USD/JPY turun dari mendekati 160 ke sedikit di bawah 157. Pergerakan ini diduga terkait intervensi pasar valuta asing (aksi pemerintah/otoritas membeli yen atau menjual dolar untuk memengaruhi kurs) oleh Jepang pada Kamis malam waktu Asia. Perkiraan berdasarkan data simpanan rekening giro (current account deposits) Bank of Japan—dana bank-bank yang tersimpan di bank sentral—serta perubahan posisi pasar uang (money market) menempatkan nilai operasi sekitar JPY5–6 triliun, atau kira-kira US$32–38 miliar.
Skala perkiraan ini mirip dengan intervensi pada April 2024 dan Oktober 2022. Pergerakan USD/JPY berikutnya disebut akan sangat bergantung pada arah kebijakan, termasuk apakah Federal Reserve menjadi lebih “dovish” (lebih longgar: cenderung menurunkan suku bunga) dan apakah Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga.
Intervention Scale And Market Impact
Skenario dasar MUFG mengasumsikan BoJ menaikkan suku bunga dua kali, pada Juni dan Desember tahun ini. Dengan asumsi itu, dan meredanya ketegangan di Selat Hormuz, USD/JPY diperkirakan turun perlahan menuju 152.
Kami melihat pola yang sama pada USD/JPY: pasangan ini kembali menguji area akhir 150-an, sehingga risiko intervensi dari otoritas Jepang meningkat. Jika melihat kejadian 2025, pejabat disebut turun tangan dengan perkiraan JPY 5–6 triliun ketika kurs mendekati 160. Langkah ini mencerminkan aksi “pertahanan” yen dalam skala besar yang juga terjadi pada Oktober 2022 dan April 2024.
Ancaman intervensi tidak boleh diremehkan karena dapat memicu penurunan tajam dan mendadak pada pasangan mata uang. Data Kementerian Keuangan Jepang beberapa tahun terakhir menunjukkan kesiapan menggelontorkan dana besar; dalam satu periode pada 2024, total intervensi melampaui JPY 9 triliun. Bagi pelaku pasar derivatif (produk turunan seperti opsi dan kontrak berjangka yang nilainya mengikuti aset acuan), biaya perlindungan dari risiko penurunan cepat USD/JPY melalui opsi menjadi faktor penting untuk dipantau.
Policy Divergence And Trade Positioning
Pendorong utama tetap selisih suku bunga yang sangat lebar antara Amerika Serikat dan Jepang. Dengan Federal Reserve menahan suku bunga sekitar 5,50% dan suku bunga BoJ dekat 0,1%, memegang dolar dibanding yen tetap menguntungkan lewat carry trade (strategi meminjam mata uang bersuku bunga rendah lalu membeli mata uang bersuku bunga lebih tinggi untuk meraih selisih bunga). Dukungan ini membuat penurunan besar dan bertahan lama pada pasangan ini sulit terjadi tanpa perubahan kebijakan.
Namun, kami menilai BoJ makin dekat ke kenaikan suku bunga lanjutan, seperti yang diperkirakan sejak 2025. Inflasi inti Jepang (core inflation: inflasi yang biasanya mengecualikan komponen yang sangat bergejolak seperti pangan dan energi) bertahan di atas target 2% BoJ selama lebih dari setahun, saat ini 2,2%, sehingga tekanan bagi pembuat kebijakan meningkat. Kondisi ini membuka peluang bahwa kenaikan suku bunga tak terduga dapat menjadi pemicu kuat penguatan yen.
Dengan dinamika ini, pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli put option pada USD/JPY. Put option (opsi jual: hak, bukan kewajiban, untuk menjual pada harga tertentu) memberi cara dengan risiko terbatas untuk mendapat keuntungan jika USD/JPY turun tajam karena intervensi menuju level 152. Posisi ini diuntungkan dari naiknya volatilitas (naik-turunnya harga yang lebih besar) yang biasanya muncul saat ancaman intervensi meningkat, tanpa risiko kerugian tak terbatas jika USD/JPY terus naik perlahan.
Di sisi lain, inflasi AS yang masih tinggi—baru-baru ini tercatat naik 3,1% secara tahunan—menunjukkan Federal Reserve tidak tergesa menurunkan suku bunga. Ini menguatkan pandangan bahwa penurunan USD/JPY kemungkinan berlangsung bertahap dan tidak mudah. Karena itu, kejatuhan mendadak lebih kecil kemungkinannya dibanding rangkaian penurunan tajam namun terbatas setelah aksi resmi.