**Commerzbank menyebutkan bahwa ketegangan di Timur Tengah dapat mendorong penguatan Dolar, sehingga menekan EUR/USD karena menguatnya minyak AS.**

Commerzbank mengatakan ketegangan yang meningkat di Timur Tengah menaikkan risiko guncangan pasokan minyak (gangguan besar pada ketersediaan minyak), yang bisa menekan EUR/USD. Bank itu menyoroti peran dolar AS sebagai mata uang cadangan (mata uang utama yang banyak disimpan bank sentral dan dipakai dalam perdagangan dunia), AS sebagai pengekspor minyak bersih (menjual lebih banyak minyak daripada membeli), dan kawasan euro sebagai pengimpor minyak bersih (membeli lebih banyak daripada menjual). Commerzbank mengatakan kenaikan harga minyak yang tajam dan lama akan memengaruhi ekonomi global. Harga minyak yang lebih tinggi bisa memperbaiki terms of trade AS (rasio harga ekspor dibanding impor; makin baik berarti daya beli hasil ekspornya naik), yang dapat mengangkat nilai tukar dolar AS riil efektif (nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang setelah memperhitungkan inflasi/perbedaan harga).

Ketahanan AS Versus Kerentanan Kawasan Euro

Commerzbank mengatakan pasar mungkin memperkirakan ekonomi AS lebih mampu menghadapi guncangan minyak dibanding kawasan euro. Bank itu menambahkan bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) bisa merespons inflasi akibat minyak dengan kenaikan suku bunga yang lebih besar dibanding ECB/Bank Sentral Eropa, yang mungkin menghadapi pertumbuhan yang lebih lemah. Commerzbank mengatakan ada risiko AS dan sekutunya terseret ke perang yang lebih lama. Bank itu mencatat bahwa penyumbatan Selat Hormuz yang berkepanjangan (jalur pelayaran penting untuk pengiriman minyak) bisa memicu guncangan harga minyak yang bertahan lama, mirip seperti setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Commerzbank menyebut Brent (patokan harga minyak dunia) naik dari sekitar USD 100 per barel menjadi hampir USD 140 saat itu. Bank itu juga menyebut EUR/USD turun dari sekitar 1,13 pada Februari ke serendah 0,95 pada September, sebelum harga minyak mulai turun sejak pertengahan tahun. Dengan konflik yang meningkat di Timur Tengah, risiko guncangan pasokan minyak makin besar, yang mendukung dolar lebih kuat terhadap euro. Brent sudah melonjak melewati $115 per barel dalam dua minggu terakhir, sehingga prospek EUR/USD menjadi jelas negatif. Pasar makin memasukkan risiko gangguan pasokan energi global yang berkepanjangan ke dalam harga.

Implikasi Trading untuk EUR/USD

Karena Amerika Serikat adalah pengekspor minyak bersih, kenaikan harga minyak memperbaiki terms of trade (rasio harga ekspor dibanding impor) dan menguatkan nilai dolar riil efektif (nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang setelah memperhitungkan inflasi). Sebaliknya, kawasan euro adalah pengimpor energi bersih, artinya biaya minyak yang lebih tinggi melemahkan ekonomi dan mata uangnya. Data akhir 2025 dari Eurostat (badan statistik Uni Eropa) mengonfirmasi ketergantungan impor energi kawasan itu tetap di atas 60%, menegaskan kerentanan ini. Guncangan harga minyak menjadi beban bagi ekonomi mana pun, tetapi Commerzbank menilai ekonomi AS akan lebih tahan dibanding kawasan euro. Pandangan ini didukung data terbaru yang menunjukkan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto/ukuran total output ekonomi) AS yang kuat pada kuartal terakhir 2025, berbanding terbalik dengan PMI manufaktur (survei aktivitas sektor pabrik; angka lebih rendah berarti aktivitas melambat) di zona euro yang melambat pada Februari. Perbedaan ini menunjukkan AS lebih mampu menyerap dampaknya. Dinamika ini berarti Federal Reserve bisa merespons inflasi akibat minyak dengan kenaikan suku bunga yang lebih agresif dibanding Bank Sentral Eropa. ECB harus lebih hati-hati, menyeimbangkan inflasi dengan ekonomi yang melemah. Komentar terbaru pejabat The Fed tetap bernada hawkish (cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menahan inflasi), sementara anggota ECB makin khawatir tentang perlambatan industri. Konflik yang berkepanjangan bisa menutup jalur pelayaran utama untuk waktu lama, sehingga memicu guncangan harga minyak yang berkepanjangan. Dalam situasi ini, trader dapat mempertimbangkan posisi untuk EUR/USD yang lebih lemah. Membeli opsi put pada euro (kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu; biasanya untung jika harga turun) atau membuat bear put spread (strategi opsi: membeli put dan menjual put lain pada strike lebih rendah untuk menekan biaya, dengan potensi untung jika harga turun) bisa menjadi strategi untuk memanfaatkan potensi penurunan dalam beberapa minggu ke depan.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Dividend Adjustment Notice – Mar 02 ,2026

Dear Client,

Please note that the dividends of the following products will be adjusted accordingly. Index dividends will be executed separately through a balance statement directly to your trading account, and the comment will be in the following format “Div & Product Name & Net Volume”.

Please refer to the table below for more details:

Dividend Adjustment Notice

The above data is for reference only, please refer to the MT4/MT5 software for specific data.

If you’d like more information, please don’t hesitate to contact [email protected].

Riset UOB menyebut Brent melonjak setelah serangan AS–Israel terhadap Iran, sementara produksi OPEC+ meningkat, menguji selera pasar

Minyak mentah Brent naik setelah serangan AS-Israel ke Iran, yang memicu perang baru di Timur Tengah. Brent diperdagangkan di atas USD 80/barel (bbl) di Asia dan dibandingkan dengan puncak USD 80 pada Juni lalu. Pada Minggu (1 Mar), Brent melonjak 10% ke US$80/bbl. Setelah itu, saat perdagangan Asia dibuka, harganya naik 12% dan dibuka di atas US$81.

