Penyesuaian Ulang Perkiraan Pemangkasan Suku Bunga
Peluang pemangkasan suku bunga BoE bulan ini berdasarkan perkiraan pasar (market-implied probability—kemungkinan menurut harga instrumen keuangan) turun dari sekitar 80% menjadi kira-kira 25%. Laporan itu mencatat bahwa pasar sterling (sterling—mata uang Pound Inggris/GBP) menyesuaikan harga lebih cepat daripada pasar lain. Rabobank menarik kembali prediksi sebelumnya soal dua kali pemangkasan suku bunga pada paruh pertama tahun ini. Ini dikaitkan dengan risiko inflasi bertahan di atas 2% jika guncangan energi (energy shock—kenaikan tajam harga energi) berlanjut, sekalipun pengangguran naik. Rabobank menambahkan bahwa Inggris punya ruang terbatas dari sisi moneter dan fiskal (monetary dan fiscal capacity—kemampuan lewat kebijakan suku bunga/uang dan anggaran pemerintah) untuk menahan dampaknya, sehingga ekonomi tetap rentan sampai pasar energi stabil. Jika ketegangan Timur Tengah mereda dan harga energi turun, Rabobank bisa memasukkan kembali pemangkasan suku bunga ke dalam perkiraan 2026.Dampak Perdagangan di Suku Bunga, Valuta Asing (FX), dan Saham
Perkiraan pemangkasan suku bunga BoE tahun ini terganggu oleh guncangan energi terbaru. Kita kini perlu mempertimbangkan menjual kontrak berjangka (futures—kontrak untuk membeli/menjual aset di masa depan dengan harga tertentu) SONIA, terutama untuk paruh kedua 2026, karena pasar menghapus pemangkasan yang sebelumnya sudah “terhitung” di harga (priced-in—sudah tercermin pada harga). Penyesuaian ini mencerminkan pandangan bahwa suku bunga kebijakan akan tetap ditahan sampai akhir tahun. Perubahan ini merupakan respons langsung terhadap minyak mentah Brent (Brent crude—patokan harga minyak dunia) yang menembus $95 per barel, naik tajam dari sekitar $80 di awal tahun. Dengan data inflasi terbaru Inggris dari Office for National Statistics (ONS—badan statistik resmi Inggris) menunjukkan CPI Januari (CPI—Indeks Harga Konsumen/ukuran inflasi) bertahan di 2,4%, lonjakan energi ini membuat kembalinya inflasi ke target 2% menjadi kecil kemungkinannya dalam waktu dekat. Akibatnya, Pound Inggris kemungkinan tetap mendapat dukungan terhadap mata uang seperti Euro, di mana bank sentral masih diperkirakan mempertimbangkan pelonggaran. Membeli opsi call (call options—hak untuk membeli pada harga tertentu) pada GBP/EUR memberi cara untuk mendapat keuntungan dari perbedaan arah kebijakan (policy divergence—kebijakan bank sentral yang tidak sejalan) dengan risiko yang terukur (defined risk—batas rugi yang jelas). Kita melihat pola serupa pada 2025 ketika selisih suku bunga (rate differentials—perbedaan tingkat suku bunga antarnegara) mendorong sterling menguat pada kuartal ketiga. Untuk pasar saham, kondisi suku bunga tinggi yang bertahan lama menjadi hambatan (headwind—faktor yang menekan) bagi indeks FTSE 250 yang lebih banyak berisi perusahaan berfokus domestik. Biaya pinjaman yang lebih tinggi dan pendapatan konsumen yang tertekan memberi pandangan bearish (bearish—cenderung memperkirakan harga turun), sehingga opsi put (put options—hak untuk menjual pada harga tertentu) pada indeks dapat menjadi lindung nilai (hedge—perlindungan dari risiko) atau posisi spekulatif. Ini makin relevan karena data terbaru menunjukkan pengangguran Inggris naik ke 4,5%, mengarah pada konsumen yang lebih lemah. Namun, seluruh situasi bergantung pada pasar energi yang mudah berubah (volatile—sering naik-turun tajam) akibat ketegangan geopolitik. Ketidakpastian besar ini menunjukkan volatilitas pasar (market volatility—besar-kecilnya naik turun harga) kemungkinan meningkat dalam beberapa minggu ke depan. Strategi long volatility (long volatility—strategi yang diuntungkan saat pergerakan harga membesar), seperti straddle opsi pada Pound (options straddle—membeli call dan put pada level dan jatuh tempo yang sama), bisa berkinerja baik jika harga energi naik lagi atau justru turun cepat.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.