Fokus pada Dukungan Teknikal
Penurunan tertahan di dekat 155,75, titik di mana simple moving average (SMA: rata-rata pergerakan sederhana, yaitu rata-rata harga dalam periode tertentu) 200-periode pada grafik 4 jam bertemu dengan Fibonacci retracement 23,6% (Fibonacci retracement: alat untuk memperkirakan area dukungan/penahanan berdasarkan rasio tertentu) dari pergerakan 152,34–156,85. Jika level ini ditembus jelas ke bawah, penurunan lanjutan bisa terbuka. Level dukungan berikutnya adalah Fibonacci retracement 38,2% di 155,15, lalu level 50,0% di 154,60. Jika turun lebih jauh, retracement 61,8% di 154,06 bisa menjadi target berikutnya. RSI (Relative Strength Index: indikator untuk mengukur kekuatan momentum naik/turun) berada di sekitar 55 setelah gagal bertahan dekat 70. Garis MACD (Moving Average Convergence Divergence: indikator untuk melihat arah dan kekuatan momentum) berada sedikit di atas garis sinyal dekat nol, menandakan momentum arah masih terbatas. BoJ menargetkan inflasi sekitar 2%. BoJ memakai QQE (Quantitative and Qualitative Easing: pelonggaran besar-besaran lewat pembelian aset dan langkah lain untuk mendorong ekonomi) sejak 2013, menambahkan suku bunga negatif dan yield control (pengendalian imbal hasil: menjaga imbal hasil obligasi di kisaran tertentu) pada 2016, lalu menaikkan suku bunga pada Maret 2024.Perubahan Latar Makro
Pada 2025, pasangan USD/JPY sempat menguji level 155,75, yang saat itu merupakan zona dukungan penting. Kini, kondisi berubah karena selisih suku bunga (interest rate differential: perbedaan tingkat suku bunga antara dua negara) antara AS dan Jepang menyempit tajam. Dinamika pasar berubah setelah BoJ melanjutkan normalisasi kebijakan (policy normalization: mengurangi kebijakan super-longgar dan kembali ke kondisi lebih “normal”, misalnya menaikkan suku bunga). Langkah BoJ, yang dimulai dari kenaikan suku bunga pertama pada Maret 2024, menjadi pendorong utama. Sejak itu ada beberapa penyesuaian kecil sebagai respons terhadap inflasi domestik yang tetap di atas target 2% selama sebagian besar 18 bulan terakhir. Per Januari 2026, inflasi inti Jepang (core inflation: inflasi yang biasanya mengecualikan komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan) berada di 2,3%, sehingga mendukung sikap lebih ketat bank sentral. Di sisi lain, Federal Reserve AS (The Fed: bank sentral AS) secara bertahap melonggarkan kebijakan karena inflasi mereda. Inflasi inti AS kini mendekati 2,5%, turun besar dibanding 2024–2025, sehingga The Fed bisa memangkas suku bunga acuan (benchmark rate: suku bunga utama yang menjadi rujukan) beberapa kali. Perbedaan kebijakan ini kini berbalik, memberi tekanan turun yang berkelanjutan pada dolar terhadap yen. Bagi trader, kondisi ini menunjukkan bahwa bertaruh pada kenaikan besar USD/JPY berisiko. Strategi seperti membeli call JPY (opsi call: kontrak yang memberi hak membeli; call JPY berarti posisi yang diuntungkan jika Yen menguat) atau put USD (opsi put: kontrak yang memberi hak menjual; put USD berarti posisi yang diuntungkan jika Dolar melemah) dapat dipertimbangkan untuk mengantisipasi penguatan Yen. Menjual call spread USD/JPY yang out-of-the-money (out-of-the-money: harga opsi berada di luar level yang menguntungkan saat ini) juga bisa menjadi cara untuk memperoleh pendapatan (income: premi dari penjualan opsi) sambil mempertahankan pandangan bahwa potensi kenaikan pasangan ini kini terbatas. Level teknikal utama yang dipantau adalah moving average 200-hari (rata-rata pergerakan 200 hari: ukuran tren jangka menengah–panjang), saat ini dekat 144,50. Jika ditembus tegas ke bawah, ini bisa menandakan gelombang jual lain dan mengarah ke level psikologis 140,00 (level psikologis: angka bulat yang sering jadi perhatian pelaku pasar). Peluang rebound kuat dinilai terbatas selama cerita dasar penyempitan selisih suku bunga tetap sama.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.