Lonjakan Harga Brent di Awal Perdagangan Asia

Pada pukul 7:30 pagi waktu SGT (Waktu Singapura), Brent berada di US$79,39, naik US$6,52 atau 8,9%. Beberapa analis mengatakan harganya bisa naik hingga US$100 setelah serangan tersebut. Dalam rapat OPEC+ pada Minggu (1 Mar), kelompok yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia memutuskan menaikkan produksi sebesar 206.000 barel pada April. Ini lebih cepat dibanding kenaikan 137.000 barel pada Desember. (OPEC+ adalah kelompok negara penghasil minyak, termasuk anggota OPEC dan sekutunya, yang mengatur produksi untuk memengaruhi harga.) Data tersebut mengaitkan kenaikan yang bertahan di atas level tertinggi USD 80/bbl pada Juni lalu dengan meningkatnya penghindaran risiko (risk aversion: sikap investor yang mengurangi aset berisiko dan memilih aset yang lebih aman). Data itu juga menghubungkannya dengan melemahnya saham Asia dan mata uang regional. Artikel ini menyebut dibuat dengan bantuan alat Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI: sistem komputer yang membantu membuat atau mengolah teks) dan ditinjau oleh editor.

Gejolak Pasar dan Implikasi Perdagangan

Dengan Brent melonjak lebih dari 10% akibat serangan militer di Iran, gejolak pasar meningkat tajam. Indeks Volatilitas Minyak Mentah CBOE (OVX) kemungkinan naik di atas 40%, level tertinggi sejak gejolak pasar awal 2024. (Volatilitas berarti besarnya naik-turun harga. OVX mengukur perkiraan gejolak harga minyak dari pasar opsi.) Ini menandakan biaya opsi meningkat (premi opsi: harga yang dibayar untuk membeli kontrak opsi), sehingga bisa menjadi waktu yang baik untuk membeli strategi straddle atau strangle (strategi opsi untuk mencari untung dari pergerakan harga yang besar, baik naik maupun turun). Eskalasi langsung di Timur Tengah menjadi ancaman nyata bagi pasokan, sehingga posisi bullish pada minyak (bullish: strategi yang bertaruh harga akan naik) tetap menarik meski harga masuk sudah tinggi. Kemungkinan trader akan membeli opsi call Mei dan Juni pada kontrak berjangka Brent dan WTI untuk bertaruh harga naik menuju $100/bbl. (Opsi call adalah hak untuk membeli pada harga tertentu; kontrak berjangka/futures adalah kontrak membeli/menjual di masa depan; WTI adalah jenis patokan harga minyak AS.) Situasi ini mirip dengan serangan 2019 pada fasilitas minyak Saudi yang memicu lonjakan tajam sementara, dan laporan awal menunjukkan premi asuransi pengiriman lewat Selat Hormuz sudah berlipat dua dalam semalam. (Selat Hormuz adalah jalur penting pengiriman minyak dunia.) Guncangan minyak ini adalah sinyal “risk-off” klasik bagi pasar luas (risk-off: investor mengurangi risiko dan mencari aset aman), yang kemungkinan menekan ekonomi Asia yang bergantung pada impor energi. Kita bisa mempertimbangkan posisi short pada indeks saham Asia (short: strategi yang untung jika harga turun) dan posisi long pada dolar AS terhadap mata uang seperti yen Jepang dan won Korea Selatan (long: strategi yang untung jika harga naik). Perpindahan ke aset aman sudah terlihat, dengan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS 10 tahun turun pagi ini, reaksi umum saat ada tekanan geopolitik. (Yield adalah tingkat imbal hasil; obligasi pemerintah AS sering dianggap aset aman.) Namun, kenaikan produksi kecil OPEC+ sebesar 206.000 barel per hari memberi sinyal produsen mungkin ingin membatasi kenaikan harga agar tidak menghancurkan permintaan (demand destruction: saat harga terlalu tinggi sehingga konsumen mengurangi pembelian). Dengan data manufaktur global yang lemah di akhir 2025, periode harga minyak di atas $85/bbl bisa mendorong ekonomi yang rapuh masuk resesi (resesi: penurunan aktivitas ekonomi yang cukup lama). Ini membuat strategi jual saat harga menguat, atau membeli opsi put, bisa menjadi pilihan yang berlawanan arus bagi yang percaya kepanikan geopolitik akan mereda. (Opsi put adalah hak untuk menjual pada harga tertentu; strategi berlawanan arus/contrarian berarti mengambil posisi kebalikan dari mayoritas pasar.)

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

USD/CAD diperdagangkan di sekitar 1,3660 di atas 1,3650, terdorong oleh permintaan dolar sebagai aset safe haven di tengah ketegangan di Timur Tengah.

USD/CAD diperdagangkan dekat 1,3660 pada jam perdagangan Asia hari Senin, bertahan di atas 1,3650 setelah penurunan kecil pada sesi sebelumnya. Pergerakan ini terjadi karena Dolar AS naik akibat permintaan aset aman (safe-haven: aset yang biasanya dicari saat krisis untuk mengurangi risiko), seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. ISM Manufacturing PMI (survei aktivitas sektor manufaktur AS) akan dirilis hari ini. Kenaikan lanjutan USD/CAD bisa terbatas jika Dolar Kanada mendapat dukungan dari harga minyak yang lebih tinggi, karena Kanada adalah pengekspor minyak terbesar ke Amerika Serikat. West Texas Intermediate/WTI (patokan harga minyak mentah AS) tidak stabil dan diperdagangkan sekitar $71,50.

