Reaksi Dolar dan Perkiraan Pasar
Setelah rilis, Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun 0,3% pada hari itu ke 98,78. Sebelum data, DXY naik sekitar 1,7% untuk pekan tersebut dan berada dekat level 100. Laporan ADP dijadwalkan rilis pukul 13:15 GMT, sebelum laporan US Nonfarm Payrolls (NFP, data pekerjaan bulanan di luar sektor pertanian) yang akan keluar pada Jumat. Rapat kebijakan berikutnya Federal Reserve (bank sentral AS) dijadwalkan pada 17–18 Maret. Laporan-laporan menggambarkan eskalasi di Timur Tengah, termasuk serangan udara dan balasan di berbagai lokasi Teluk, serta menyebut pengiriman melalui Selat Hormuz terhenti. Harga minyak dan gas dilaporkan naik, seiring meningkatnya permintaan aset “safe haven” (aset yang dianggap lebih aman saat krisis, misalnya dolar AS). Data inflasi yang disebut termasuk inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures, ukuran inflasi yang sering dipakai The Fed) 2,9% year-on-year/YoY (dibandingkan periode yang sama tahun lalu) pada Desember dan core PCE (inflasi inti, tidak memasukkan harga makanan dan energi yang lebih bergejolak) 3%. Level teknikal (acuan analisis grafik harga) yang disebut termasuk puncak sebelumnya 99,50 dan area moving average (rata-rata pergerakan harga) 98,40–98,60.Eskalasi Timur Tengah dan Risk-Off
Mengingat eskalasi tajam di Timur Tengah, kami melihat data ketenagakerjaan ADP terbaru hanya sebagai faktor kedua bagi pasar. Konflik memicu perpindahan besar ke aset aman, mendorong DXY naik mendekati level penting 100. Laporan dari CENTCOM (Komando Pusat AS, komando militer AS untuk kawasan tersebut) kini mengonfirmasi tiga kapal angkatan laut AS mengalami kerusakan di Teluk Persia, sehingga suasana “risk-off” (pelaku pasar mengurangi aset berisiko dan beralih ke aset aman) menguat di semua kelas aset. Situasi ini membuka peluang pada derivatif energi (produk turunan seperti futures dan opsi yang nilainya mengikuti harga energi), karena terhentinya pengiriman lewat Selat Hormuz menciptakan guncangan pasokan yang besar. Futures Brent (kontrak berjangka minyak Brent, patokan harga minyak global) sudah melonjak melewati $115 per barel untuk pertama kalinya sejak musim panas 2022. Trader dapat mempertimbangkan posisi long (posisi beli yang diuntungkan jika harga naik) pada opsi minyak mentah dan gas alam untuk memanfaatkan kenaikan harga dan volatilitas (naik-turun harga) yang tinggi. Untuk trader saham, kombinasi ketegangan geopolitik dan lonjakan biaya energi mengarah pada sikap defensif (lebih fokus melindungi modal). VIX (indeks volatilitas yang sering disebut “pengukur ketakutan” pasar) melonjak, ditutup di atas 35 kemarin untuk pertama kalinya sejak krisis perbankan regional pada awal 2025. Kami menilai membeli put option (opsi jual, biasanya diuntungkan saat harga turun) pada indeks pasar luas seperti S&P 500 adalah strategi yang masuk akal untuk lindung nilai (hedging, mengurangi risiko) terhadap potensi penurunan. Meski laporan ADP Februari menunjukkan kenaikan 63.000 pekerjaan, pasar mengabaikannya karena berita geopolitik. Pelemahan dasar di pasar tenaga kerja—terutama premi upah yang turun ke rekor terendah saat ganti pekerjaan—menunjukkan ekonomi sudah melambat sebelum konflik ini. Ini menegaskan pandangan kami bahwa data domestik akan kalah pengaruh dibanding perkembangan internasional dalam beberapa pekan ke depan. Guncangan geopolitik ini membuat langkah Federal Reserve menjelang rapat 17 Maret semakin sulit. Kenaikan harga energi akan mendorong inflasi, tetapi risiko konflik yang meluas bisa menekan pertumbuhan ekonomi, menciptakan dilema stagflasi (inflasi tinggi saat ekonomi melemah) bagi pembuat kebijakan. Ketidakpastian ini menjadi alasan untuk tetap berhati-hati dan defensif dalam trading.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.