Emas turun dari level tertinggi mendekati $5.400, namun tetap bertahan di atas $5.300, naik 1% akibat ketegangan di Timur Tengah

Emas (XAU/USD) stabil di dekat $5.350 setelah perdagangan Asia yang naik-turun, tetap dekat level tertinggi sejak akhir Januari yang dicapai pada Senin. Permintaan naik karena kejadian akhir pekan meningkatkan sikap menghindari risiko (risk aversion, yaitu investor cenderung menjauhi aset berisiko). AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Setelah itu, Angkatan Laut IRGC Iran (IRGC, Korps Garda Revolusi Islam—pasukan militer elit Iran) mengumumkan penutupan Selat Hormuz, sehingga memicu kekhawatiran konflik lebih panjang di Asia Barat.

Reaksi Pasar Dan Pergerakan Dolar

Setelah pergerakan awal, sebagian trader mengambil untung sambil menunggu kabar lanjutan. Dolar AS yang melemah—setelah sempat mencapai level tertinggi sejak 23 Januari—serta ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (bank sentral AS) ikut mendukung emas. Data AS yang dirilis pekan ini mencakup ISM Manufacturing PMI pada Senin (PMI, indeks manajer pembelian—indikator aktivitas sektor manufaktur), laporan pekerjaan swasta ADP dan ISM Services PMI pada Rabu (indikator sektor jasa), serta laporan Nonfarm Payrolls pada Jumat (NFP, data jumlah pekerjaan di luar sektor pertanian). Fokus pasar tetap pada perkembangan geopolitik dan dampaknya terhadap sentimen risiko serta permintaan emas. Secara teknikal, penembusan di atas $5.200 pekan lalu dan kenaikan pada Senin menjaga kecenderungan naik. MACD tetap positif (MACD, indikator momentum/tren dari pergerakan rata-rata harga), sementara RSI berada di 68,88 (RSI, indikator kekuatan momentum; mendekati area jenuh beli). Area hambatan (resistance, batas atas yang sering menahan kenaikan) berada dekat $5.390 dan pergerakan di atas $5.400 dipantau untuk kelanjutan. Area penopang (support, batas bawah yang sering menahan penurunan) disebut di $5.260, $5.210, lalu $5.180.

Posisi Derivatif Saat Volatilitas Tinggi

Eskalasi besar di Asia Barat mengubah kondisi trading, mendorong volatilitas (naik-turunnya harga) ke level yang belum terlihat lebih dari setahun. VIX—ukuran utama “ketakutan” pasar—melonjak lebih dari 45% dan berada di atas 32, artinya premi opsi (biaya untuk membeli kontrak opsi) jauh lebih mahal. Karena itu, trader derivatif (derivatif, produk turunan seperti opsi dan futures/kontrak berjangka) sebaiknya memilih strategi seperti credit atau debit spread (strategi opsi dengan membeli dan menjual opsi sekaligus untuk membatasi biaya/risiko) untuk mengimbangi mahalnya volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi). Dengan momentum bullish (bullish, kecenderungan harga naik) yang kuat, bull call spread jangka pendek bisa menjadi cara yang lebih hati-hati untuk memosisikan diri menuju resistance $5.400. Contohnya, membeli call opsi $5.360 sambil menjual call opsi $5.410. Ini membatasi potensi untung, tetapi menurunkan kebutuhan dana awal. Strategi ini juga membuat risiko lebih jelas ketika pembalikan tajam bisa terjadi jika ada berita de-eskalasi (penurunan ketegangan). Pasar juga meningkatkan perkiraan pemangkasan suku bunga Federal Reserve yang lebih agresif untuk menahan dampak ke ekonomi. Pasar futures (futures, kontrak berjangka) menurut CME FedWatch Tool (alat yang membaca probabilitas arah suku bunga dari harga futures) kini memperkirakan peluang 75% pemangkasan suku bunga pada rapat Mei, naik dari 50% dua minggu lalu. Ekspektasi suku bunga lebih rendah ini mendukung emas yang tidak memberi imbal hasil (non-yielding, tidak membayar bunga) dan dapat menahan penurunan harga. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Di tengah kekhawatiran krisis Iran, para pelaku pasar mencari Yen sebagai aset safe haven, mendorong EUR/JPY turun menuju 184,20 di Asia.

