Kontrak berjangka WTI naik 2,3% mendekati US$73 setelah penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan

    by VT Markets
    /
    Mar 3, 2026
    Kontrak berjangka WTI di NYMEX naik 2,3% ke dekat $73,00 pada awal perdagangan Eropa hari Selasa. Kenaikan ini menyusul laporan bahwa Selat Hormuz ditutup, jalur yang digunakan untuk sekitar 20% pengiriman minyak mentah dunia. Reuters melaporkan bahwa pada Senin malam, sebuah pernyataan Garda Revolusi Iran mengatakan kapal yang mencoba melintas akan ditembaki. Iran meningkatkan aktivitas militer di dekat selat tersebut di tengah konflik yang melibatkan AS dan Israel.

    Dampak Premi Risiko Geopolitik

    Pasukan AS mengatakan mereka menghancurkan pos komando Garda Revolusi Iran, serta pertahanan udara Iran dan lokasi peluncur rudal. Laporan ini menyebut hal itu mengurangi kemampuan Teheran untuk melakukan serangan. Ekspektasi suku bunga AS juga berubah setelah data inflasi di tingkat pabrik (kenaikan harga di tahap produksi, sebelum barang sampai ke konsumen). Alat CME FedWatch (alat yang memperkirakan peluang keputusan suku bunga bank sentral AS berdasarkan harga kontrak berjangka) menempatkan peluang suku bunga ditahan pada Juni di 53,5%, naik dari 42,7% pada Jumat. Laporan ISM Manufacturing PMI (indeks yang mengukur kondisi sektor manufaktur; angka di atas 50 berarti aktivitas naik) menunjukkan subindeks Prices Paid (bagian yang mengukur harga yang dibayar perusahaan untuk bahan/masukan) naik ke 70,5. Ini dibandingkan dengan perkiraan 59,5 dan angka sebelumnya 59,0. WTI adalah patokan minyak mentah dari AS yang didistribusikan lewat hub Cushing (pusat penyimpanan dan penyaluran minyak di Oklahoma yang menjadi titik acuan pengiriman WTI). Harganya dipengaruhi oleh pasokan dan permintaan, pertumbuhan global, peristiwa politik, keputusan OPEC (kelompok negara pengekspor minyak yang mengatur produksi), Dolar AS, serta data persediaan mingguan dari API (lembaga industri minyak AS) dan EIA (lembaga pemerintah AS untuk data energi), yang biasanya selisihnya kurang dari 1% sekitar 75% dari waktu.

    Posisi Pasar dan Risiko Persediaan

    Jika melihat kembali krisis 2025, lonjakan WTI ke dekat $73 setelah penutupan Selat Hormuz membentuk “batas bawah psikologis” baru (level harga yang secara mental dianggap sulit ditembus turun oleh pelaku pasar). Peristiwa itu menambah premi risiko geopolitik yang masih terasa hingga perdagangan saat ini. Ingatan akan guncangan pasokan itu membuat trader lebih cepat bereaksi terhadap ketegangan di Timur Tengah. Meski selat itu sudah lama dibuka kembali, gejolak harga tetap tinggi akibat kejadian 2025. Indeks Volatilitas Minyak Mentah CBOE (OVX) (ukuran perkiraan gejolak harga yang dihitung dari harga opsi) saat ini di sekitar 38, lebih tinggi dibanding rata-rata sebelum konflik 2025. Ini menunjukkan pasar opsi (pasar kontrak yang memberi hak untuk membeli/menjual pada harga tertentu) masih memperhitungkan peluang besar terjadinya lonjakan harga mendadak. Sebagai respons atas ketidakstabilan harga tahun lalu, produksi non-OPEC meningkat, terutama dari AS. Data EIA terbaru menunjukkan produksi minyak mentah AS naik ke rekor 13,5 juta barel per hari. Tambahan pasokan ini menjadi penyangga penting yang membatasi kenaikan harga minyak saat gangguan kecil. Di saat yang sama, sisi permintaan tetap tertahan akibat kebijakan moneter setelah lonjakan inflasi 2025. Federal Reserve (bank sentral AS), yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama tahun lalu, menahan laju pertumbuhan ekonomi global. Ini terlihat pada angka PMI manufaktur global yang berada sedikit di atas 50, artinya pertumbuhan hanya ringan. Untuk trader derivatif (instrumen turunan, yaitu kontrak yang nilainya mengikuti aset seperti minyak), kondisi ini mengarah ke strategi yang diuntungkan dari pasar yang bergerak dalam kisaran, namun tetap bergejolak. Menjual call spread out-of-the-money (strategi opsi: menjual opsi beli dengan harga kesepakatan di atas harga pasar saat ini, dan biasanya membeli opsi beli lain di level lebih tinggi untuk membatasi risiko) dengan strike price (harga kesepakatan pada opsi) di atas $85 per barel bisa menjadi pendekatan yang lebih aman untuk memanfaatkan batas produksi. Ini memungkinkan trader menerima premi (biaya yang diterima penjual opsi) sambil bertaruh bahwa pasokan AS yang kuat dan kebijakan The Fed yang ketat akan mencegah lonjakan ekstrem seperti yang sempat terjadi pada 2025. Karena pasar lebih sensitif, perhatian pada laporan persediaan mingguan EIA perlu ditingkatkan. Penurunan persediaan yang jauh lebih besar dari perkiraan bisa memicu reli tajam dan menguji batas atas kisaran harga saat ini. Karena itu, menahan posisi melewati rilis laporan hari Rabu membawa risiko yang lebih besar dibanding sebelum gangguan 2025.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code