Pendorong Yen dan Risiko Minyak
Yen juga mendapat tekanan saat harga minyak naik setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan ancaman terhadap Iran. Jepang rentan terhadap gangguan pasokan karena sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah. Trump menetapkan tenggat baru bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz (jalur laut sempit dan sangat penting untuk pengiriman minyak) dan meningkatkan ancaman terhadap pembangkit listrik serta infrastruktur sipil. Pejabat Iran mengatakan mereka akan membalas terhadap infrastruktur yang terkait AS dan bahwa selat tersebut akan tetap ditutup sampai kerusakan akibat perang diganti. Penurunan EUR/JPY lebih lanjut bisa terbatas karena Euro didukung oleh sikap kebijakan ketat dari Bank Sentral Eropa (ECB/bank sentral zona euro). Presiden ECB Christine Lagarde dan pembuat kebijakan lain mengatakan kebijakan akan tetap ketat sampai inflasi kembali ke target 2%. Karena ada tekanan yang saling berlawanan pada EUR/JPY, volatilitas (naik-turunnya harga yang besar dan cepat) bisa meningkat dalam beberapa minggu ke depan. Perkiraan pengetatan kebijakan BoJ pada April mendukung yen yang lebih kuat, sementara konflik AS–Iran yang memanas dan kenaikan harga minyak bisa melemahkan yen. Kondisi ini membuat taruhan arah harga “naik atau turun saja” lebih berisiko dan lebih cocok untuk strategi yang bisa untung dari pergerakan besar.Strategi untuk Volatilitas Lebih Tinggi
Bagi yang memperkirakan pergerakan besar, strategi opsi (option/kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli atau menjual pada harga tertentu) seperti straddle atau strangle bisa efektif, sehingga trader bisa untung baik saat pasangan naik tajam maupun turun tajam. Dalam guncangan geopolitik terkait minyak di masa lalu, volatilitas tersirat (implied volatility/perkiraan pasar tentang besarnya pergerakan harga di masa depan yang tercermin pada harga opsi) pada pasangan yen utama pernah naik dari rata-rata 8% menjadi di atas 15%. Jadi biaya opsi menjadi faktor penting. Kuncinya adalah apakah pergerakan harga nyata melampaui biaya volatilitas yang sudah tinggi. Jika kita menilai tindakan BoJ akan menjadi pendorong utama, posisi jual (short/untung jika harga turun) yang hati-hati pada EUR/JPY masuk akal. Overnight Index Swaps (OIS/kontrak swap suku bunga jangka sangat pendek yang dipakai pasar untuk menilai ekspektasi suku bunga) kini menunjukkan peluang lebih dari 75% untuk kenaikan 15 basis poin (bps/satuan 0,01%; jadi 15 bps = 0,15%) dari BoJ, naik tajam dari sebelumnya. Untuk mengelola risiko geopolitik, posisi short ini bisa dilindungi (hedging/mengurangi risiko dengan posisi lain) dengan membeli opsi call out-of-the-money (opsi call/hak beli; out-of-the-money berarti harga patokannya masih di atas harga sekarang) untuk melindungi dari lonjakan mendadak jika situasi Hormuz memburuk. Sebaliknya, trader yang bertaruh isu geopolitik akan lebih dominan daripada kebijakan bank sentral bisa mengambil posisi beli (long/untung jika harga naik). Dengan minyak WTI (West Texas Intermediate/patokan harga minyak AS) menembus $115 per barel, level yang tidak bertahan sejak kekhawatiran pasokan pada pertengahan 2025, risiko pelemahan yen yang tajam cukup besar karena ketergantungan impor Jepang. Stop-loss (batas rugi otomatis) atau membeli opsi put (hak jual) penting untuk melindungi dari meredanya ketegangan secara tiba-tiba atau langkah BoJ yang lebih agresif dari perkiraan. Sikap ECB yang ketat memberi “lantai” yang kuat bagi euro, sehingga kemungkinan membatasi penurunan EUR/JPY. Artinya, sekalipun yen menguat, penurunannya bisa lebih tertahan dibanding pasangan yen lain seperti USD/JPY. Ini membuat strategi membeli saat turun dalam (buy the dip/membeli ketika harga jatuh cukup besar) menarik bagi yang percaya guncangan harga minyak pada akhirnya akan lebih kuat. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.