EUR/JPY turun ke sekitar 184,20 pada perdagangan Asia hari Senin, bergerak di bawah 184,50. Yen Jepang menguat terhadap Euro karena permintaan naik untuk mata uang yang lebih aman (mata uang “safe haven”, yaitu mata uang yang biasanya dibeli investor saat situasi global tegang) di tengah krisis Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan “membalas” kematian tiga personel militer AS dan bahwa operasi tempur di Iran akan berlanjut. Pada hari Senin, serangan Israel menghantam pinggiran selatan Beirut, sementara Hizbullah mengatakan pihaknya menembakkan roket dan drone (pesawat tanpa awak) ke Israel setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Mengapa Yen Menguat

Konflik yang meluas di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran pasar, yang mendukung Yen dan menekan pasangan mata uang ini. Pergerakan ini juga mengikuti komentar pejabat Jepang yang mengarah pada kebijakan yang lebih ketat. Wakil Gubernur Bank of Japan (BOJ, bank sentral Jepang) Ryozo Himino mengatakan kebijakan “agak longgar” (accommodative, yaitu suku bunga dan kondisi kredit masih mendukung pertumbuhan), tetapi BOJ sebaiknya menaikkan suku bunga secara bertahap jika proyeksi ekonomi dan harga tercapai. Di Eropa, ECB (bank sentral zona euro) tetap hati-hati karena “inflasi yang dirasakan” konsumen (perceived inflation, yaitu inflasi versi persepsi masyarakat, bukan selalu angka resmi) dan kemungkinan tekanan dari kenaikan upah. Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan upaya menekan inflasi “efektif” dan menyebut bank tidak berkomitmen pada jalur suku bunga tertentu.

Perbedaan Arah Kebijakan Bank Sentral

Bank of Japan menindaklanjuti sinyal “hawkish” (cenderung menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi) dari tahun lalu, akhirnya menaikkan suku bunga kebijakan ke 0,25% pada Januari 2026. Dengan CPI inti Jepang (inflasi inti, yaitu inflasi tanpa komponen yang mudah bergejolak seperti energi dan makanan) tetap di atas 2,1% secara tahunan (year-over-year, dibanding periode yang sama tahun lalu), pasar kini memperkirakan setidaknya satu kenaikan lagi sebelum akhir musim panas. Ini menandai berkurangnya “carry trade” (strategi meminjam di mata uang berbunga rendah lalu membeli aset/mata uang berbunga lebih tinggi) yang sebelumnya melemahkan Yen. Sebaliknya, kehati-hatian Bank Sentral Eropa pada 2025 berubah menjadi sikap lebih “dovish” (cenderung menahan atau menurunkan suku bunga untuk mendukung ekonomi) memasuki awal 2026. Data PMI komposit zona euro (Purchasing Managers’ Index, survei aktivitas bisnis; di bawah 50 berarti kontraksi) turun ke 48,5, mengisyaratkan aktivitas ekonomi melambat dan menambah tekanan agar ECB mempertimbangkan pemangkasan suku bunga. Perbedaan kebijakan dengan BOJ ini kini menjadi pendorong utama pasangan ini. Dengan perbedaan yang jelas ini, kami melihat peluang untuk posisi penurunan EUR/JPY lebih lanjut pada kuartal berikutnya. Trader dapat mempertimbangkan membeli opsi put (kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu) April atau Juni dengan strike price (harga patokan dalam kontrak opsi) di bawah 182,00. Ini memberi cara dengan risiko terukur untuk memanfaatkan potensi pelemahan pasangan mata uang tersebut. Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan fluktuasi harga yang tercermin dari harga opsi) pada pasangan ini tetap sensitif terhadap berita Timur Tengah. Kami menilai volatilitas satu bulan saat ini masih terlalu rendah, mengingat potensi pergerakan “risk-off” mendadak (risk-off, saat investor menghindari risiko dan beralih ke aset aman). Membeli straddle jangka pendek (strategi opsi membeli call dan put sekaligus pada strike yang sama untuk mendapat keuntungan dari pergerakan besar ke arah mana pun) dapat menjadi lindung nilai (hedge, langkah untuk mengurangi risiko) bila ketegangan tiba-tiba meningkat.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Pada bulan Februari, indikator inflasi tahunan TD-MI Australia tetap stabil, tidak berubah di angka 3,6%.

Australia TD-MI Inflation Gauge tidak berubah di 3,6% (year on year/tahunan) pada Februari. Angka ini sama dengan bulan sebelumnya, menunjukkan tidak ada perubahan pada periode tersebut.

