TD Securities meyakini bahwa ketegangan dengan Iran dan kenaikan harga minyak kembali menghidupkan peran dolar AS sebagai aset safe haven.

    by VT Markets
    /
    Mar 9, 2026
    TD Securities mengatakan meningkatnya ketegangan yang terkait dengan Iran dan lonjakan harga minyak mengembalikan peran Dolar AS sebagai aset “safe haven” (aset yang biasanya dicari saat pasar panik karena dianggap lebih aman). Mereka menyebut AS adalah ekonomi yang relatif tertutup (tidak terlalu bergantung pada perdagangan luar negeri), mandiri energi (kebutuhan energinya banyak dipenuhi dari dalam negeri), dan terlindungi secara geografis (jauh dari pusat konflik). Catatan itu menyebut guncangan ini bisa membuat Dolar kembali berfungsi sebagai tempat berlindung, meski hal itu tidak terjadi di semua kejadian terbaru. Mereka menambahkan pasar kemungkinan terus memantau perkembangan terkait Iran, dengan fokus pada pasar energi (perdagangan minyak dan gas).

    Dinamika Safe Haven Dolar

    TD Securities mengatakan Federal Reserve (bank sentral AS, sering disebut The Fed) bisa tetap fokus pada risiko inflasi (kenaikan harga yang terus-menerus) dan menahan suku bunga (tidak menaikkan atau menurunkan). Mereka mengatakan bank sentral lain menghadapi kombinasi pertumbuhan yang lebih lemah dan inflasi yang lebih tinggi, yang bisa memperlebar perbedaan suku bunga (selisih tingkat bunga antarnegara) sehingga menguntungkan Dolar. Para analis mengatakan pasar awalnya mengalami “bull steepened” (imbal hasil obligasi jangka panjang naik lebih cepat daripada jangka pendek; sering dibaca sebagai ekspektasi pertumbuhan/inflasi lebih tinggi) setelah laporan non-farm payrolls AS yang lebih lemah (data bulanan tentang penambahan pekerjaan di luar sektor pertanian, indikator penting kondisi tenaga kerja). Mereka mengatakan pergerakan itu kemudian berbalik sepenuhnya ketika kenaikan harga minyak memicu lagi kekhawatiran inflasi, dan The Fed kemungkinan mengabaikan satu laporan tenaga kerja yang lemah jika risiko inflasi meningkat. Kami melihat Dolar AS kembali menjadi safe haven tahun lalu saat ketegangan di Timur Tengah memanas. Lonjakan harga minyak saat itu mengingatkan bahwa AS pada dasarnya mandiri energi, memberi Dolar keunggulan khusus. Kini, pada Maret 2026, dinamika yang sama membentuk strategi trading (strategi jual-beli untuk mengambil peluang pasar) untuk beberapa minggu ke depan. The Fed mempertahankan suku bunga acuannya (suku bunga utama yang menjadi patokan pasar) di 5,5%, fokus pada inflasi, yang menjadi kekhawatiran ketika harga minyak tetap tinggi di sekitar $98 per barel. Sebaliknya, Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB, bank sentral zona euro) baru-baru ini memangkas suku bunganya menjadi 3,75% untuk menghadapi perlambatan pertumbuhan, karena PMI manufaktur (Purchasing Managers’ Index, survei aktivitas bisnis; angka di atas 50 biasanya berarti ekspansi/pertumbuhan) sulit bertahan di atas garis 50. Selisih suku bunga yang makin lebar ini membuat memegang Dolar lebih menguntungkan, sehingga posisi long USD (strategi yang untung jika Dolar menguat) terhadap mata uang seperti euro masih menjadi pilihan utama.

    Implikasi Strategi Trading

    Kita perlu mengantisipasi pasar tetap gelisah, mirip dengan saat indeks volatilitas VIX (ukuran “tingkat ketakutan” pasar, menunjukkan besarnya naik-turun harga yang diharapkan) melonjak dari belasan ke atas 22 pada puncak ketidakpastian akhir 2025. Lingkungan seperti ini cocok bagi trader yang memakai opsi (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual pada harga tertentu) untuk mengelola risiko atau berspekulasi pada pergerakan harga di pasangan mata uang seperti USD/JPY. Membeli opsi call (opsi untuk membeli; biasanya untung jika harga naik) pada US Dollar Index/DXY (indeks kekuatan Dolar terhadap sekeranjang mata uang utama), yang sudah naik dari sekitar 104 ke atas 107 dalam enam bulan terakhir, memberi cara untuk mendapatkan keuntungan dari penguatan Dolar lebih lanjut dengan kerugian yang terbatas. Premi risiko geopolitik (tambahan harga karena risiko konflik) di pasar energi tetap menjadi faktor besar. Trader perlu mempertimbangkan bahwa eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah kemungkinan mendorong harga minyak mentah lebih tinggi, memperkuat sikap The Fed yang hawkish (cenderung ketat pada inflasi, misalnya mempertahankan/menaikkan suku bunga) dan makin menguntungkan Dolar. Ini membuat derivatif (produk turunan yang nilainya mengikuti aset lain) yang terkait pasangan mata uang negara pengimpor minyak besar, seperti Yen Jepang (USD/JPY), sangat peka terhadap arus berita (perubahan harga karena berita terbaru).

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code