Pelemahan Yen dan Guncangan Harga Minyak
Sejak perang dimulai, yen Jepang tertinggal dibanding mata uang utama lain dan turun hampir 1% terhadap dolar AS. Ketergantungan Jepang pada minyak impor berarti biaya energi yang lebih tinggi biasanya menekan yen. Wakil Gubernur BoJ Ryozo Himino mengatakan pada hari Senin bahwa bank dapat menaikkan suku bunga menuju level netral (tingkat suku bunga yang tidak mendorong atau menahan pertumbuhan ekonomi) meskipun inflasi utama (headline inflation, yaitu inflasi total yang memasukkan semua komponen termasuk energi) turun di bawah 2%. Ia tidak menyebutkan kapan biaya pinjaman (bunga pinjaman) akan dinaikkan. Tahun lalu, kita melihat bagaimana konflik Timur Tengah yang makin meningkat dan lonjakan harga minyak setelahnya membuat Bank of Japan (BoJ) menunda rencana kenaikan suku bunga. Kini pada Maret 2026, hubungan yang sama antara guncangan dari luar dan inflasi dalam negeri menciptakan peluang yang jelas. Trader sebaiknya fokus pada volatilitas sebagai tema utama, menggunakan opsi (kontrak yang memberi hak untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) untuk memanfaatkan ketidakpastian soal langkah BoJ berikutnya. Pelemahan yen yang terlihat pada 2025 kini makin menetap, dengan pasangan USD/JPY (nilai dolar AS terhadap yen) berada kokoh di atas level 155. Dengan inflasi inti Jepang bertahan di atas target 2% selama lebih dari 20 bulan berturut-turut, tekanan untuk bertindak sangat besar. Ini menciptakan hasil yang “dua kemungkinan” bagi yen, sehingga strategi opsi jangka panjang seperti straddle (membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus pada harga yang sama) atau strangle (mirip straddle tetapi dengan harga yang berbeda) menarik untuk menangkap pergerakan besar ke salah satu arah.Penempatan Posisi Menjelang Kebijakan BoJ
Berbeda dari tahun lalu, alasan dalam negeri untuk menaikkan suku bunga kini kuat, karena negosiasi upah musim semi “shunto” (perundingan upah tahunan di Jepang) terbaru mengarah pada kenaikan gaji di atas 4%, yang tertinggi dalam tiga dekade. Data upah yang kuat ini membuat produk turunan suku bunga (instrumen keuangan yang nilainya mengikuti pergerakan suku bunga), seperti kontrak berjangka obligasi Pemerintah Jepang/JGB (Japanese Government Bonds, surat utang pemerintah), menjadi cara langsung untuk berspekulasi soal perubahan kebijakan. Trader dapat mempertimbangkan menjual kontrak berjangka JGB (short, yaitu mengambil posisi untung jika harga turun) untuk bersiap pada kenaikan imbal hasil (yield, yaitu tingkat hasil/keuntungan obligasi) jika BoJ akhirnya meninggalkan kebijakan suku bunga negatif. Walaupun konflik yang intens telah mereda, harga minyak Brent (patokan harga minyak global) menemukan level dasar baru sekitar $85 per barel, yang terus membebani ekonomi Jepang yang banyak bergantung pada impor. Tekanan biaya yang bertahan ini masih bisa menjadi alasan bagi BoJ untuk menunda kenaikan suku bunga, mirip dengan alasan mereka pada 2025. Karena itu, memantau kontrak berjangka minyak (futures, yaitu kontrak untuk membeli/menjual di masa depan pada harga yang disepakati) sangat penting, karena lonjakan baru bisa menjadi sinyal peluang bagi mereka yang mengambil posisi untuk pelemahan yen berlanjut dan suku bunga tetap rendah.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.