Tekanan Inflasi Masih Sulit Turun

Dengan inflation gauge Februari tetap di 3,6%, data ini menegaskan bahwa tekanan harga masih sulit turun. Angka ini masih jauh di atas target Reserve Bank of Australia (RBA/bank sentral Australia) yaitu 2–3%, sehingga memperkuat alasan RBA untuk tetap ketat. Hampir tidak ada alasan bagi RBA untuk melonggarkan kebijakan moneter (kebijakan pengaturan suku bunga dan jumlah uang beredar) dalam waktu dekat. Kekakuan ini sejalan dengan data resmi CPI kuartalan (Consumer Price Index/indeks harga konsumen, ukuran inflasi) untuk Q4 2025 yang berada di 3,8% dan mengejutkan karena banyak yang memperkirakan penurunan lebih cepat. Selain itu, proyeksi terbaru RBA pada akhir tahun lalu tidak memperkirakan inflasi kembali ke kisaran target sampai sekitar tahun 2027. Statistik pasar tenaga kerja (data pekerjaan) Januari juga menunjukkan pengangguran tetap rendah di 3,9%, yang menambah kekhawatiran tekanan upah (kenaikan gaji yang bisa mendorong harga naik). Bagi trader suku bunga (pelaku pasar yang memperdagangkan produk terkait suku bunga), ini berarti peluang pemangkasan suku bunga pada paruh pertama 2026 semakin kecil. Ceritanya tetap “tinggi lebih lama,” yang dapat menjaga imbal hasil obligasi jangka pendek (yield/tingkat keuntungan obligasi) tetap kuat. Pasar pernah harus cepat membatalkan taruhan pemangkasan suku bunga pada akhir 2025 setelah rangkaian laporan inflasi yang juga sulit turun. Ketidakpastian yang bertahan ini bisa membuka peluang di pasar opsi (kontrak yang memberi hak membeli/menjual pada harga tertentu), karena volatilitas tersirat (perkiraan besar-kecilnya pergerakan harga yang tercermin dalam harga opsi) pada futures obligasi pemerintah Australia dapat meningkat. Trader bisa mempertimbangkan strategi yang diuntungkan jika terjadi pergerakan tajam, karena pasar menilai apakah RBA akan terpaksa menaikkan suku bunga lagi atau hanya menahan suku bunga lebih lama. Stabilitas saat ini bisa menjadi awal perubahan harga yang besar setelah rilis data penting berikutnya. Di pasar mata uang, pandangan ini dapat menjadi penopang bagi dolar Australia, terutama terhadap mata uang yang bank sentralnya lebih dekat untuk memangkas suku bunga.

Implikasi untuk Dolar Australia

Bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), misalnya, melihat ukuran inflasi pilihannya, core PCE price index (indeks harga PCE inti/ukuran inflasi yang mengecualikan makanan dan energi agar lebih stabil), terus menurun, dengan angka Januari 2026 berada di 2,7%. Perbedaan arah kebijakan ini menunjukkan posisi yang mendukung penguatan AUD terhadap USD, melalui instrumen seperti call options (opsi beli) atau forward contracts (kontrak berjangka untuk menukar mata uang pada kurs yang disepakati).

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Indeks Dolar AS melemah dari puncak tertinggi lima pekan, bertahan di sekitar 97,90.

Indeks Dolar AS (DXY), yang melacak kinerja Dolar AS terhadap enam mata uang utama, turun setelah mencapai level tertinggi dalam lima minggu. Indeks ini diperdagangkan di sekitar 97,90 pada sesi Asia hari Senin, dengan permintaan terhadap aset *safe haven* (aset yang dianggap lebih aman saat krisis, seperti Dolar AS atau obligasi pemerintah) terkait meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. AS dan Israel melakukan serangan terkoordinasi ke Iran pada akhir pekan, dengan laporan yang menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas. Iran lalu menyerang aset AS di negara-negara sekitar, termasuk UEA, Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Irak, dan Suriah.

Eskalasi Dan Reaksi Pasar

Presiden AS Donald Trump mengatakan ratusan target terkena serangan, termasuk lokasi Garda Revolusi (pasukan elite Iran) dan sistem pertahanan udara (alat untuk mendeteksi dan menembak jatuh ancaman dari udara). Ia juga mengatakan sembilan kapal dan infrastruktur angkatan laut diserang, dan operasi akan berlanjut sampai tujuan yang disebutkan tercapai. Israel juga menyerang Beirut setelah Hizbullah menembakkan rudal melintasi perbatasan pada Senin pagi. Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi untuk beberapa kota di Lebanon. Dalam kebijakan moneter AS (kebijakan bank sentral yang mengatur suku bunga dan jumlah uang beredar), Gubernur Federal Reserve (bank sentral AS) Mi Lan menyerukan pemangkasan suku bunga secepatnya. Pernyataan itu menyoroti tekanan harga dasar yang lemah (kenaikan harga inti yang tidak terlalu kuat) dan kekhawatiran soal pengukuran inflasi (cara menghitung inflasi yang bisa membuat angka tampak lebih rendah/tinggi). Sifat ekstrem dari guncangan geopolitik ini berarti volatilitas (naik-turun harga yang cepat) menjadi faktor paling segera. Kita pernah melihat VIX, ukuran “ketakutan” pasar (indeks yang mencerminkan perkiraan naik-turunnya pasar saham), melonjak di atas 30 pada awal ketidakpastian konflik Ukraina pada 2022. Masuk akal untuk menganggap level itu sudah terlampaui. Untuk melindungi portofolio, pelaku pasar bisa memakai *futures* VIX (kontrak untuk membeli/menjual VIX di harga tertentu pada waktu tertentu) atau *call options* (hak, bukan kewajiban, untuk membeli aset pada harga tertentu) sebagai lindung nilai terhadap ketidakstabilan yang kemungkinan besar terjadi dalam beberapa minggu ke depan.

