Setelah dua hari kenaikan, WTI turun ke sekitar $97,80 seiring AS mengizinkan perdagangan minyak oleh perusahaan minyak milik negara Venezuela.

    by VT Markets
    /
    Mar 19, 2026
    WTI turun setelah dua hari naik, diperdagangkan dekat $97,80 per barel pada jam perdagangan Asia hari Kamis. Harga melemah karena kekhawatiran pasokan berkurang setelah AS mengizinkan bisnis terbatas dengan perusahaan minyak dan gas milik negara Venezuela, setelah pelonggaran sebagian sanksi Kementerian Keuangan AS (Treasury). Gedung Putih mengatakan Presiden Donald Trump akan memberi izin khusus (waiver) selama 60 hari untuk aturan Jones Act. Ini memungkinkan barang yang dikirim antar pelabuhan di AS memakai kapal yang tidak berbendera AS, untuk memperbaiki penyaluran bahan bakar di dalam negeri.

    Kekhawatiran Pasokan Mereda

    Kekhawatiran pasokan juga mereda setelah ekspor minyak mentah dari ladang Kirkuk di Irak ke pelabuhan Ceyhan di Turki kembali berjalan lewat pipa. Pengiriman kembali dimulai setelah ada kesepakatan antara pemerintah Irak di Baghdad dan Pemerintah Daerah Kurdistan awal pekan ini. Risiko geopolitik tetap menahan kekhawatiran harga karena serangan ke lokasi energi di Timur Tengah. Iran meluncurkan serangan rudal ke lokasi di Qatar yang menjadi tempat fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia setelah serangan Israel ke ladang gas South Pars milik Iran. (LNG adalah gas alam yang didinginkan sampai menjadi cair agar lebih mudah dikirim.) Presiden AS Donald Trump mengatakan ia sudah tahu sebelumnya tentang serangan Israel dan meminta semua pihak menahan diri agar tidak ada serangan lanjutan ke aset energi Iran. Arab Saudi mengatakan mereka menghentikan upaya serangan ke fasilitas gas, dan pejabat melaporkan empat warga terluka akibat serpihan ledakan (shrapnel) yang jatuh di Riyadh. Rudal yang dicegat di UEA dilaporkan mengarah ke fasilitas gas dan sebuah ladang minyak. Ini menambah kekhawatiran tentang risiko yang lebih luas terhadap infrastruktur energi (aset fisik seperti pipa, pelabuhan, kilang, ladang minyak dan gas).

    Fokus Strategi Volatilitas

    Kami melihat harga WTI melemah ke sekitar $97,80, yang terlihat tidak sejalan dengan meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Pelonggaran sebagian sanksi Venezuela dan izin 60 hari Jones Act menambah pasokan, tetapi kemungkinan hanya sementara. Ini menciptakan kondisi yang sangat tidak pasti, cocok untuk strategi yang mengambil keuntungan dari volatilitas (volatilitas adalah harga yang sering bergerak tajam naik-turun). Laporan terbaru Energy Information Administration (EIA)—lembaga pemerintah AS yang merilis data energi—menunjukkan penurunan stok minyak mentah yang tidak terduga sebesar 3,1 juta barel. Ini membuat situasi makin rumit dan menunjukkan permintaan dasar masih kuat. Penurunan stok ini berlawanan dengan sentimen bearish (bearish artinya pandangan harga cenderung turun) dari pengumuman tambahan pasokan. Bagi pelaku pasar, ini berarti pelemahan bisa cepat berhenti dan mendapat penopang kuat. Dengan adanya kekuatan yang saling berlawanan, berharap ada tren satu arah yang jelas itu berisiko. Jadi, pertimbangkan strategi yang untung dari volatilitas itu sendiri. Strategi opsi seperti long straddle pada kontrak bulan terdekat bisa efektif. (Opsi adalah instrumen yang memberi hak untuk membeli/menjual pada harga tertentu; long straddle berarti membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus pada harga yang sama agar bisa untung bila harga bergerak besar, naik atau turun. Kontrak bulan terdekat adalah kontrak yang paling dekat tanggal jatuh temponya.) Melihat kembali kejadian akhir 2025, serangan rudal Iran dan upaya serangan di Arab Saudi menciptakan premi risiko (tambahan harga karena pasar menilai ada risiko gangguan pasokan) yang sudah lama tidak terlihat. Kita ingat serangan Abqaiq 2019, yang membuat harga langsung melonjak 15% sebelum produksi pulih. Situasi sekarang terasa lebih rapuh, sehingga gangguan pasokan nyata bisa mendorong harga naik tajam. Kita juga perlu ragu terhadap dampak cepat dari pasokan Venezuela, seperti saat sanksi pertama kali dilonggarkan pada 2025. Laporan Februari 2026 menunjukkan produksi masih sulit menembus 900.000 barel per hari karena kerusakan infrastruktur selama bertahun-tahun. Ini berarti pasokan nyata yang masuk ke pasar bisa jauh lebih kecil daripada yang diberitakan. Izin khusus Jones Act selama 60 hari dari pemerintahan Trump pada 2025 memberi batas waktu yang jelas bagi pelaku pasar. Saat mendekati akhir masa izin itu dalam beberapa minggu ke depan, kita bisa memperkirakan distribusi bahan bakar di dalam negeri akan kembali lebih ketat. Ini bisa menekan harga naik, terutama untuk produk olahan (bahan bakar hasil kilang seperti bensin dan solar).

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code