Strait Of Hormuz Supply Shock

WTI dibuka dengan gap naik (harga pembukaan jauh di atas harga penutupan sebelumnya) setelah Angkatan Laut IRGC Iran (IRGC: Garda Revolusi Iran, pasukan elit keamanan) mengumumkan penghentian pengiriman melalui Selat Hormuz (jalur laut penting untuk pengiriman minyak). Lebih dari 20% minyak dunia melewati Selat Hormuz, dan Iran adalah produsen terbesar keempat di OPEC (Organisasi Negara Pengekspor Minyak). Israel melakukan serangan besar di Beirut setelah Hezbollah menembakkan rudal melintasi perbatasan pada Senin dini hari, setelah serangan AS–Israel ke Iran pada akhir pekan dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Militer Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi untuk beberapa kota di Lebanon. Presiden AS Donald Trump mengatakan ratusan target diserang, termasuk fasilitas Garda Revolusi, sistem pertahanan udara, sembilan kapal, dan infrastruktur angkatan laut. Gubernur The Fed Mi Lan meminta pemangkasan suku bunga secepat mungkin, dengan alasan tekanan harga inti (underlying price pressures: tren inflasi dasar yang lebih stabil, biasanya tidak memasukkan komponen yang sangat bergejolak) yang tetap rendah dan distorsi pengukuran (measurement distortions: data terlihat “berubah” karena cara perhitungan/komponen data, bukan karena kondisi nyata). Dengan konflik yang makin meningkat dan kemungkinan penutupan Selat Hormuz, pasar berpotensi mengalami volatilitas ekstrem (volatilitas: tingkat cepat-lambat dan besar-kecilnya perubahan harga). Indeks Volatilitas CBOE (VIX: indikator “ketakutan” pasar yang mengukur perkiraan naik-turunnya pasar saham) yang sebelumnya bertahan di sekitar 15 kemungkinan melonjak melewati 30, level yang belum bertahan sejak gejolak perbankan 2023. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi (options: kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu), seperti straddle atau strangle (strategi opsi untuk mengambil untung dari pergerakan besar ke dua arah), pada indeks utama untuk memanfaatkan lonjakan naik-turun harga yang diperkirakan. Lonjakan awal WTI ke $71,50 kemungkinan baru permulaan penyesuaian harga besar. Secara historis, guncangan pasokan sebesar ini mendorong harga naik tajam; misalnya saat Perang Teluk 1990, harga minyak lebih dari dua kali lipat dalam beberapa bulan. Membeli call out-of-the-money (call: hak membeli; out-of-the-money: harga patokan opsi masih jauh dari harga pasar sehingga lebih murah namun berisiko tidak bernilai saat jatuh tempo) pada kontrak berjangka WTI dan Brent (futures: kontrak untuk membeli/menjual di masa depan; Brent: patokan harga minyak global) untuk beberapa bulan ke depan adalah cara langsung untuk memanfaatkan potensi kenaikan menuju dan mungkin melewati $100 per barel.

Usd Cad Options Over Spot

Untuk pasangan USD/CAD, situasinya menciptakan tarik-menarik yang sulit, sehingga transaksi spot (spot: beli/jual langsung pada harga saat ini) yang mengandalkan arah tertentu menjadi sangat berisiko. Dolar AS dapat menarik pembelian kuat sebagai aset aman, tetapi lonjakan harga minyak memberi dorongan besar bagi Dolar Kanada. Karena itu, fokus pada strategi opsi yang diuntungkan dari pergerakan besar ke salah satu arah lebih masuk akal, karena belum jelas mata uang mana yang akan lebih dominan. Sikap The Fed menambah ketidakpastian, mengingatkan pada tekanan “stagflasi” tahun 1970-an (stagflasi: inflasi tinggi saat ekonomi melemah). Seruan pemangkasan suku bunga bertabrakan dengan guncangan inflasi dari potensi krisis energi, yang bisa mendorong CPI utama (headline CPI: inflasi total yang terlihat di berita) jauh di atas laju tahunan 2,8% yang dilaporkan untuk Januari 2026. Konflik ini mengisyaratkan volatilitas besar pada futures suku bunga (kontrak yang mencerminkan perkiraan suku bunga di masa depan), sehingga opsi pada kontrak SOFR (SOFR: suku bunga acuan pendanaan semalam di AS) menjadi cara menarik untuk memperdagangkan dilema kebijakan The Fed yang akan muncul. Krisis geopolitik dan energi ini menjadi ancaman besar bagi pertumbuhan global dan laba perusahaan. Pada guncangan minyak sebelumnya, seperti 2008, kondisi ini sering terjadi sebelum resesi (perlambatan ekonomi yang luas dan berkepanjangan). Karena itu, membeli opsi put (put: hak menjual, biasanya untung saat harga turun) pada indeks saham seperti S&P 500 dapat menjadi lindung nilai (hedge: perlindungan untuk mengurangi risiko) yang masuk akal terhadap kemungkinan penurunan pasar saham.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Wakil Gubernur BoJ Himino mengatakan suku bunga dapat naik menuju tingkat netral jika inflasi dasar meningkat hingga mencapai target.

Wakil Gubernur BoJ, Himino, mengatakan bank bisa menaikkan suku bunga menuju level netral (tingkat suku bunga yang tidak mendorong atau menahan ekonomi) meskipun inflasi utama (headline inflation: angka inflasi keseluruhan yang paling sering diberitakan) turun di bawah 2%. Ini bergantung pada apakah BoJ menilai inflasi dasar (underlying inflation: tren inflasi “inti” yang lebih stabil, biasanya tidak terlalu dipengaruhi perubahan harga yang sementara) sedang meningkat menuju target harga mereka. Ia memperkirakan inflasi konsumen Jepang akan tetap di bawah 2% untuk beberapa waktu. Ia mengatakan inflasi dasar bisa meningkat secara moderat, sementara BoJ memantau risiko bahwa inflasi utama yang melambat dapat menekan inflasi dasar.