Implikasi Trading Dan Lindung Nilai

Konflik langsung dengan produsen minyak besar akan memicu guncangan harga energi yang tajam. Kita bisa melihat kembali Perang Teluk 1990, ketika harga minyak mentah lebih dari dua kali lipat hanya dalam beberapa bulan. Trader dapat bersiap untuk kenaikan cepat serupa dengan mengambil posisi *long* (mendapat untung jika harga naik) pada *futures* minyak mentah (kontrak untuk transaksi minyak di masa depan) atau membeli *call options* pada ETF terkait energi (ETF adalah “keranjang” aset yang diperdagangkan seperti saham). Biaya energi yang lebih tinggi dan ketidakpastian geopolitik yang besar merupakan kombinasi buruk untuk saham. Penurunan pasar yang terjadi bisa menjadi peluang untuk membeli *put options* (hak, bukan kewajiban, untuk menjual aset pada harga tertentu) pada indeks besar seperti S&P 500 (indeks yang berisi 500 saham besar AS). Ini memberi cara langsung untuk meraih untung atau melindungi portofolio dari potensi aksi jual (penurunan harga karena banyak orang menjual) di pasar saham. Walau seruan pemangkasan suku bunga biasanya melemahkan dolar, kebutuhan besar akan *safe haven* kemungkinan akan lebih dominan. Kita melihat modal mengalir ke Dolar AS pada 2022, mendorong DXY di atas 114 meski ada kekhawatiran pelambatan ekonomi global. Karena itu, meskipun ada komentar pejabat The Fed, posisi *long* Dolar AS terhadap mata uang utama lain masih berpeluang menjadi strategi yang lebih kuat dalam jangka dekat. Federal Reserve kini terjepit antara keinginan memangkas suku bunga dan ancaman inflasi baru yang dipicu perang melalui kenaikan harga minyak. Ketidakpastian kebijakan ini membuat taruhan arah suku bunga menjadi berisiko. Strategi yang lebih baik adalah memakai opsi pada *Treasury futures* (kontrak berjangka obligasi pemerintah AS), yang bisa diuntungkan dari kenaikan volatilitas pasar obligasi karena trader sulit menilai langkah The Fed berikutnya. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Wakil Gubernur BoJ, Himino, mengatakan kebijakan akomodatif harus perlahan bergeser ke netral melalui kenaikan suku bunga yang moderat.

Wakil Gubernur BoJ, Himino, mengatakan kebijakan bank masih cukup longgar (artinya suku bunga dan kondisi uang masih dibuat mudah), tetapi harus bergerak perlahan menuju sikap yang lebih netral (artinya tidak mendorong atau menahan ekonomi) lewat kenaikan suku bunga yang wajar. Ia mengatakan tujuannya adalah stabilitas harga dengan menghindari inflasi terlalu tinggi dan deflasi (harga turun terus), agar mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. Ia mengatakan ekonomi saat ini tampaknya tidak terlalu panas (pertumbuhan berlebihan) dan juga tidak macet, berdasarkan perkiraan terbaru. Ia juga mengatakan dampak kenaikan suku bunga sebelumnya terhadap ekonomi masih terbatas.

Kebijakan Harus Tetap Bertahap dan Netral

Ia mengatakan pergerakan pasar perlu dipantau ketat, tetapi kebijakan tidak boleh terlalu dipimpin oleh pergerakan itu. Ia mengatakan merespons inflasi yang disebabkan guncangan pasokan (misalnya kenaikan harga energi atau gangguan rantai pasok) bisa mengganggu PDB/GDP (ukuran total nilai produksi ekonomi), dan kebijakan bisa baru terasa setelah guncangan itu sudah mereda. Ia mengatakan lebih baik memastikan inflasi dasar (inflasi inti, yaitu tren inflasi yang lebih “murni” dan tidak terlalu dipengaruhi perubahan harga yang sementara) saat menghadapi guncangan pasokan sementara. Ia menambahkan kesenjangan inflasi (selisih antara inflasi aktual dan inflasi yang “seharusnya” jika ekonomi berada di kapasitas normal) sekarang sedikit negatif, tetapi diperkirakan bergerak ke nol. Di pasar, USD/JPY naik 0,05% ke 156,25. BoJ menargetkan inflasi sekitar 2%, menerapkan QQE pada 2013 (pelonggaran uang besar-besaran: bank sentral membeli aset untuk menambah uang beredar), menambahkan suku bunga negatif dan kontrol imbal hasil 10 tahun pada 2016 (mengarahkan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun agar berada di level tertentu), dan menaikkan suku bunga pada Maret 2024. Bank of Japan memberi sinyal jalur yang jelas untuk menaikkan suku bunga secara perlahan dari kondisi yang longgar sekarang. Ini bukan rencana tindakan agresif, melainkan siklus kenaikan suku bunga yang tetap berhati-hati (kenaikan suku bunga, tapi dengan nada lembut). Kesimpulan utama adalah penekanan pada langkah yang “bertahap” dan “wajar”.

