Risiko Inflasi Kembali Jadi Fokus
Dalam **Monetary Policy Summary** (ringkasan kebijakan moneter) dan **Minutes** (notulen rapat), BoE menyebut siap bertindak agar inflasi **CPI** (Consumer Prices Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran kenaikan harga barang dan jasa) tetap berada di jalur menuju target **2%** untuk jangka menengah. BoE juga mencatat bahwa penurunan inflasi sebelumnya masih berlanjut sebelum konflik, tetapi guncangan baru diperkirakan akan mendorong inflasi lebih tinggi dalam waktu dekat. BoE memperingatkan bahwa **dampak putaran kedua (second-round effects)**—ketika kenaikan biaya memicu kenaikan upah lalu harga naik lagi—dari upah dan penetapan harga makin mungkin terjadi jika harga energi tetap tinggi lebih lama. Notulen menambahkan bahwa guncangan yang lebih besar atau lebih lama dapat memerlukan kebijakan yang lebih ketat, sedangkan guncangan yang singkat atau **kelonggaran ekonomi (economic slack)**—kapasitas ekonomi yang belum terpakai seperti pengangguran atau produksi yang masih bisa ditingkatkan—dapat membuat kebijakan menjadi kurang ketat. Keputusan BoE menahan suku bunga di 3,75% dan memberi sinyal potensi kenaikan adalah perubahan besar dari perkiraan sebelumnya. Pasar sebelumnya memperkirakan setidaknya dua kali penurunan suku bunga pada 2026, tetapi pandangan itu kini dianggap tidak berlaku. Perubahan ini diperkuat oleh laporan CPI terbaru bulan Februari, yang menunjukkan inflasi tetap sulit turun di **2,8%**, sehingga tekanan pada bank sentral tetap tinggi. Sikap lebih ketat ini merupakan respons langsung terhadap guncangan eksternal, terutama ketegangan baru di **Selat Hormuz** yang memicu lonjakan harga energi global. **Brent crude** (minyak mentah acuan global) naik lebih dari 15% dalam sebulan terakhir hingga diperdagangkan di atas **US$90 per barel**, sehingga meningkatkan kekhawatiran **inflasi impor** (kenaikan harga dalam negeri akibat barang/energi impor menjadi lebih mahal). BoE jelas memberi sinyal akan memprioritaskan penanganan ini dibanding mendukung ekonomi yang hanya tumbuh **0,1%** pada kuartal terakhir 2025.Perkiraan Pasar Berubah Cepat
Bagi pelaku perdagangan **derivatif** (kontrak keuangan yang nilainya mengikuti aset lain), ini berarti segera menutup posisi yang bertaruh pada suku bunga lebih rendah dalam jangka pendek hingga menengah. Terlihat aksi jual besar pada **short-sterling futures** (kontrak berjangka terkait suku bunga jangka pendek Poundsterling), dan imbal hasil **UK 2-year gilt** (obligasi pemerintah Inggris tenor 2 tahun; imbal hasilnya mencerminkan ekspektasi suku bunga) sudah naik **25 basis poin** (1 basis poin = 0,01%) untuk mencerminkan kondisi baru. Pasar **overnight index swap** (OIS, swap berbasis suku bunga semalam sebagai patokan ekspektasi suku bunga) kini menunjukkan hampir tidak ada peluang penurunan suku bunga sebelum 2027. Sikap kebijakan ini pada dasarnya mendukung **Pound** karena potensi imbal hasil yang lebih tinggi menarik **modal internasional**. Strategi **opsi** (kontrak hak beli/jual) kini cenderung mendukung penguatan GBP, terutama terhadap mata uang dengan bank sentral yang lebih longgar seperti Euro atau Franc Swiss. **Implied volatility** (perkiraan volatilitas dari harga opsi; menunjukkan ekspektasi besar kecilnya pergerakan harga) pada **GBP/USD** naik ke level tertinggi tiga bulan, menandakan pelaku pasar bersiap menghadapi pergerakan harga yang lebih besar. Kita pernah melihat perubahan cepat seperti ini pada 2022 ketika bank sentral mulai agresif melawan inflasi setelah pandemi. Faktor kunci sekarang, seperti saat itu, adalah seberapa lama guncangan ini bertahan dan dampaknya pada pertumbuhan upah. Perhatian akan tertuju pada laporan pasar tenaga kerja berikutnya untuk melihat apakah biaya energi yang lebih tinggi ini memicu dampak putaran kedua yang paling dikhawatirkan BoE.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.