Fokus Kebijakan Bergeser Ke Inflasi Dasar

Himino mengatakan kondisi keuangan yang longgar (accommodative financial conditions: pinjaman lebih mudah dan biaya bunga relatif rendah) bisa menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga properti dan saham domestik. Ia mengatakan BoJ memantau pergerakan ini, tetapi saat ini tidak melihat harga aset (asset prices: harga saham, properti, dan instrumen investasi lain) sebagai risiko yang memerlukan respons kebijakan moneter (monetary policy: kebijakan bank sentral soal suku bunga dan uang beredar). Di pasar, USD/JPY naik 0,46% pada hari itu ke 157,00 saat pelaporan. Pernyataan terbaru menunjukkan kita bisa melihat suku bunga naik bahkan jika inflasi utama turun di bawah target 2%. Fokusnya kini pada tren inflasi dasar sebagai pendorong utama normalisasi kebijakan (policy normalization: mengurangi kebijakan yang sangat longgar, misalnya menaikkan suku bunga). Ini menunjukkan Bank of Japan sedang menyiapkan pasar untuk perubahan arah yang bergantung pada data (data-dependent: keputusan mengikuti data terbaru), namun tetap cenderung lebih “ketat” (hawkish: lebih condong menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi). Pandangan ini penting karena CPI inti nasional (national core CPI: ukuran inflasi yang mengecualikan beberapa komponen yang bergejolak agar lebih stabil) untuk Januari 2026 turun ke 1,9%, pertama kalinya berada di bawah target sejak akhir 2025. Pasar mempertanyakan kecepatan kenaikan suku bunga berikutnya, sehingga panduan ini menjadi respons langsung. Komentar ini bertujuan memisahkan perkiraan suku bunga dari angka inflasi utama satu bulan tertentu.

Dampak Untuk Volatilitas Yen Dan Suku Bunga

Untuk USD/JPY (nilai dolar AS terhadap yen Jepang), yang tetap tinggi di atas 160, ini menciptakan gambaran yang rumit. Volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan pasar tentang besar kecilnya pergerakan harga di masa depan yang tercermin pada harga opsi) pada opsi yen kemungkinan meningkat saat pelaku pasar menimbang peluang kenaikan suku bunga yang mengejutkan dibanding kekuatan dolar AS yang berlanjut. Berkaca ke belakang, peringatan lisan serupa pernah muncul sebelum intervensi mata uang (currency intervention: tindakan pemerintah/bank sentral membeli atau menjual mata uang untuk memengaruhi nilainya) pada musim gugur 2025 ketika pasangan ini hampir menembus 168. Kondisi ini menyiratkan trader bisa mempertimbangkan strategi yang diuntungkan dari naiknya volatilitas, seperti long straddle atau strangle (strategi opsi untuk mengambil keuntungan dari pergerakan besar harga, naik atau turun). Membeli opsi call pada JPY (hak membeli yen pada harga tertentu), yang setara dengan membeli opsi put pada USD/JPY (hak menjual USD/JPY pada harga tertentu), bisa menjadi cara langsung untuk memanfaatkan kejutan “ketat” dari bank sentral. Intinya, Bank of Japan memberi sinyal cara mereka bereaksi terhadap data berubah, sehingga asumsi lama bahwa mereka akan diam menjadi tidak relevan. Di pasar suku bunga, ini memperkuat alasan untuk mengambil posisi pada kurva imbal hasil yang lebih curam (steeper yield curve: selisih imbal hasil antara tenor pendek dan panjang makin besar). Kita perlu mengantisipasi kontrak futures (kontrak berjangka: perjanjian jual-beli pada harga tertentu di masa depan) untuk obligasi pemerintah Jepang 10 tahun (Japanese Government Bonds/JGB: surat utang pemerintah Jepang) akan mendapat tekanan turun. Sejak BoJ menaikkan suku bunga kebijakannya ke 0,10% pada Juli 2025, pasar memperkirakan kenaikan yang sangat lambat—namun jalur ini kini tampaknya sedang ditinjau ulang.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

PMI Manufaktur Nevi Belanda naik dari 50,1 menjadi 50,8 pada bulan Februari, yang menunjukkan kondisi pabrik yang membaik.

PMI (Indeks Manajer Pembelian) manufaktur Nevi di Belanda naik ke 50,8 pada Februari. Bulan sebelumnya berada di 50,1. Angka di atas 50 menandakan aktivitas manufaktur berkembang (ekspansi). Angka di bawah 50 menandakan aktivitas manufaktur menyusut (kontraksi).

Momentum Manufaktur Belanda Menguat

Data manufaktur Februari yang naik ke 50,8 dari 50,1 menunjukkan sektor industri Belanda mulai menguat. Ini sinyal positif, sehingga kita bisa mempertimbangkan posisi yang diuntungkan saat ekonomi membaik. Ini bulan kedua berturut-turut terjadi pertumbuhan, setelah sebelumnya banyak periode datar sepanjang 2025, sehingga arah penguatan terlihat lebih jelas. Kita bisa mempertimbangkan membeli opsi call (kontrak yang memberi hak untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu) pada indeks AEX, karena perusahaan industri Belanda kemungkinan mendapat perkiraan laba yang lebih baik. Indeks ini sudah naik lebih dari 5% pada dua bulan pertama 2026, dan data ini memberi dukungan dasar (fundamental) agar kenaikan bisa berlanjut. Ini mirip pemulihan yang dipimpin sektor industri yang mendorong pasar naik pada paruh kedua 2025. Kekuatan di negara inti Zona Euro ini juga mendukung Euro. Dengan data Eurostat terbaru menunjukkan inflasi utama (angka inflasi paling umum yang mencakup seluruh barang dan jasa) kawasan tetap 2,2%, data aktivitas yang positif ini membuat Bank Sentral Eropa (ECB) lebih sulit membenarkan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Karena itu, strategi derivatif (instrumen turunan dari aset lain, misalnya opsi atau kontrak berjangka) yang mengincar kenaikan pada pasangan EUR/USD terlihat menarik dalam beberapa minggu ke depan. Dengan ini, kita juga perlu menilai ulang kontrak berjangka suku bunga (interest rate futures: kontrak untuk mengunci perkiraan suku bunga di masa depan), karena pasar mungkin terlalu menganggap ECB akan “lunak” (dovish: cenderung menahan atau menurunkan suku bunga). Data ini menunjukkan aktivitas ekonomi bisa membuat inflasi lebih sulit turun dari perkiraan, sehingga ada peluang pada swap (kontrak tukar arus pembayaran, misalnya bunga tetap vs bunga mengambang) atau futures yang bertaruh suku bunga tetap bertahan di level sekarang hingga kuartal II. Kita ingat pada akhir 2025 pasar sempat salah posisi ketika bank sentral tetap bertahan meski banyak yang berharap sebaliknya.