Dampak untuk Gejolak Harga dan Kisaran Yen

Pendekatan hati-hati ini didukung data ekonomi terbaru. Inflasi inti Februari 2026 tercatat 1,9%, sedikit di bawah target 2%, sehingga tidak ada dorongan untuk kenaikan suku bunga mendadak dan besar. Ini menegaskan pandangan bahwa inflasi dasar stabil, tetapi tidak terlalu tinggi. Selain itu, hasil awal negosiasi upah musim semi “shunto” 2026 menunjukkan kenaikan gaji rata-rata sekitar 3,5%, cukup kuat namun di bawah puncak tahun 2025. Jika melihat angka akhir PDB akhir 2025 yang menunjukkan pertumbuhan kecil, ini menguatkan pesan bahwa ekonomi tidak terlalu panas. Ini memberi ruang bagi bank sentral untuk bergerak pelan. Dengan USD/JPY diperdagangkan sekitar 156,25, bahasa bank sentral menunjukkan mereka tidak akan panik terhadap pergerakan pasar atau mengejar nilai tukar dengan kenaikan suku bunga mendadak. Mereka menyatakan khawatir bisa diserang spekulan (pelaku yang mengambil untung dari pergerakan harga jangka pendek) bila bereaksi berlebihan terhadap perubahan pasar. Kepastian arah ini menyiratkan batas seberapa kuat yen dalam jangka pendek. Untuk strategi opsi (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual di harga tertentu), sinyal proses yang lambat ini menunjukkan volatilitas tersirat (perkiraan gejolak harga yang “tercermin” dalam harga opsi) pada pasangan yen bisa terlalu tinggi. Kita bisa mempertimbangkan posisi untuk perdagangan dalam kisaran (harga bolak-balik dalam rentang) daripada penembusan tajam. Menjual volatilitas USD/JPY bisa jadi strategi yang layak, karena arah bank sentral terlihat jelas untuk beberapa bulan ke depan. Di pasar suku bunga, ini berarti kita perlu mengantisipasi kemiringan kurva imbal hasil obligasi pemerintah Jepang yang naik perlahan (yield curve: hubungan imbal hasil obligasi untuk berbagai tenor; “steepening” berarti selisih imbal hasil jangka panjang vs jangka pendek melebar). Jalur menuju suku bunga kebijakan netral akan panjang, jadi pasar tidak seharusnya memasang harga untuk rangkaian kenaikan cepat. Ini membuat posisi untuk kenaikan suku bunga jangka pendek yang pelan dan mudah diprediksi menjadi langkah yang paling bijak.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Selama sesi Asia, GBP/USD pulih mendekati 1,3450, tetap bearish di dalam kanal menurun, mengincar rata-rata 1,3500.

GBP/USD pulih dari penurunan sebelumnya dan diperdagangkan dekat 1,3450 pada sesi Asia hari Senin. Grafik harian masih menunjukkan kecenderungan turun (bearish), dengan harga bergerak di dalam *descending channel* (saluran tren menurun, yaitu pola ketika harga membentuk puncak dan lembah yang makin rendah). Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di 40, menunjukkan tekanan bearish masih berlangsung tanpa masuk area *oversold* (jenuh jual, yaitu kondisi ketika penurunan sudah terlalu jauh dan berpotensi memantul). Ini berarti penjual masih menguasai, tetapi belum ada aksi jual yang ekstrem.

Near Term Technical Outlook

Nada jangka dekat tetap sedikit bearish karena pasangan ini bertahan di bawah Exponential Moving Average (EMA) 9 hari (rata-rata pergerakan yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru). Harga juga bergerak mendekati rata-rata 50 hari yang lebih datar, menandakan dorongan naik mulai melemah. Support (area penopang harga) pertama terlihat dekat 1,3350. Support berikutnya mencakup area saluran turun sekitar 1,3140 dan level terendah 10 bulan di 1,3010. Resistance (area penghambat kenaikan) berada di EMA 9 hari pada 1,3504, lalu EMA 50 hari pada 1,3518. Jika harga menembus di atas level ini, harga bisa bergerak menuju batas atas saluran dekat 1,3630, lalu 1,3869, level tertinggi sejak September 2021 yang tercetak pada 27 Januari. Kami ingat bahwa pada periode sekitar tahun 2025, gambaran teknikal GBP/USD jelas bearish karena pasangan ini bergerak dalam saluran turun. Analisis itu terbukti, karena pertumbuhan ekonomi Inggris yang lambat sepanjang pertengahan 2025 mendorong pasangan ini turun menuju zona support 1,3140. Pergerakan harga historis ini menjadi peta penting untuk level yang dipantau saat ini.

