Standard Chartered memperkirakan Bank Indonesia akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps pada kuartal II 2026, meski kenaikan harga minyak dan inflasi dapat menunda pelonggaran kebijakan.

    by VT Markets
    /
    Mar 11, 2026
    Ekonom Standard Chartered masih memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menurunkan suku bunga kebijakan sebesar 25 bps (basis poin = 0,01%; jadi 25 bps = 0,25%) pada Kuartal 2-2026, tetapi kenaikan harga minyak dan risiko inflasi yang lebih tinggi dapat menunda pelonggaran. Laporan tersebut mengaitkan perubahan risiko ini dengan konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga minyak mentah global. Batas anggaran pemerintah dapat memengaruhi respons, termasuk upaya menahan dampak kenaikan harga BBM ke harga-harga lain (pass-through = efek “terusan” kenaikan biaya ke harga jual) dengan mengurangi belanja non-subsidi (pengeluaran pemerintah di luar subsidi). Perkiraan resmi menyebut kenaikan harga minyak 10% menaikkan pendapatan negara 0,1% dari PDB (Produk Domestik Bruto = total nilai barang dan jasa yang dihasilkan), sementara subsidi energi dan kompensasi naik 0,3% dari PDB, sehingga defisit fiskal (selisih ketika belanja lebih besar dari pendapatan) melebar 0,2% dari PDB.

    Prospek Kebijakan Berubah

    Laporan tersebut menunjukkan peluang lebih besar bahwa BI akan menahan suku bunga (tidak mengubah) dalam beberapa bulan ke depan. Laporan itu juga mencatat bahwa sentimen risiko yang memburuk (risk sentiment = selera investor terhadap aset berisiko; saat memburuk investor cenderung menghindari risiko) dapat membuat BI lebih berhati-hati untuk menurunkan suku bunga karena potensi tekanan pada stabilitas nilai tukar (foreign exchange = pasar/urusan pertukaran mata uang asing). Perkiraan awal penurunan suku bunga BI sebesar 25 basis poin pada kuartal kedua kini diragukan. Perubahan ini terutama karena kenaikan harga minyak, dengan minyak Brent (patokan harga minyak global) melonjak melewati US$95 per barel pada awal Maret. Ini naik tajam dari rata-rata US$82 yang terlihat pada kuartal terakhir 2025. Biaya energi yang lebih tinggi langsung mendorong kekhawatiran inflasi (kenaikan harga umum). Angka inflasi terbaru bulan Februari tercatat 3,1%, sudah mendekati batas atas kisaran target BI. Tekanan ini membuat BI sulit membenarkan penurunan biaya pinjaman (borrowing costs = bunga/biaya untuk meminjam). Anggaran pemerintah juga tertekan, karena setiap kenaikan harga minyak 10% diperkirakan melebarkan defisit fiskal 0,2% dari PDB akibat biaya subsidi. Tekanan fiskal ini, ditambah sentimen risiko global yang meningkat, membuat perlindungan nilai tukar menjadi prioritas. Rupiah sudah melemah, diperdagangkan di dekat Rp15.850 per dolar AS, level yang tidak sering terlihat sejak periode investor menghindari risiko (risk-off = kondisi saat investor mengurangi aset berisiko) pada akhir 2025.

    Implikasi Perdagangan

    Karena itu, trader (pelaku jual-beli di pasar keuangan) sebaiknya mempertimbangkan menutup posisi yang bertaruh pada penurunan suku bunga Indonesia. Misalnya, interest rate swap “receive-fixed” (swap suku bunga = kontrak tukar arus bunga; receive-fixed berarti menerima bunga tetap dan membayar bunga mengambang) yang dibuat untuk mengantisipasi penurunan kini terlihat berisiko. Fokus baru sebaiknya pada strategi yang diuntungkan jika suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code