Volatilitas Kemungkinan Tetap Lebih Rendah

Terakhir, data ekonomi yang sesuai harapan dan positif seperti ini biasanya mengurangi ketidakpastian pasar dan menekan volatilitas (tingkat naik-turun harga). VSTOXX (indikator utama volatilitas saham Eropa) baru-baru ini turun ke sekitar 14, level terendah sejak pertengahan 2025. Kita bisa mempertimbangkan menjual volatilitas (strategi yang untung jika pergerakan harga tetap tenang) lewat strategi seperti short strangle (menjual opsi call dan put di luar harga pasar untuk mendapat premi) pada indeks Euro Stoxx 50, memanfaatkan kondisi perdagangan yang berpotensi lebih stabil.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Pada Februari, Indeks Komoditas RBA Australia (SDR) naik secara tahunan menjadi 2,7%, dari 2,6% sebelumnya.

Australia’s Indeks Komoditas RBA (SDR), dari tahun ke tahun, naik menjadi 2,7% pada Februari. Angka sebelumnya adalah 2,6%. Ini adalah kenaikan 0,1 poin persentase dari angka sebelumnya. Data ini mengacu pada perubahan tahunan pada Februari.

Indeks Komoditas Menandakan Kekuatan Ekspor

Kenaikan kecil pada indeks harga komoditas ini mengonfirmasi kekuatan dasar di sektor ekspor Australia. Momentum yang berlanjut, meski kecil, memberi sinyal positif untuk aset yang terkait dengan terms of trade (perbandingan harga ekspor dengan harga impor suatu negara). Bagi pedagang derivatif (instrumen keuangan turunan yang nilainya mengikuti aset lain, seperti mata uang atau komoditas), ini memperkuat pandangan positif terhadap dolar Australia. Tren ini didukung faktor luar, karena permintaan dari China terlihat mulai stabil. Data terbaru awal 2026 menunjukkan PMI manufaktur China (indeks yang mengukur kondisi aktivitas pabrik; di atas 50 berarti ekspansi/bertumbuh) bertahan di zona ekspansi tanpa diduga, sementara harga bijih besi menguat di atas $125 per ton. Latar ini menunjukkan permintaan untuk ekspor utama Australia tetap kuat. Dengan ini, kita bisa mempertimbangkan posisi untuk penguatan dolar Australia terhadap dolar AS. Membeli opsi call AUD/USD jangka dekat (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli AUD/USD pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu; dipakai untuk mengejar potensi kenaikan) bisa menjadi strategi yang masuk akal untuk menangkap peluang naik. Pasangan ini sedang membentuk base (area harga yang relatif stabil sebagai “pondasi” sebelum bergerak), dan data ini dapat menjadi pemicu untuk menguji level resistance (area harga yang sering menahan kenaikan) yang lebih tinggi dalam beberapa minggu ke depan. Ini juga berdampak positif bagi pasar saham Australia, khususnya sektor material. Kami memperkirakan ini akan mendukung ASX 200 (indeks utama saham Australia), sehingga mengambil posisi beli pada futures indeks (kontrak untuk membeli/menjual indeks di harga tertentu pada waktu tertentu) bisa menjadi pilihan. Alternatifnya, pedagang dapat membeli opsi call pada perusahaan tambang besar yang diuntungkan langsung dari penerimaan komoditas yang lebih tinggi. Jika melihat ke belakang, kenaikan stabil pada indeks komoditas ini berbeda dengan gejolak yang terjadi sepanjang 2025. Periode ketidakpastian itu kini tampak berubah menjadi tren naik yang lebih jelas meskipun pelan. Ini membuat sinyal saat ini lebih dapat dipercaya dibanding enam hingga sembilan bulan lalu.

Implikasi untuk Suku Bunga dan Kebijakan RBA

Bertahannya harga komoditas yang lebih tinggi juga membuat Reserve Bank of Australia (bank sentral Australia) tetap waspada terhadap inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum). Ini bisa menahan ekspektasi pasar atas pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Karena itu, kita perlu berhati-hati mengambil posisi untuk suku bunga yang lebih rendah dan bisa mempertimbangkan strategi yang diuntungkan jika RBA menahan suku bunga tetap tinggi lebih lama.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Di tengah meningkatnya kembali permintaan terhadap Dolar AS, XAG/USD melemah mendekati $93,75 pada awal sesi Eropa, sementara ketegangan AS–Iran terus dipantau.

