Ketidakpastian Perdagangan Menekan Dolar
Komentar ini menambah ketidakpastian perdagangan dan menekan Dolar AS. Namun penurunan Dolar AS terbatas karena pasar memperkirakan Federal Reserve (bank sentral AS) akan mempertahankan suku bunga (biaya pinjaman) tetap untuk waktu lama, sehingga mendukung imbal hasil (yield, tingkat keuntungan) aset AS. Di Selandia Baru, Reserve Bank of New Zealand (bank sentral Selandia Baru) mempertahankan Official Cash Rate (OCR, suku bunga acuan) di 2,25% dan mengatakan kebijakan tetap akomodatif (masih mendukung pertumbuhan) karena inflasi bergerak menuju titik tengah kisaran targetnya. Gubernur Anna Breman mengatakan kondisi yang membaik seharusnya mendorong pertumbuhan tahun ini tanpa lonjakan tajam tekanan inflasi. Pasar uang (money markets, pasar instrumen jangka pendek) tidak memperkirakan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Ini bisa membatasi penguatan Dolar Selandia Baru lebih lanjut terhadap Dolar AS. Jika melihat kembali awal 2025, NZD/USD sempat terdorong sementara oleh isu politik di AS. Pidato Kenegaraan menciptakan cukup ketidakpastian perdagangan untuk melemahkan dolar sesaat. Ini membuka peluang singkat di sekitar level 0.5980.Menyiapkan Posisi Menghadapi Pergerakan Tajam Karena Berita
Pola berita politik yang memicu volatilitas (naik-turun harga yang cepat) jangka pendek adalah hal yang bisa terus dimanfaatkan. Kita melihat lonjakan volatilitas mata uang serupa selama sengketa dagang 2018–2019, ketika Cboe Volatility Index (VIX, indeks yang mengukur tingkat ketakutan/volatilitas pasar) sering melonjak di atas 20 saat ada berita tarif. Membeli opsi (options, kontrak hak untuk beli/jual pada harga tertentu) untuk bersiap terhadap pergerakan sementara ini tetap menjadi strategi yang layak. Namun, perbedaan kebijakan moneter (kebijakan suku bunga dan pengaturan uang) yang diperkirakan membatasi penguatan dolar Kiwi (sebutan untuk dolar Selandia Baru) tidak benar-benar terjadi. Jika tahun lalu fokus pada Fed yang hawkish (cenderung menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi), Reserve Bank of New Zealand justru terpaksa tetap agresif. Per bulan ini, OCR RBNZ berada di 5,50%, masih di atas suku bunga Fed saat ini 5,33%. Pendorong utama sekarang adalah perbedaan inflasi antara kedua negara. Inflasi Selandia Baru tetap tinggi, terakhir 4,7%, sementara angka CPI (Consumer Price Index, indeks harga konsumen/pengukur inflasi) AS terbaru mendekati 3,1%. Data ini menunjukkan RBNZ punya ruang lebih sempit untuk menurunkan suku bunga dibanding Fed, sehingga memberi dukungan dasar bagi NZD. Dengan ini, kita bisa mempertimbangkan membeli opsi call NZD/USD (hak untuk membeli pasangan NZD/USD pada harga tertentu) dengan jatuh tempo (expirations, masa berakhir kontrak) tiga sampai enam minggu ke depan. Ini memungkinkan kita memanfaatkan kekuatan dasar Kiwi karena suku bunga dan inflasi lebih tinggi. Ini juga memungkinkan kita memakai penurunan harga karena faktor politik sebagai titik masuk yang lebih murah untuk posisi bullish (posisi yang mengharapkan harga naik). Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.