Min Joo Kang memperkirakan Bank of Korea akan memprioritaskan stabilitas, dengan inflasi yang meningkat dan pertumbuhan yang mendukung pengetatan pada Juli

    by VT Markets
    /
    Apr 2, 2026
    Min Joo Kang dari ING memperkirakan Bank of Korea (BoK, bank sentral Korea Selatan) akan tetap berfokus pada stabilisasi inflasi (menjaga kenaikan harga tetap terkendali) dan stabilitas keuangan (mencegah risiko di sistem keuangan), seiring pertumbuhan ekonomi yang masih kuat dan tekanan harga yang meningkat. Ia memprediksi inflasi CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran rata-rata perubahan harga barang dan jasa) bulan Maret sebesar 2,5% dibanding setahun sebelumnya (year on year/tahun ke tahun), lebih tinggi dari perkiraan pasar 2,3%. Harga bensin diperkirakan naik meski ada batas harga bahan bakar dari pemerintah dan pemotongan pajak bahan bakar tambahan. Kenaikan tajam harga impor (harga barang dari luar negeri) juga diperkirakan menambah tekanan pada harga lebih banyak jenis barang.

    Risiko Inflasi Masih Cenderung Naik

    Harga energi yang lebih tinggi untuk lebih lama, bersama langkah anggaran tambahan (pengeluaran pemerintah tambahan melalui anggaran), diperkirakan meningkatkan risiko inflasi dalam beberapa bulan ke depan. Ini membuat risiko inflasi tetap cenderung naik. Berdasarkan gambaran ini, perubahan menuju pelonggaran kebijakan (policy easing, misalnya menurunkan suku bunga agar pinjaman lebih murah) diperkirakan tertunda. Perkiraan tersebut memasukkan kenaikan suku bunga 25bp pada Juli, di bawah gubernur baru, Shin Hyun Song. (25bp/25 basis point berarti 0,25 poin persentase.) Melihat kembali awal 2025, ada perkiraan bahwa pertumbuhan yang kuat dan kenaikan harga akan memaksa Bank of Korea menaikkan suku bunga lagi. Perkiraan saat itu mengarah pada potensi kenaikan 25 basis poin pada Juli 2025 karena risiko inflasi dari biaya energi. Pandangan ini didasarkan pada gagasan bahwa bank sentral harus lebih memprioritaskan inflasi daripada mendukung pertumbuhan. Namun, Bank of Korea akhirnya menahan suku bunga acuannya (policy rate, suku bunga utama yang menjadi patokan) tetap di 3,50% sepanjang 2025 dan berlanjut hingga tahun ini. Walaupun inflasi memang sulit turun (sticky, artinya tetap tinggi lebih lama dari perkiraan), mencapai puncak 3,7% pada Agustus 2025, pertumbuhan ekspor yang melambat dan kekhawatiran atas pasar properti membuat bank sentral memilih berhenti menaikkan suku bunga. Perbedaan dari perkiraan kenaikan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran stabilitas keuangan bisa mengalahkan fokus inflasi saja.

    Dampak ke Pasar untuk Suku Bunga

    Per 2 April 2026, inflasi tetap menjadi perhatian utama, dengan data CPI Maret terbaru sebesar 3,1%, masih di atas target BoK 2%. Inflasi yang bertahan tinggi ini, ditambah nada bank sentral yang tetap “hawkish” (cenderung mengetatkan kebijakan, misalnya mempertahankan/menaikkan suku bunga demi menekan inflasi), membuat perkiraan penurunan suku bunga mundur. Pasar kini memperkirakan pelonggaran yang sangat kecil, jika ada, untuk paruh kedua tahun ini. Bagi trader derivatif (produk turunan, nilainya mengikuti aset lain seperti suku bunga atau nilai tukar), ini menunjukkan strategi “higher-for-longer” (suku bunga lebih tinggi lebih lama) di Korea masih masuk akal dalam beberapa minggu ke depan. Kami menilai membayar fixed (membayar bunga tetap) pada swap suku bunga Won Korea (IRS, interest rate swap: kontrak untuk menukar pembayaran bunga tetap dan mengambang) jangka pendek adalah transaksi yang menarik, karena bisa diuntungkan jika pasar makin mengurangi perkiraan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ini terutama berlaku untuk tenor (jangka waktu kontrak) 1 tahun dan 2 tahun, yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan dalam waktu dekat. Pandangan ini juga berarti imbal hasil (yield, tingkat hasil dari obligasi) Korea Treasury Bonds (KTBs, obligasi pemerintah Korea) kecil kemungkinan turun banyak. Trader sebaiknya berhati-hati dengan posisi long (bertaruh harga naik) pada kontrak berjangka (futures, kontrak untuk membeli/menjual di harga tertentu pada waktu tertentu) KTB dan bisa mempertimbangkan short (bertaruh harga turun) saat harga naik. Inflasi yang tetap tinggi dan sikap bank sentral yang ketat membatasi kenaikan harga obligasi dalam jangka pendek. Di sisi mata uang, BoK yang ketat seharusnya mendukung won, tetapi data ekspor yang lemah membuat pasangan USD/KRW (nilai tukar dolar AS terhadap won Korea) tetap tinggi, baru-baru ini diperdagangkan di sekitar 1.350. Ini menciptakan tarik-menarik dan bisa meningkatkan volatilitas (naik turun harga yang lebih besar). Menggunakan opsi (options, hak untuk membeli/menjual pada harga tertentu sebelum/di tanggal tertentu), seperti membeli straddle pada USD/KRW (strategi membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus di harga dan waktu yang sama untuk mengambil untung dari pergerakan besar ke arah mana pun), bisa menjadi cara memperdagangkan ketidakpastian ini tanpa menebak arah.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code