USD/JPY Naik Mendekati 159,15 di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Saat Pedagang Menanti Rilis Data CPI AS Mendatang

    by VT Markets
    /
    Apr 10, 2026

    USD/JPY naik ke sekitar 159,15 pada perdagangan Asia Jumat, dengan Dolar AS ditopang kekhawatiran tentang Selat Hormuz dan kawasan Timur Tengah secara lebih luas. Pasar juga memantau rilis inflasi AS Maret melalui laporan CPI (Consumer Price Index, indeks harga konsumen) yang dijadwalkan keluar Jumat.

    Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa bahwa ia setuju “menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu” jika Iran membuka kembali Selat Hormuz. Pada Jumat ia menuduh Iran melakukan pekerjaan yang “sangat buruk” dalam pengelolaan pengiriman minyak melalui jalur laut itu dan mengatakan ia bisa memerintahkan serangan besar-besaran bila syarat gencatan senjata tidak dipenuhi.

    Ketegangan Timur Tengah dan Dukungan untuk Dolar

    Wakil Presiden AS JD Vance serta utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan menggelar pembicaraan di Pakistan pada Sabtu terkait kemungkinan kesepakatan jangka panjang dengan Iran. Di Jepang, Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan pemerintah mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak tambahan setara sekitar 20 hari mulai awal Mei untuk menstabilkan pasokan di tengah gangguan pengiriman.

    Pasar memperhitungkan kemungkinan Bank of Japan (Bank Sentral Jepang/BoJ) menaikkan suku bunga pada rapat April, yang bisa mendukung yen. Tomohisa Fujiki dari Citi Research menilai peluang langkah itu hingga 70%.

    Yen dipengaruhi kinerja ekonomi Jepang, kebijakan BoJ, dan selisih imbal hasil obligasi (yield, tingkat keuntungan obligasi) AS dan Jepang. Nilainya juga dapat berubah mengikuti selera risiko pasar (risk appetite, minat investor mengambil risiko).

    Dengan USD/JPY menembus 159, terlihat perpindahan dana ke Dolar AS (flight to quality, investor mencari aset yang dianggap aman) karena kekhawatiran geopolitik terkait Selat Hormuz. Ketegangan ini mendorong harga minyak naik, dengan kontrak berjangka Brent (futures, kontrak yang diperdagangkan untuk pengiriman di masa depan) melonjak lebih dari 12% dalam dua pekan terakhir hingga mendekati US$105 per barel, sehingga daya tarik dolar ikut menguat. Pelaku pasar perlu waspada karena pergerakan ini banyak dipicu berita, bukan semata faktor dasar ekonomi (fundamental).

    Fokus terdekat tertuju pada laporan CPI AS yang rilis hari ini, yang bisa menjadi pemicu utama pergerakan (catalyst, faktor pendorong). Konsensus pasar memperkirakan inflasi inti (core inflation, inflasi tanpa komponen yang bergejolak seperti energi dan pangan) sedikit mendingin. Jika terkonfirmasi, dolar bisa melemah dan pasangan ini berpotensi turun tajam dari level tinggi. Namun bila inflasi justru lebih tinggi dari perkiraan, pasar kemungkinan menambah taruhan bahwa The Fed akan bersikap hawkish (cenderung menaikkan suku bunga/lebih ketat), sehingga USD/JPY bisa terdorong menuju 160.

    Kebijakan BoJ dan Selisih Suku Bunga

    Ada peluang besar BoJ menaikkan suku bunga pada rapat kebijakan April, yang dapat menahan pelemahan yen. Yen sebelumnya menguat setelah BoJ meninggalkan kebijakan suku bunga negatif pada Maret 2024. Kenaikan kedua dapat mempercepat penguatan yen dan memicu koreksi turun cepat pada USD/JPY.

    Potensi langkah BoJ ini membuat selisih suku bunga/imbal hasil antara obligasi AS dan Jepang menjadi ukuran utama yang perlu dipantau. Selisih (spread, jarak perbedaan) antara US Treasury 10 tahun (obligasi pemerintah AS) dan obligasi Jepang 10 tahun saat ini sekitar 380 basis poin (basis point/bps, 1 bps = 0,01%). Level seperti ini secara historis mendukung dolar yang kuat. Kenaikan suku bunga BoJ akan mulai memperkecil selisih tersebut, sehingga strategi yang bertaruh USD/JPY turun dalam beberapa pekan ke depan, seperti put option (opsi jual, hak menjual pada harga tertentu), menjadi lebih menarik.

    Dengan tarik-menarik geopolitik dan kebijakan moneter (monetary policy, kebijakan suku bunga dan likuiditas), tema utama adalah volatilitas (volatility, besarnya naik-turun harga). Indeks Volatilitas USD/JPY milik Cboe (JYVIX, ukuran ekspektasi volatilitas dari harga opsi) sudah naik ke level tertinggi sejak tekanan pasar pada akhir 2025. Kondisi ini mengindikasikan strategi mengejar volatilitas (long volatility, mencari untung dari volatilitas yang naik), seperti membeli straddle atau strangle (strategi opsi membeli call dan put; straddle pada strike sama, strangle pada strike berbeda), bisa efektif bagi trader yang memperkirakan pergerakan besar tetapi belum yakin arahnya.

    Pembicaraan diplomatik di Pakistan akhir pekan ini menjadi faktor tak terduga (wildcard, faktor yang sulit diprediksi). Jika terjadi kesepakatan meredakan ketegangan (de-escalation, mengurangi eskalasi konflik) dengan Iran, harga minyak berpotensi turun tajam dan premi risiko dolar (risk premium, tambahan penguatan karena faktor ketidakpastian) bisa memudar, sehingga USD/JPY turun. Sebaliknya, jika negosiasi gagal, status dolar sebagai aset aman (safe haven, aset yang dicari saat risiko tinggi) dapat menguat dan mendorong USD/JPY lebih tinggi.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code