Pendorong di Balik Pergerakan
Dolar AS juga mendapat dukungan dari perkiraan bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) bisa tetap hawkish (bersikap “keras”: cenderung menahan suku bunga tinggi atau menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi). Kekhawatiran inflasi (kenaikan harga) yang sebagian terkait harga energi yang lebih tinggi membuat pasar memperkirakan suku bunga AS yang lebih tinggi. Prospek Selandia Baru tetap lemah. Kepala Ekonom RBNZ (Reserve Bank of New Zealand, bank sentral Selandia Baru) Paul Conway mengatakan kapasitas yang masih longgar (spare capacity: ada sumber daya/tenaga kerja/produksi yang belum terpakai penuh) akan memengaruhi cara bank merespons tekanan inflasi dari kenaikan harga minyak. Fitch Ratings (lembaga pemeringkat kredit) merevisi outlook (proyeksi/arah penilaian ke depan) utang negara Selandia Baru menjadi negatif. Fitch menyebut risiko terkait konflik Timur Tengah dan ketergantungan Selandia Baru pada impor energi, yang menambah tekanan pada NZD (Dolar Selandia Baru).Implikasi Strategi untuk Trader
Federal Reserve memang terbukti lebih tegas daripada perkiraan banyak pihak, dengan inflasi AS tetap “lengket” di atas target (sticky: sulit turun cepat), saat ini 2.8% untuk Februari 2026. Walau The Fed sudah memulai siklus pemangkasan suku bunga, Fed Funds Rate (suku bunga acuan utama The Fed) di 4.75% masih tinggi, sehingga terus mendukung Dolar AS. Ini berbeda dengan RBNZ yang mulai memangkas suku bunga lebih awal dan kini menahan Official Cash Rate/OCR (suku bunga acuan RBNZ) di 5.00%. Perbedaan kebijakan ini mendorong NZD/USD turun ke area rendah dekat 0.5600 awal tahun ini, meski kemudian pulih ke sekitar 0.5950. Penurunan outlook oleh Fitch pada 2025 terbukti tepat karena ekonomi Selandia Baru masuk resesi teknis (technical recession: produk domestik bruto turun dua kuartal berturut-turut), dan baru sekarang terlihat tanda pemulihan awal. Bagi trader, ini berarti kondisi berubah dari tren yang jelas menjadi lebih “range-bound” (bergerak dalam kisaran). Karena langkah besar kebijakan suku bunga kemungkinan sudah “tercermin di harga” (priced in: sudah diperhitungkan pasar), implied volatility (perkiraan volatilitas dari harga opsi) menurun. Indeks volatilitas Cboe NZD/USD 3 bulan turun ke 8.5% dari puncak di atas 12% pada akhir 2025. Ini menunjukkan strategi menjual opsi untuk mengambil premium (premi: biaya yang dibayar pembeli opsi kepada penjual) bisa lebih menarik dibanding menebak arah harga secara langsung. Karena itu, trader dapat mempertimbangkan menjual strangle atau straddle (strategi opsi: menjual kombinasi opsi beli dan opsi jual untuk mendapat premi, dengan harapan harga tetap bergerak dalam kisaran tertentu). Ini berbeda dari kondisi sebelumnya ketika membeli put (opsi jual: memberi hak menjual di harga tertentu) atau menahan posisi short futures (posisi jual kontrak berjangka: untung jika harga turun) lebih masuk akal. Volatilitas yang lebih rendah dan arah kebijakan bank sentral yang lebih jelas membuat strategi mengumpulkan premi lebih menarik dalam beberapa minggu ke depan.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.