Lira Turki (TRY) sudah kembali stabil setelah ketegangan AS-Iran mereda. Bank Sentral Turki (CBT) tetap menjaga keyakinan pasar terhadap arah USD/TRY yang stabil.
Posisi beli (long) TRY—artinya investor bertaruh TRY akan menguat atau setidaknya tidak melemah cepat—sempat berkurang selama periode ketegangan. Posisi tersebut dipangkas sekitar setengahnya.
Cadangan devisa (foreign exchange/FX reserves, yaitu simpanan aset mata uang asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar) CBT turun dari puncak US$210 miliar menjadi sekitar US$161 miliar. Pergerakan ini terkait dengan pelemahan luas di pasar emas global.
Data terbaru menunjukkan posisi beli TRY mulai kembali. Ini sejalan dengan sentimen global yang membaik.
USD/TRY diperkirakan bergerak bertahap menuju 46,6 pada pertengahan 2026. Perkiraan ini mengasumsikan strategi “carry trade” TRY kembali berjalan seiring waktu.
Dengan suku bunga kebijakan Turki bertahan tinggi di 50% dibanding suku bunga AS 3,5%, kondisinya mendukung untuk kembali menjalankan carry trade Lira—strategi meminjam di negara bersuku bunga rendah lalu menempatkan dana di negara bersuku bunga tinggi untuk mengambil selisih bunga, dengan risiko utama bila nilai tukar melemah. Pergerakan USD/TRY terpantau relatif terarah dari 43,0 di awal tahun ke 45,1 saat ini, menandakan pelemahan terkelola (managed depreciation: pelemahan nilai tukar yang diatur agar bertahap, bukan jatuh mendadak) masih sesuai jalur. Stabilitas ini, setelah meredanya ketegangan geopolitik pada kuartal I, membuka peluang.
Bagi yang memakai kontrak forward (perjanjian kurs di masa depan), strateginya adalah mengambil posisi beli di Lira—bertaruh pelemahan riil TRY nanti lebih lambat dibanding yang “dipasang” pasar forward. CBT berulang kali menegaskan komitmen menjaga stabilitas, sehingga jalur terkelola menuju target pertengahan tahun 46,6 dinilai lebih kredibel. Ini memperkuat keyakinan bahwa kurs spot (kurs saat ini) berpeluang lebih baik dibanding kurs yang tersirat dari forward (forward-implied: perkiraan kurs yang tercermin dari harga kontrak forward) dalam beberapa pekan ke depan.
Di pasar opsi, fokusnya pada penurunan volatilitas (tingkat naik-turun harga). Volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) USD/TRY turun dari puncak di atas 30% saat periode “risk-off” kuartal I (risk-off: investor cenderung menghindari aset berisiko) menjadi 18% saat ini. Kondisi ini membuat strategi menjual opsi menarik untuk mengambil premi (premium: penerimaan di awal dari menjual opsi). Peluangnya adalah menjual opsi call USD/TRY out-of-the-money (OTM: harga kesepakatan opsi lebih tinggi dari kurs saat ini, sehingga belum “menguntungkan” jika langsung dieksekusi) dengan jatuh tempo satu sampai dua bulan. Strategi ini untung selama Lira tidak mengalami devaluasi mendadak dan tajam (penurunan nilai tukar yang besar dalam waktu singkat).