Dolar AS melemah seiring membaiknya selera risiko (minat pasar terhadap aset berisiko) setelah kabar gencatan senjata. Euro naik mendekati US$1,17, sementara Brent turun ke US$95 dan imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun turun 6bp (basis poin, 1bp = 0,01%).
Saham Asia dan kontrak berjangka e-mini (futures indeks saham AS berukuran lebih kecil) menguat, dengan futures Stoxx naik sekitar 5%. Treasury AS menunjukkan pergerakan bull-steepening (harga obligasi naik karena yield turun, dan kemiringan kurva yield makin curam) saat yield turun.
Dampak Gencatan Senjata Terhadap Ekspektasi Suku Bunga ECB
Commerzbank menyebut gencatan senjata yang berkepanjangan akan membuat kenaikan suku bunga ECB pada April, dan setelahnya, menjadi kurang mungkin. Bank itu menyoroti kurva €STR (kurva suku bunga acuan euro jangka pendek berbasis pasar) yang sebelumnya mematok sekitar 80bp kenaikan suku bunga pada hari sebelumnya—terbanyak sejak perang dimulai—sebagai latar yang mendorong bull steepening pada suku bunga euro.
ECB menerbitkan tulisan blog dengan memakai Bank Treasurer Survey (survei pengelolaan kas/likuiditas bank) dan Securities Financing Transactions Data (data transaksi pendanaan berbasis surat berharga seperti repo). ECB memproyeksikan bahwa pada akhir tahun, bank-bank yang memegang 50% dari total aset akan mencapai tingkat cadangan (reserve) yang mereka anggap ideal, naik dari 26% sebelumnya, yang dikaitkan dengan kondisi Oktober lalu.
ECB tidak menerbitkan angka total cadangan ideal secara gabungan, berbeda dengan ukuran PMRR (perkiraan kebutuhan cadangan minimum) milik Bank of England. Pasar repo (pasar pinjam-meminjam jangka pendek dengan jaminan surat berharga) disebut tenang, dan kondisi akhir tahun dikaitkan dengan ekspektasi swap spread Schatz yang lebih murah (selisih antara swap suku bunga dan obligasi pemerintah Jerman tenor 2 tahun).
Dengan Euro saat ini diperdagangkan di sekitar 1,1450, kondisi pasar terasa berbeda dibanding reli risk-on (penguatan aset berisiko) yang tajam pada 2025. Saat itu, kabar gencatan senjata mendorong euro melesat menuju 1,17 dan menekan minyak Brent ke US$95 per barel. Stabilnya dolar saat ini menunjukkan kabar positif serupa belum tentu memicu reaksi sebesar itu kali ini.
Harga yang Tercermin di Pasar Dan Volatilitas Opsi
Ekspektasi terhadap ECB kini berbalik total dibanding tahun lalu. Pada awal 2025, pasar mengantisipasi 80bp kenaikan suku bunga, namun pandangan itu runtuh saat ketegangan geopolitik mereda. Kini, pasar forward €STR (kontrak/kuotasi suku bunga untuk periode mendatang) mematok pemangkasan suku bunga 25bp pada akhir kuartal III, menandakan sikap yang lebih dovish (lebih condong melonggarkan kebijakan) dari pembuat kebijakan.
Perubahan ini mendukung strategi bull steepening lanjutan pada kurva suku bunga euro melalui futures dan swap (kontrak pertukaran arus bunga). Pelaku pasar dapat mengantisipasi yield jangka panjang turun, namun lebih lambat dibanding yield jangka pendek, seiring menguatnya keyakinan pasar pada pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Sikap ECB saat ini membuat melawan tren ini menjadi berisiko dalam beberapa pekan ke depan.
Di pasar opsi, volatilitas tersirat (implied volatility, ukuran ekspektasi gejolak harga dari harga opsi) EUR/USD tenor satu bulan berada di sekitar 5,2%, jauh lebih rendah dibanding periode gejolak 2025. Ini membuat pembelian opsi relatif murah. Ada nilai pada pembelian opsi call euro berjangka lebih panjang (hak beli euro di harga tertentu) untuk mengantisipasi pemicu positif tak terduga yang dapat menantang kekuatan dolar belakangan ini.
Perkiraan tahun lalu terkait cadangan bank ECB juga kembali relevan. Pandangan bahwa kelangkaan cadangan baru mulai mendorong suku bunga naik pada 2026 tampaknya tepat. Data terbaru menunjukkan pengetatan kecil namun terlihat pada pinjam-meminjam antarbank, sehingga pelaku pasar pendanaan jangka pendek perlu waspada terhadap tanda-tanda tekanan.