Fundamentals And Strategy

Kondisi sekarang tampaknya mulai berubah, membuka peluang pembalikan arah dari tren tahun lalu. Data terbaru dari Office for National Statistics (badan statistik resmi Inggris) menunjukkan inflasi Inggris turun ke 2,5%, lebih baik dari perkiraan pasar dan memberi Bank of England (Bank Sentral Inggris) lebih banyak ruang gerak. Prospek inflasi yang membaik ini memperkuat dasar (fundamental) untuk pound. Dari sisi AS, data ekonomi terbaru kurang kuat, dengan laporan Non-Farm Payrolls (NFP, data jumlah pekerjaan baru di luar sektor pertanian) terakhir menunjukkan perlambatan penciptaan kerja menjadi 150.000, di bawah perkiraan. Ini menurunkan harapan kebijakan Federal Reserve yang *hawkish* (lebih condong menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi), sehingga tenaga dolar melemah. Perbedaan kondisi ekonomi Inggris dan AS ini membentuk cerita baru bagi pelaku pasar. Karena itu, kita bisa mempertimbangkan posisi untuk potensi penguatan GBP/USD dalam beberapa minggu ke depan. Membeli *call options* (opsi beli, instrumen yang memberi hak membeli pada harga tertentu) dengan *strike price* (harga patokan opsi) sedikit di atas 1,3350—yang menjadi support tahun lalu—dapat menangkap peluang kenaikan. Jika penembusan berhasil, area sekitar 1,3500 kembali menjadi target utama. Untuk mengelola risiko penembusan palsu, kita bisa membeli *put options* (opsi jual, instrumen yang memberi hak menjual pada harga tertentu) dengan strike price dekat 1,3150. Level ini menjadi dasar penting saat penurunan 2025 dan bisa menjadi *hedge* (pelindung risiko) bila sentimen positif terbaru memudar. Strategi ini memungkinkan ikut peluang naik sambil membatasi risiko jika tekanan bearish tahun lalu kembali. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Pada bulan Februari, iklan lowongan kerja ANZ di Australia melambat menjadi 3,2%, turun dari 4,4% sebelumnya.

Iklan lowongan kerja ANZ (Australia and New Zealand Banking Group; salah satu bank besar) di Australia turun menjadi 3,2% pada Februari, dari 4,4% pada periode sebelumnya. Data ini menunjukkan pertumbuhan jumlah lowongan kerja yang diiklankan melambat dibandingkan angka sebelumnya.

Sinyal Pasar Tenaga Kerja Mendingin

Perlambatan iklan lowongan kerja Australia menjadi pertumbuhan 3,2% pada Februari menandakan pasar tenaga kerja (kondisi permintaan dan penawaran pekerja) mulai mendingin, yang kami anggap sebagai indikator utama (petunjuk awal untuk arah ekonomi). Ini berarti tekanan upah (kenaikan gaji yang mendorong biaya perusahaan) yang mengkhawatirkan Reserve Bank of Australia (RBA; bank sentral Australia) kemungkinan mereda dalam beberapa bulan ke depan. Data ini saja meningkatkan peluang bank sentral bersikap lebih longgar (dovish; cenderung menurunkan suku bunga atau tidak menaikkan lagi). Kami menilai ini menguatkan pandangan bahwa siklus pengetatan RBA (tindakan menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi) sudah benar-benar lewat, pandangan yang sudah terbentuk sepanjang 2025. Mengingat suku bunga acuan RBA (cash rate; suku bunga utama) bertahan di 4,35% selama lebih dari setahun, melemahnya data tenaga kerja ini meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga pada akhir 2026. Karena itu, trader dapat mempertimbangkan membeli kontrak berjangka obligasi pemerintah Australia 3 tahun (bond futures; kontrak untuk membeli/menjual obligasi di harga tertentu di masa depan) (YT) untuk bersiap jika imbal hasil turun (yield; tingkat “hasil”/bunga yang diterima investor obligasi). Data tenaga kerja ini penting, terutama karena rilis CPI (Consumer Price Index; indeks harga konsumen, ukuran inflasi) kuartalan terbaru masih di sekitar 3,5%, tetap di atas target RBA 2–3%. Namun, karena tingkat pengangguran nasional baru naik ke 4,2%, sinyal baru melemahnya pasar kerja ini kemungkinan lebih diperhatikan oleh RBA. Penurunan iklan lowongan kerja adalah indikator yang lebih “melihat ke depan” dibanding angka inflasi terakhir. Bagi trader mata uang, RBA yang lebih longgar membuat dolar Australia (AUD) kurang menarik, terutama jika bank sentral AS (US Federal Reserve/The Fed) tetap berhati-hati. Kami memperkirakan AUD/USD (nilai tukar AUD terhadap dolar AS), yang saat ini sekitar 0,6580, akan menghadapi hambatan kuat dan berpotensi turun. Membeli opsi put (kontrak yang memberi hak untuk menjual di harga tertentu; biasanya untung jika harga turun) pada AUD/USD bisa menjadi cara untuk memanfaatkan perkiraan pelemahan ini dalam beberapa minggu ke depan. Dari sisi saham, pesannya kurang jelas dan dapat membuat pergerakan harga makin tidak menentu (volatilitas; naik-turun harga yang lebih besar) untuk ASX 200 (indeks saham 200 perusahaan besar di Australia). Walau peluang suku bunga lebih rendah mendukung valuasi (penilaian harga saham), ekonomi yang melambat dapat menekan laba perusahaan.