Perak (XAG/USD) turun ke sekitar $93,75 pada perdagangan awal Eropa pada Senin, seiring Dolar AS mendapat dukungan. Pelaku pasar memantau konflik AS-Iran, dan inflasi Indeks Harga Produsen (PPI—ukuran kenaikan harga di tingkat produsen/pabrik) AS yang lebih tinggi dari perkiraan menekan logam yang dihargai dalam dolar. Penurunan lanjutan bisa tertahan jika ketegangan Timur Tengah meningkatkan permintaan aset safe-haven (aset “pelindung nilai” yang biasanya dicari saat risiko geopolitik naik). Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa operasi tempur akan berlanjut di Iran sampai tujuan Amerika tercapai.

Gambaran Teknis Dan poin-poin penting

Pada grafik harian, perak masih berada di atas exponential moving average (EMA—rata-rata bergerak yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru) 100 hari di dekat $72,0, sehingga tren naik utama tetap bertahan. Harga berada di paruh atas Bollinger Bands (indikator “pita” volatilitas yang membuat batas atas/bawah), dengan pita tengah di dekat $82,0 sebagai area penopang. Relative Strength Index (RSI—indikator momentum untuk melihat kuat/lemahnya dorongan harga) berada di sekitar 59 dan kembali naik. Hambatan (resistance—area yang sering menahan kenaikan) ada di dekat $97,00, dan jika tembus bisa membuka jalan ke $100,00. Penopang (support—area yang sering menahan penurunan) berada di sekitar $82,00, dengan level lebih rendah dekat EMA 100 hari yang naik di sekitar $72,00. Artikel ini dikoreksi pada 2 Maret pukul 06:55 GMT untuk menegaskan bahwa ketegangan Timur Tengah bisa membatasi penurunan, bukan mendorong kenaikan. Melihat sinyal yang saling bertentangan, volatilitas tersirat (implied volatility—perkiraan besarnya gejolak harga yang “tercermin” dari harga opsi) dinilai jadi peluang utama dalam beberapa minggu ke depan. Tarik-menarik antara permintaan safe-haven dari konflik AS-Iran dan Dolar AS yang menguat—yang mendorong indeks DXY (indeks kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang) naik 0,5% minggu lalu—menciptakan kondisi yang berpotensi memicu pergerakan harga tajam. Trader yang belum yakin arah bisa mempertimbangkan long strangle (strategi opsi membeli call dan put) dengan opsi out-of-the-money (harga strike di luar harga pasar saat ini) untuk berspekulasi pada penembusan besar dari kisaran saat ini.

Strategi Opsi Untuk Kondisi Saat Ini

Bagi yang cenderung bullish (optimistis harga naik), tren naik yang bertahan di atas EMA 100 hari adalah sinyal teknis yang kuat. Kepemilikan ETF (Exchange-Traded Fund—reksa dana yang diperdagangkan di bursa seperti saham) perak naik 1,2 juta ons pada Februari 2026, yang menunjukkan minat pelaku besar tetap kuat meski harga tinggi. Membeli opsi call (hak untuk membeli di harga tertentu) dengan strike (harga patokan) dekat resistance $97,00 memberi cara berbiaya lebih rendah untuk menangkap potensi kenaikan menuju level psikologis $100,00. Namun, risiko penurunan tetap perlu diperhatikan karena data inflasi yang panas dan Federal Reserve yang berpotensi hawkish (cenderung mengetatkan kebijakan: suku bunga lebih tinggi). Kita ingat betapa cepatnya logam mulia terkoreksi pada akhir 2025 ketika pasar memasukkan skenario suku bunga tinggi lebih lama. Membeli opsi put (hak untuk menjual di harga tertentu) dengan strike di bawah support $82,00 bisa menjadi lindung nilai (hedge—perlindungan risiko) untuk posisi beli yang sudah ada atau menjadi taruhan bearish (memperkirakan harga turun) jika ketegangan geopolitik mereda. Jika harga tetap terjebak di antara dua kekuatan ini, menjual premium (premium—biaya/“harga” opsi) bisa lebih efektif. Dengan level teknis yang jelas, membangun iron condor (strategi menjual dua spread untuk mendapat keuntungan saat harga bergerak datar) dengan menjual bear call spread (menjual call dan membeli call lain lebih tinggi untuk membatasi risiko) di atas $97,00 dan bull put spread (menjual put dan membeli put lain lebih rendah untuk membatasi risiko) di bawah $82,00 memungkinkan kita untung dari konsolidasi (harga bergerak dalam kisaran). Pendekatan ini diuntungkan oleh time decay (penurunan nilai opsi seiring waktu) selama perak bergerak naik-turun di antara zona support dan resistance ini. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Emas Menguat Seiring Premi Risiko Meningkat

Poin-poin penting

  • Pasar kini menimbang risiko geopolitik (risiko dari konflik/ketegangan antarnegara) terhadap perubahan perkiraan pemangkasan suku bunga AS.
  • Emas naik hampir 2% setelah serangan AS–Israel ke Iran meningkat, sehingga risiko geopolitik naik.
  • Kenaikan terjadi meski dolar AS lebih kuat, menandakan permintaan aset aman (instrumen yang dicari saat kondisi tidak pasti) tetap kuat.
  • Jika harga energi terus naik, tekanan inflasi (kenaikan harga barang/jasa) global bisa makin kuat.

Emas spot (harga emas untuk transaksi saat ini) naik sekitar 1,9% ke $5.376 per ounce, setelah menyentuh level tertinggi dalam lebih dari empat minggu. Kontrak berjangka emas AS (futures, yaitu perjanjian beli/jual untuk tanggal mendatang) naik sekitar 2,7% ke $5.389.

Kenaikan ini menyusul serangan besar AS dan Israel ke Iran, termasuk laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta berlanjutnya saling serang rudal di wilayah tersebut.

Pasar kini menilai kemungkinan ketidakstabilan yang berkepanjangan, bukan konflik yang cepat mereda.

Risiko Geopolitik dan Penempatan ke Aset Aman

Berbeda dari gejolak sebelumnya, perkembangan terbaru ini benar-benar mengubah peta politik kawasan. Ketidakpastian kepemimpinan meningkatkan risiko salah perhitungan dan keterlibatan militer yang berlanjut.

