Pergeseran ke Kebijakan yang Lebih Lunak dan Dampaknya
Dengan inflasi Februari di 2,0% (di bawah perkiraan 2,1%), tekanan pada Bank of Korea (bank sentral Korea Selatan) untuk tetap mempertahankan kebijakan ketat (suku bunga tinggi untuk menekan inflasi) berkurang. Penurunan tak terduga ini memperkuat arah ke kebijakan yang lebih lunak (lebih condong menurunkan suku bunga), sehingga peluang pemangkasan suku bunga akhir tahun ini meningkat. Ini berarti kita perlu menyesuaikan posisi ke arah kondisi suku bunga yang lebih rendah lebih lama. Untuk derivatif saham (produk turunan yang nilainya mengikuti harga saham atau indeks), ini menjadi sinyal positif untuk KOSPI 200 (indeks 200 saham besar di Korea). Kita bisa mempertimbangkan menambah posisi beli (long) lewat kontrak berjangka indeks (index futures, kontrak untuk membeli/menjual indeks di harga tertentu pada waktu tertentu) atau membeli opsi beli (call options, hak untuk membeli di harga tertentu sebelum tanggal tertentu). Biaya pinjaman yang lebih rendah biasanya membantu laba perusahaan dan membuat valuasi saham naik. Karena indeks sedang bergerak mendatar (konsolidasi, naik-turun dalam rentang sempit) di sekitar level 2.850, data ini bisa menjadi pemicu untuk menembus ke atas (breakout, keluar dari rentang tersebut). Perkembangan ini kemungkinan menekan Won Korea, karena potensi suku bunga yang lebih rendah membuat mata uang ini kurang menarik bagi investor yang mengejar imbal hasil (yield-seeking, mencari keuntungan dari bunga/imbal hasil). Kita bisa memperkirakan nilai tukar USD/KRW (dolar AS terhadap won), yang kini dekat 1.360, menguji level yang lebih tinggi. Cara mengambil posisi adalah membeli kontrak berjangka USD/KRW atau opsi beli USD/KRW. Di pasar suku bunga, data ini memperkuat peluang yield obligasi turun (yield, imbal hasil obligasi; biasanya turun saat harga obligasi naik). Kita bisa melihat peluang membeli kontrak berjangka Korean Treasury Bond/KTB (obligasi pemerintah Korea), karena harganya cenderung naik jika yield turun sesuai perkiraan. Dengan melihat dari perspektif 2025, siklus kenaikan suku bunga yang agresif setelah pandemi tampaknya sudah berakhir.Pertimbangan Posisi Lintas Pasar
Mengingat Bank of Korea sudah menahan suku bunga kebijakan di 3,50% selama lebih dari setahun, inflasi yang terus berada di bawah target memberi alasan untuk bertindak. Kondisi global juga penting, karena Federal Reserve AS (bank sentral AS) juga diperkirakan mulai melonggarkan kebijakan (easing, menurunkan suku bunga atau membuat kondisi keuangan lebih longgar) pada paruh kedua tahun ini. Arah yang sejalan ini memperkuat kemungkinan BOK menjadi lebih lunak, dan tren ini bisa berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.