Pendekatan Trading Volatilitas Saham

Kami mempertimbangkan memakai opsi, seperti straddle pada indeks XJO (strategi opsi: beli call dan put sekaligus di harga yang sama untuk mendapat potensi untung dari pergerakan besar ke atas atau ke bawah), untuk memperdagangkan perkiraan pasar yang lebih “bergejolak” daripada menebak arah yang pasti.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Di tengah ketegangan di Timur Tengah, yen tetap melemah seiring USD/JPY naik di awal pekan namun tertahan di bawah 157

USD/JPY naik di awal pekan dan kembali mendekati puncak naik minggu lalu, tetapi tetap di bawah 157,00 pada sesi Asia. Kenaikan ini tidak berlanjut. Pasar gelisah setelah serangan militer terkoordinasi AS–Israel ke Iran. Kekhawatiran Selat Hormuz (jalur laut penting untuk pengiriman minyak) bisa ditutup membuat orang takut harga minyak naik dan ekonomi global melambat, sehingga mendukung Dolar AS.

Faktor Pendorong Di Balik Pergerakan Awal

Permintaan terhadap aset yang lebih aman dan perkiraan bahwa Bank of Japan akan melanjutkan normalisasi kebijakan (mengurangi stimulus, misalnya menaikkan suku bunga) memberi dukungan pada Yen Jepang. Kekhawatiran akan tindakan resmi untuk membatasi pelemahan Yen lebih lanjut juga menekan USD/JPY. “Risk-on” dan “risk-off” menjelaskan seberapa besar pelaku pasar bersedia mengambil risiko. Risk-on berarti membeli aset yang lebih berisiko, sedangkan risk-off berarti pindah ke aset yang lebih aman. Dalam kondisi risk-on, saham, sebagian besar komoditas selain emas, mata uang yang terkait komoditas, dan kripto sering naik. Dalam kondisi risk-off, obligasi (surat utang), emas, dan mata uang aset aman seperti Dolar AS, Yen Jepang, dan Franc Swiss sering menguat. Dalam fase risk-on, Dolar Australia, Dolar Kanada, Dolar Selandia Baru, rubel, dan rand Afrika Selatan sering menguat. Dalam fase risk-off, Dolar AS, Yen, dan Franc Swiss cenderung menguat.

Bagaimana Trader Merespons

Kita melihat pasar bereaksi terhadap peristiwa risk-off besar akibat serangan militer ke Iran. Pelarian cepat ke aset aman mendorong Dolar AS, sehingga mendukung pasangan USD/JPY. Kontrak berjangka (futures: perjanjian jual-beli untuk tanggal mendatang) minyak Brent melonjak melewati $110 per barel dalam sepekan terakhir karena takut Selat Hormuz ditutup. Ini memperbesar kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan makin menguatkan dolar. Guncangan geopolitik ini terjadi saat data ekonomi AS masih kuat. Data Core PCE Price Index (ukuran inflasi inti, tidak memasukkan harga makanan dan energi) untuk Januari 2026 menunjukkan inflasi masih sulit turun di 3,1%. Ini membuat dolar diuntungkan karena didukung arus dana aset aman dan The Fed yang hawkish (cenderung menaikkan suku bunga/ketat terhadap inflasi). Trader derivatif (produk turunan seperti opsi dan futures) perlu memperhatikan tekanan naik pada pasangan ini ditopang dasar yang kuat. Namun, Yen Jepang juga mata uang aset aman, sehingga membatasi kenaikan pasangan ini di sekitar 157,00. Kita ingat intervensi besar Kementerian Keuangan pada musim gugur 2022 untuk mendukung yen ketika pasangan ini menembus 151. Ketakutan pejabat Jepang bisa masuk pasar kapan saja menciptakan hambatan kuat dan mencegah penembusan. Karena ada dua kekuatan yang saling berlawanan, volatilitas tersirat (perkiraan gejolak harga dari harga opsi) USD/JPY melonjak. Opsi 1 bulan kini mencerminkan ayunan yang jauh lebih besar dibanding awal tahun. Ini menunjukkan bahwa alih-alih bertaruh satu arah, trader bisa mempertimbangkan strategi yang untung dari volatilitas yang meningkat, seperti long straddle atau strangle (strategi opsi yang diuntungkan jika harga bergerak besar ke atas atau ke bawah). Pendekatan yang hati-hati juga mencakup penggunaan opsi untuk membatasi risiko. Membeli put jauh out-of-the-money (opsi jual dengan harga strike jauh dari harga saat ini, biasanya lebih murah) pada USD/JPY bisa menjadi lindung nilai (hedge: pelindung) berbiaya rendah terhadap turunnya ketegangan secara tiba-tiba atau intervensi mengejutkan dari otoritas Jepang. Ini seperti asuransi terhadap pembalikan turun yang tajam, yang masih mungkin terjadi. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Perdagangan Asia melihat WTI mendekati $70,65, level tertinggi sejak Juni 2025, di tengah kekhawatiran serangan AS-Israel.

