Konflik Timur Tengah Memicu Kekhawatiran Inflasi
Konflik ini meningkatkan kekhawatiran soal pasokan energi dan ekspektasi inflasi (perkiraan pasar bahwa harga-harga akan naik). Kepala Badan Energi Internasional (IEA, lembaga yang menganalisis pasar energi global) Fatih Birol mengatakan “puluhan aset energi di Timur Tengah rusak dalam perang” dan bahwa “Krisis ini lebih buruk daripada dua krisis minyak tahun 1970-an jika digabungkan.” Reserve Bank of Australia (RBA, bank sentral Australia) menaikkan Suku Bunga Acuan (Official Cash Rate, suku bunga patokan) sebesar 25 basis poin (bps; 25 bps = 0,25%) menjadi 4,1%, sesuai perkiraan. RBA juga memperingatkan tekanan inflasi dapat meningkat akibat krisis energi. Pasar menilai peluang 50-50 untuk kenaikan RBA lagi pada Mei. Reuters melaporkan suku bunga 4,35% sudah sepenuhnya diperhitungkan pasar (artinya pasar sudah “memasukkan” skenario itu ke harga) pada Agustus. Dolar AS tetap kuat karena permintaan terhadap aset aman (instrumen yang biasanya dicari saat gejolak, seperti Dolar AS) meningkat. Dolar juga didukung ekspektasi bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) akan mempertahankan suku bunga tahun ini, sementara harga minyak yang lebih tinggi mendorong perkiraan inflasi.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.