Reaksi emas bukan sekadar karena satu berita. Ini mencerminkan penilaian ulang risiko geopolitik secara lebih luas.

Arus dana ke aset aman terlihat di berbagai instrumen, dengan emas naik meski dolar AS menguat. Indeks dolar (ukuran kekuatan dolar terhadap beberapa mata uang utama) naik 0,27%, yang biasanya menahan kenaikan emas batangan. Namun, emas tetap menguat bersama dolar, artinya posisi bertahan (defensive positioning: investor mengurangi risiko) mengalahkan hambatan dari nilai tukar.

Inflasi dan Perkiraan Suku Bunga Jadi Sorotan

Data harga produsen AS (producer price: perubahan harga di tingkat produsen/pabrik) pada Jumat lebih tinggi dari perkiraan, menunjukkan tekanan inflasi bisa bertahan.

Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan akibat ketegangan Timur Tengah dapat menambah risiko inflasi. Biaya energi yang lebih tinggi langsung meningkatkan ongkos transportasi dan rantai produksi, sehingga bisa menyulitkan arah kebijakan The Federal Reserve (bank sentral AS).

Pasar saat ini memasukkan peluang besar pemangkasan suku bunga pada paruh akhir tahun ini. Namun, bila perkiraan inflasi naik bersamaan dengan risiko geopolitik, pergerakan harga bisa lebih mudah bergejolak.

Karena itu, arah emas bergantung pada bagaimana dua faktor ini bergerak bersama: inflasi yang bertahan dan perkiraan suku bunga.

Gambaran Teknikal

Emas (XAUUSD, kode harga emas terhadap dolar AS) diperdagangkan di sekitar 5.391, naik lebih dari 2% dalam sesi ini, saat harga bergerak cepat naik dan mendekati puncak ayunan sebelumnya (previous swing high: titik puncak tertinggi terakhir) di 5.598,60. Grafik harian menunjukkan kelanjutan tren naik yang kuat setelah fase konsolidasi (konsolidasi: harga bergerak cenderung mendatar dalam rentang tertentu).

Harga menembus jelas di atas rata-rata bergerak jangka pendek (moving average: rata-rata harga beberapa hari untuk melihat arah tren), dengan 5-hari (5.234) dan 10-hari (5.135) berbelok tajam naik. 20-hari (5.056) dan 30-hari (5.039) masih jauh di bawah harga saat ini dan tetap menanjak, menguatkan tren naik yang lebih besar.

Jarak yang makin lebar antara harga dan rata-rata jangka panjang menandakan momentum naik yang kuat, tetapi juga meningkatkan peluang gejolak jangka pendek.

Hambatan terdekat (resistance: area harga yang sering menahan kenaikan) berada di sekitar puncak sebelumnya, dekat 5.600. Jika tembus kuat di atas level itu, tren naik baru bisa terkonfirmasi dan berpotensi membuka jalan ke zona 5.750–5.800. Di sisi bawah, area yang sebelumnya menjadi hambatan di 5.250–5.300 kini menjadi dukungan pertama (support: area harga yang sering menahan penurunan), lalu dukungan lebih kuat dekat 5.100. Selama harga bertahan di atas rata-rata 20-hari, struktur tren naik tetap utuh, dan penurunan kemungkinan dipandang sebagai koreksi (koreksi: turun sementara dalam tren naik) dalam tren yang masih berlangsung.

Yang Perlu Dipantau Minggu Ini

Pasar akan memantau data tenaga kerja AS, termasuk angka ketenagakerjaan ADP (perkiraan data pekerjaan sektor swasta), klaim pengangguran mingguan (jumlah pengajuan bantuan pengangguran), dan laporan non-farm payrolls/NFP (jumlah penambahan pekerjaan di luar sektor pertanian).

Data yang lebih kuat bisa mengurangi perkiraan pemangkasan suku bunga dan memicu gejolak jangka pendek. Sebaliknya, data yang lebih lemah disertai ketegangan geopolitik berlanjut kemungkinan menguatkan daya tarik emas sebagai aset bertahan.

Saat ini, emas bergerak karena penilaian ulang risiko global, bukan karena satu pemicu saja.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

