Implikasi Untuk Komoditas Industri
Dengan PMI manufaktur China Februari berada di 49,1 (dua bulan berturut-turut terjadi kontraksi), kita perlu mengantisipasi pelemahan yang berlanjut pada komoditas industri. Data ini menunjukkan permintaan dalam negeri yang melemah, yang langsung menekan pemakaian bahan seperti bijih besi dan tembaga. Untuk beberapa minggu ke depan, ini mendukung posisi “bearish” (bertaruh harga turun), misalnya dengan menjual kontrak berjangka (futures, yaitu perjanjian jual-beli pada harga tertentu untuk tanggal mendatang) atau membeli opsi jual (put option, yaitu hak untuk menjual pada harga tertentu) pada perusahaan tambang besar. Data pabrik yang lemah ini menambah kekhawatiran lain, seperti penurunan 5,2% dibanding tahun sebelumnya (year-over-year, yaitu dibanding periode yang sama tahun lalu) pada awal pembangunan konstruksi baru (new construction starts) yang dilaporkan untuk kuartal keempat 2025. Gabungan manufaktur yang melambat dan sektor properti yang bermasalah memperkuat pandangan negatif untuk logam dasar (base metals, yaitu logam industri seperti tembaga dan aluminium). Ini bisa menjadi peluang untuk “short” tembaga (shorting, yaitu mengambil posisi yang untung jika harga turun), karena tembaga sangat peka terhadap kondisi industri China. Pelemahan ekonomi yang berlanjut meningkatkan peluang pelonggaran kebijakan uang (monetary easing, yaitu bank sentral menurunkan suku bunga atau menambah likuiditas) dari Bank Rakyat China (People’s Bank of China/PBoC). Pada pertengahan 2025, angka PMI yang lemah serupa terjadi sebelum pemotongan rasio persyaratan cadangan (reserve requirement ratio/RRR, yaitu porsi dana yang wajib disimpan bank sebagai cadangan), yang memicu penurunan tajam yuan. Karena itu, pelaku pasar bisa mempertimbangkan strategi yang diuntungkan jika mata uang melemah, seperti membeli call spread USD/CNH (strategi opsi: membeli opsi beli dan menjual opsi beli lain pada harga lebih tinggi; USD/CNH adalah pasangan dolar AS terhadap yuan offshore, yaitu yuan yang diperdagangkan di luar Tiongkok daratan). Lingkungan ekonomi ini kemungkinan menimbulkan efek berantai pada saham global yang sangat bergantung pada konsumen China.Eksposur China Dan Risiko Saham Global
Produsen mobil Jerman, misalnya, mengalami penurunan penjualan di China sebesar 4% pada kuartal terakhir 2025, dan data manufaktur ini menunjukkan tren itu tidak cepat berbalik. Kami menilai membeli opsi jual (put) pada ETF yang terpapar China (ETF, yaitu reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) atau pada saham industri Eropa tertentu adalah cara yang masuk akal untuk melindungi portofolio (hedge, yaitu mengurangi risiko) atau berspekulasi pada risiko penurunan ini.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.