Pelonggaran pasokan aluminium dari kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz diperkirakan hanya bersifat jangka pendek.
Guinea, yang memproduksi 40% bauksit dunia, berencana membatasi ekspor bauksit pada 150 juta ton. Angka ini hampir 20% di bawah level tahun lalu.
Batas ekspor tersebut akan mengurangi ketersediaan bauksit sepanjang sisa tahun ini. Tujuannya adalah menopang harga bauksit global dan margin perusahaan tambang (laba per unit setelah biaya).
Jika kuota 150 juta ton tetap diberlakukan, harga bauksit bisa naik dan harga aluminium dapat ikut terdorong seiring waktu. Sekitar 35 juta ton aluminium dapat diproduksi dari 150 juta ton bauksit (bauksit adalah bijih bahan baku utama untuk membuat aluminium, yang diolah menjadi alumina lalu aluminium).
Artikel ini menyebut dibuat dengan alat Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI, yaitu sistem komputer yang membantu menyusun teks berdasarkan data dan pola) dan ditinjau oleh editor.
Tahun lalu pasar memantau rencana Guinea membatasi ekspor bauksit, dan kini pada pertengahan 2026 hal itu menjadi kenyataan. Pengetatan bahan baku utama ini menjadi pendorong utama harga aluminium. Data bea cukai terbaru menunjukkan impor bauksit China dari Guinea turun hampir 15% pada kuartal I tahun ini dibanding periode yang sama 2025, sehingga pasokan makin ketat.
Kondisi pasokan yang ketat ini langsung menopang harga logam, terlihat dari harga aluminium di LME (London Metal Exchange, bursa logam global) yang bertahan di sekitar US$2.750 per ton. Ini naik hampir 12% dibanding periode yang sama tahun lalu. Fokus pasar bergeser dari isu logistik jangka pendek ke kendala pasokan yang lebih permanen di hulu (tahap awal rantai pasok, yaitu bahan baku).
Dengan kondisi ini, mempertahankan posisi beli (long, strategi mendapat untung saat harga naik) pada kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli pada harga dan waktu tertentu di masa depan) aluminium dinilai masuk akal untuk beberapa pekan ke depan. Tingginya biaya bauksit membentuk “batas bawah” harga (price floor, level yang menahan harga agar tidak mudah turun), sehingga risiko penurunan terbatas. Dukungan fundamental (faktor dasar seperti pasokan-permintaan) diperkirakan mendorong kenaikan lanjutan hingga musim panas.
Untuk mengelola risiko, membeli opsi beli (call option, hak—bukan kewajiban—untuk membeli pada harga tertentu) memberi peluang menangkap kenaikan dengan biaya tetap (premi). Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan pasar atas besarnya naik-turun harga di masa depan yang tercermin dalam harga opsi) meningkat, membuat opsi lebih mahal sekaligus menegaskan pandangan pasar yang cenderung naik (bullish). Strategi bull call spread (membeli call pada strike lebih rendah dan menjual call pada strike lebih tinggi untuk menekan biaya premi) bisa dipakai agar biaya lebih efisien sambil tetap memposisikan diri untuk kenaikan bertahap.
Situasi ini dinilai mirip dengan larangan ekspor bauksit Indonesia satu dekade lalu, yang memicu lonjakan harga dan penyesuaian selama beberapa tahun bagi smelter (pabrik peleburan/pengolahan). Secara historis, gangguan besar pada rantai pasok bahan baku tidak cepat selesai, sehingga tekanan naik pada harga aluminium kemungkinan bertahan lebih lama.