  1. Mengapa harga emas naik tajam?
    Emas naik setelah serangan besar AS dan Israel ke Iran meningkatkan ketegangan geopolitik secara signifikan. Pasar kini menilai peluang ketidakstabilan kawasan yang lebih lama, bukan konflik singkat. Saat ketidakpastian tinggi, emas biasanya menarik arus dana defensif (dana yang mencari keamanan).
  2. Mengapa emas naik padahal dolar AS menguat?
    Indeks dolar AS naik tipis, yang biasanya membatasi kenaikan emas. Namun emas naik bersamaan dengan dolar, menandakan permintaan aset aman lebih kuat daripada tekanan dari nilai tukar. Ketika keduanya menguat bersamaan, biasanya itu tanda pelaku pasar menghindari risiko (risk aversion: cenderung memilih aset lebih aman).
  3. Bagaimana konflik Timur Tengah memengaruhi harga emas secara struktur?
    Ketegangan di Timur Tengah meningkatkan “premi risiko geopolitik” (tambahan harga karena risiko konflik) di pasar global. Emas diuntungkan karena investor mencari likuiditas (mudah dicairkan jadi uang) dan menjaga nilai modal. Ketidakstabilan berkepanjangan juga bisa mengganggu pasar energi, menaikkan perkiraan inflasi—faktor lain yang mendukung emas.
  4. Apakah harga minyak yang lebih tinggi bisa makin mendukung emas?
    Ya. Kenaikan harga minyak yang bertahan bisa memperkuat tekanan inflasi. Jika biaya energi tetap tinggi, bank sentral menghadapi situasi kebijakan yang lebih rumit. Emas cenderung berkinerja baik saat risiko inflasi naik atau saat imbal hasil riil (real yields: imbal hasil setelah dikurangi inflasi) tertekan.
  5. Apakah reli ini murni karena geopolitik, atau faktor dasar masih ada?
    Pergerakan saat ini dipicu geopolitik, tetapi faktor dasar masih mendukung. Penambahan cadangan oleh bank sentral (reserve accumulation: bank sentral membeli emas untuk cadangan), arus masuk ETF (ETF: produk investasi mirip reksa dana yang diperdagangkan di bursa), dan perkiraan pelonggaran The Fed pada akhirnya, menopang tren naik emas sepanjang 2025. Faktor-faktor ini menjadi dasar di luar berita jangka pendek.
  6. Data ekonomi apa yang bisa memengaruhi emas berikutnya?
    Data pasar tenaga kerja AS—termasuk ADP, klaim pengangguran, dan NFP—bisa mengubah perkiraan pemangkasan suku bunga. Data yang lebih kuat dapat mengurangi taruhan pelonggaran (easing bets: perkiraan suku bunga turun) dan memicu gejolak, sementara data lemah ditambah tekanan geopolitik bisa menguatkan daya tarik emas sebagai aset defensif.
  7. Level teknikal apa yang penting untuk emas?
    Hambatan terdekat berada di sekitar $5.600. Jika menembus dan bertahan di atasnya, harga berpotensi masuk area rekor baru. Di sisi bawah, dukungan awal berada di kisaran $5.200–$5.250.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

PMI Manufaktur HSBC India bulan Februari sesuai perkiraan, tetap di 56,9, yang menunjukkan ekspansi berkelanjutan di sektor pabrik/manufaktur.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur HSBC India tercatat 56,9 pada Februari. Angka ini sesuai dengan perkiraan. Angka di atas 50 menandakan kegiatan manufaktur sedang tumbuh, sedangkan di bawah 50 menandakan menyusut. Jadi, hasil Februari menunjukkan ekspansi masih berlanjut.

Momentum Manufaktur Tetap Kuat

PMI manufaktur Februari di 56,9 menegaskan tren ekspansi yang kuat. Karena angkanya sesuai dengan perkiraan pasar, kemungkinan besar ini memperkuat sentimen positif yang sudah ada, bukan memicu gejolak besar dalam waktu dekat. Ini menguatkan pandangan bahwa kondisi dasar ekonomi India masih solid. Pertumbuhan yang bertahan ini membuat Reserve Bank of India (RBI—bank sentral India) kecil kemungkinannya menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Kemungkinan besar RBI mempertahankan sikap ketatnya melalui kebijakan “withdrawal of accommodation” (penarikan dukungan kebijakan—artinya mengurangi langkah yang sebelumnya dibuat longgar untuk mendorong ekonomi). Ini terutama karena tekanan biaya input (biaya bahan baku dan biaya produksi), meski mulai mereda, masih menjadi perhatian. Seperti tahun lalu, akhir 2025, data kuat semacam ini membuat perkiraan penurunan suku bunga mundur dari kuartal kedua ke kuartal keempat. Bagi trader saham, kondisi ini mendukung strategi menjual opsi jual (put option—kontrak yang memberi hak menjual aset pada harga tertentu) Nifty 50 yang out-of-the-money (OTM—harga kesepakatan opsi berada di bawah harga pasar saat ini sehingga opsi belum menguntungkan jika langsung dipakai) untuk jatuh tempo Maret dan April. Data ekonomi yang kuat membantu menjadi “lantai” pasar (batas bawah yang menahan penurunan), sehingga lebih menarik untuk mengumpulkan premi (premi opsi—biaya yang diterima penjual opsi). Kami melihat volatilitas tersirat (implied volatility—perkiraan gejolak harga ke depan yang tercermin dari harga opsi) untuk opsi Nifty sudah turun ke 13,5%, dari di atas 15% sebulan lalu, yang berarti pasar memperkirakan kondisi relatif stabil. Di pasar suku bunga, data ini mengarah pada tekanan naik lanjutan pada imbal hasil obligasi (bond yield—tingkat pengembalian dari obligasi). Kita bisa memperkirakan yield obligasi pemerintah 10 tahun, yang saat ini berada di sekitar 7,25%, menguji level yang lebih tinggi dalam beberapa minggu ke depan. Trader bisa mempertimbangkan strategi yang untung saat yield naik, seperti melakukan short pada futures suku bunga (shorting—mengambil posisi yang diuntungkan jika harga turun; futures suku bunga—kontrak berjangka yang nilainya terkait pergerakan suku bunga/yield).

Prospek Mata Uang dan Arus Dana Masuk

Kondisi domestik yang kuat ini seharusnya mendukung Rupee India, karena mendorong arus dana masuk investasi asing, yang sudah mendekati US$6 miliar sepanjang tahun berjalan 2026. Namun, karena Federal Reserve AS (bank sentral AS) juga mempertahankan kebijakan yang stabil, pasangan USD/INR (nilai tukar dolar AS terhadap rupee India) mungkin tetap bergerak dalam kisaran yang sempit. Ini membuat strategi menjual strangle opsi pada futures mata uang (strangle—menjual opsi call dan put sekaligus pada harga kesepakatan berbeda untuk mendapat premi saat harga bergerak relatif datar) menjadi pilihan untuk memanfaatkan volatilitas rendah yang diperkirakan.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Back To Top
server

Halo 👋

Bagaimana saya bisa membantu?

Ngobrol langsung dengan tim kami

Obrolan Langsung

Mulai percakapan langsung lewat...

  • Telegram
    hold Ditangguhkan
  • Segera hadir...

Halo 👋

Bagaimana saya bisa membantu?

telegram

Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

QR code