level tertinggi sejak gejolak perbankan akhir 2025. Kondisi risk-off (risk-off: pasar cenderung menghindari aset berisiko) ini menjadi faktor utama yang menekan pasangan EUR/USD saat ini. Dampak ekonomi yang cepat terlihat di pasar energi, ketika kontrak berjangka (futures: perjanjian membeli/menjual di harga tertentu untuk waktu mendatang) minyak Brent naik melewati $110 per barel. Ini mendorong perkiraan inflasi, dengan HICP Zona Euro (Harmonized Index of Consumer Prices: indeks inflasi versi standar Uni Eropa) terbaru untuk Februari sudah naik ke 2,8%. Ini memberi tekanan pada ECB untuk bertindak, meski ekonomi melambat.

    Posisi Menghadapi Volatilitas di Suku Bunga dan FX

    Bagi trader derivatif (derivatif: instrumen turunan nilainya mengikuti aset seperti mata uang atau suku bunga), ini menciptakan situasi rumit karena kebijakan bank sentral bergerak tidak sejalan. Meski pasar memperkirakan kemungkinan ECB bersikap lebih ketat (hawkish: cenderung menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi), data PMI Jerman (PMI/Purchasing Managers’ Index: survei yang mengukur aktivitas bisnis; di bawah 50 berarti kontraksi) bulan lalu turun ke 48,5, mengarah pada kontraksi manufaktur (kontraksi: aktivitas menyusut). ECB dipaksa mempertimbangkan pengetatan kebijakan saat ekonomi melemah. Karena ketidakpastian ini, kami menilai fokus pada volatilitas (volatilitas: besar-kecilnya pergerakan harga) lebih masuk akal daripada mengambil taruhan arah harga yang besar. Volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan volatilitas dari harga opsi) pada opsi EUR/USD satu bulan meningkat tajam, menandakan pasar memperkirakan pergerakan harga lebih besar. Strategi seperti long straddle (membeli opsi beli dan opsi jual di harga yang sama agar untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah) bisa dipakai untuk memanfaatkan lonjakan pergerakan, baik dipicu ketakutan perang maupun pengumuman bank sentral yang mengejutkan. Kita bisa melihat kembali reaksi pasar terhadap guncangan energi 2022 sebagai gambaran. Saat itu Euro awalnya melemah karena kerentanan energi Eropa dan sikap menghindari risiko. Namun inflasi yang muncul memaksa ECB menaikkan suku bunga lebih agresif dari perkiraan pasar, yang kemudian membantu menopang mata uang tersebut di akhir tahun. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code