Risiko Pasokan Selat Hormuz
Selat Hormuz adalah titik sempit yang sangat penting (*chokepoint*, yaitu jalur sempit yang jika terganggu bisa menghambat arus barang), karena sekitar seperlima minyak dunia dan gas alam cair (*LNG*, gas yang didinginkan sampai menjadi cair agar mudah diangkut) biasanya lewat setiap hari. Gangguan yang berlanjut meningkatkan kekhawatiran soal pasokan energi global. Harga minyak diperkirakan tetap membawa *risk premium* geopolitik (tambahan harga karena risiko konflik antarnegara) untuk beberapa waktu ke depan. Tekanan harga lebih lanjut bisa memengaruhi kondisi ekonomi luas (*makro*, gambaran ekonomi secara keseluruhan), dengan dampak yang kemungkinan paling terasa di Asia dan Eropa. Penyebab utamanya adalah hampir berhentinya lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz, titik sempit yang sangat penting bagi ekonomi dunia. Lebih dari 21 juta barel minyak, sekitar seperlima dari pasokan harian dunia, biasanya melewati jalur air ini. Jeda dari pemilik kapal menciptakan ketidakpastian besar pada pasokan fisik (pasokan nyata minyak, bukan sekadar transaksi di kertas) dan mendorong pembelian spekulatif (pembelian untuk mencari untung dari perubahan harga).Strategi Opsi untuk Volatilitas
Dengan ketidakpastian yang meningkat, pedagang bisa mempertimbangkan membeli opsi (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual pada harga tertentu) untuk memanfaatkan naiknya volatilitas (harga naik-turun tajam). Volatilitas tersirat (*implied volatility*, perkiraan pasar tentang besar kecilnya pergerakan harga ke depan yang tercermin dari harga opsi) pada kontrak Brent dan WTI (patokan harga minyak AS) naik, mencerminkan ekspektasi pasar akan perubahan harga yang tajam. Memiliki opsi memungkinkan keuntungan dari pergerakan harga besar sambil membatasi risiko turun. Bagi yang memandang harga akan naik (*bullish*, perkiraan harga cenderung naik), membeli *call option* (opsi untuk membeli pada harga tertentu) atau membuat *bull call spread* (strategi membeli call dan menjual call lain pada strike lebih tinggi untuk menekan biaya) memberi cara langsung untuk memanfaatkan potensi lonjakan harga. Ini lebih hemat modal dibanding menahan kontrak *futures* (kontrak berjangka untuk membeli/menjual di masa depan), terutama karena penurunan ketegangan mendadak bisa menghapus *risk premium* secepat kemunculannya. Kita perlu siap jika harga melonjak bila situasi memburuk. Kita bisa melihat kembali serangan drone ke fasilitas minyak Saudi pada 2019 untuk memahami betapa rapuhnya rantai pasok. Kejadian itu membuat *Brent futures* (kontrak berjangka Brent) melonjak hampir 20% dalam satu sesi. Situasi Selat Hormuz saat ini berpotensi berdampak lebih besar pada harga global. Untuk portofolio yang terpapar biaya energi, seperti sektor transportasi atau industri, ini waktu penting untuk *hedging* (lindung nilai, yaitu mengurangi risiko kerugian akibat perubahan harga). Membeli *futures* atau *call option* bisa melindungi dari pergerakan mendadak menuju USD 90 atau bahkan USD 100 per barel. Biaya “asuransi” ini kemungkinan jauh lebih kecil daripada potensi kerugian jika tidak dilindungi. Dampak ekonomi luas akan paling terasa di Asia dan Eropa, yang sangat bergantung pada pengiriman ini. Kita perlu memantau pelemahan ekonomi importir besar seperti China, Jepang, dan India. Ini bisa membuka peluang transaksi lanjutan pada mata uang dan pasar saham mereka saat menghadapi biaya energi yang lebih tinggi.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.