Guncangan Minyak Dan Permintaan Dolar
Bank of England (bank sentral Inggris) mempertahankan suku bunga (biaya pinjaman) di 3,75% pada rapat bulan Maret. Pembuat kebijakan mengatakan konflik dapat menaikkan inflasi dalam waktu dekat lewat biaya energi yang lebih tinggi. Laporan juga menyebut AS sedang mempertimbangkan operasi darat untuk merebut Pulau Kharg milik Iran. Seorang pejabat AS mengatakan ribuan personel Marinir dan Angkatan Laut telah dikerahkan ke Timur Tengah. Kita ingat pada 2025 ketika konflik di Selat Hormuz membuat harga minyak Brent melonjak di atas $100 per barel. Lonjakan biaya energi dan permintaan terhadap Dolar sebagai aset aman (mata uang yang biasanya dicari saat pasar takut risiko) menekan pasangan GBP/USD turun di bawah level 1,33. Hari ini, dengan kontrak berjangka Brent (futures: kontrak untuk membeli/menjual di harga tertentu pada waktu mendatang) diperdagangkan lebih dekat ke $87, situasinya kurang gawat, tetapi ingatan pasar atas gejolak itu membentuk strategi saat ini. Kekhawatiran stagflasi (ekonomi melambat tetapi inflasi tinggi) pada 2025 memang terjadi sampai tingkat tertentu, sehingga Bank of England harus menaikkan suku bunga acuannya (base rate: suku bunga utama bank sentral) ke puncak siklus 5,25% pada akhir tahun itu untuk menahan guncangan harga akibat minyak. Walau inflasi Inggris kini turun ke 3,5% menurut data terbaru ONS (Office for National Statistics: badan statistik resmi Inggris), angkanya masih jauh di atas target 2%. Inflasi yang tetap tinggi ini membuat rencana penurunan suku bunga menjadi lebih sulit bagi bank sentral.Volatilitas Dan Strategi Lindung Nilai
Kita melihat volatilitas tersirat 3 bulan (implied volatility: perkiraan volatilitas yang “terbaca” dari harga opsi) untuk opsi GBP/USD melonjak hingga di atas 12% saat puncak krisis Pulau Kharg pada 2025. Walau volatilitas sejak itu turun ke sekitar 8%, ini menunjukkan betapa cepatnya pasangan mata uang bereaksi terhadap berita geopolitik. Trader bisa mempertimbangkan biaya opsi yang relatif rendah untuk lindung nilai (hedging: mengurangi risiko kerugian) jika sentimen risk-off (pasar menghindari aset berisiko) tiba-tiba kembali. Mengingat nilai tukar GBP/USD kini bergerak mendatar (konsolidasi: bergerak dalam kisaran sempit) di sekitar 1,25, tren turun kuat (bearish: kecenderungan harga turun) dari tahun lalu telah berhenti. Sikap Bank of England yang enggan menurunkan suku bunga memberi “batas bawah” (floor: penahan agar tidak mudah turun) bagi pound, sehingga penurunan besar untuk sementara terbatas. Kondisi ini bisa mendukung strategi seperti menjual put yang jauh dari harga pasar (out-of-the-money puts: opsi jual yang baru menguntungkan jika harga turun jauh) untuk menerima premi (premium: uang yang diterima dari penjualan opsi), dengan asumsi kejatuhan besar tidak akan terjadi dalam waktu dekat.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.