WTI, acuan minyak mentah AS, diperdagangkan di dekat $70,65 pada awal jam perdagangan Asia pada hari Senin, naik di atas $70,50. Harga ini mencapai level tertinggi sejak Juni 2025 setelah serangan militer akhir pekan oleh AS dan Israel terhadap Iran. Laporan American Petroleum Institute (API)—lembaga industri minyak AS yang rutin merilis perkiraan data persediaan minyak—dijadwalkan rilis pada hari Selasa. Pasar juga bereaksi terhadap laporan meluasnya konflik, termasuk serangan drone (pesawat tanpa awak) dan rudal (peluru kendali) ke target yang terkait dengan Israel dan AS di Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Yordania.

Risiko Geopolitik Mendorong Harga Minyak Naik

CNBC melaporkan pada hari Minggu bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas. Laporan itu menyebutkan sebuah kelompok akan menjalankan negara hingga pemimpin baru ditetapkan. Trader sudah memasukkan (memperhitungkan) risiko tinggi bahwa Selat Hormuz bisa ditutup. Jalur ini dipakai untuk sekitar 20% pasokan minyak dunia, sehingga memicu kekhawatiran gangguan pasokan (pasokan terganggu atau terlambat). OPEC+ (kelompok OPEC dan negara mitra seperti Rusia yang mengatur produksi minyak) mengatakan pada hari Minggu akan menaikkan produksi minyak mentah. Kelompok itu sepakat menaikkan output sebesar 206.000 barel per hari (bpd), lebih tinggi dari perkiraan para analis. Dengan WTI melonjak ke harga tertinggi sejak Juni 2025, pasar perlu bersiap menghadapi volatilitas ekstrem (pergerakan harga yang sangat cepat dan tidak stabil). Konflik antara AS, Israel, dan Iran menambah premi risiko geopolitik (tambahan harga karena risiko perang/ketegangan) yang mendorong harga opsi naik. Volatilitas tersirat (perkiraan pasar soal besarnya pergerakan harga di masa depan yang tercermin pada harga opsi) pada opsi minyak melonjak, membuat posisi beli menjadi mahal, tetapi bisa sangat menguntungkan jika konflik memburuk. Pasar terfokus pada Selat Hormuz, titik sempit jalur pelayaran yang menjadi “bottleneck” (titik rawan tersumbat) bagi hampir 20% konsumsi minyak harian dunia. Kenaikan produksi OPEC+ yang relatif kecil, 206.000 barel per hari, dinilai tidak cukup untuk meredakan kekhawatiran gangguan pasokan besar bila selat itu ditutup. Tambahan produksi yang kecil ini tidak banyak mengubah pandangan jangka pendek yang masih cenderung naik untuk harga minyak mentah.

Pasar Bersiap Menghadapi Guncangan Pasokan

Kita pernah melihat situasi seperti ini, paling baru pada awal konflik Rusia-Ukraina tahun 2022 ketika Brent (acuan minyak global) melonjak dari $95 menjadi di atas $130 per barel. Serangan militer saat ini dan kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran menciptakan suasana takut dan tidak pasti yang mirip. Trader perlu mengantisipasi pergerakan harga yang tajam dan sulit diprediksi, dipicu oleh berita utama dalam beberapa hari ke depan. Faktor penting adalah terbatasnya kemampuan “bantalan” untuk menyerap guncangan pasokan sebesar ini. Cadangan Minyak Strategis AS (SPR)—stok minyak darurat milik pemerintah AS—berada di level rendah secara historis, sekitar 360 juta barel, setelah banyak dipakai pada tahun-tahun sebelumnya. Ini membatasi kemampuan Washington untuk menekan harga. Karena itu, laporan API hari Selasa tentang persediaan (inventori/stok minyak yang tersimpan) akan dipantau ketat untuk melihat tanda-tanda pasokan domestik AS makin ketat. Dengan ketidakpastian tinggi, membeli call option berjangka panjang (hak untuk membeli di harga tertentu sampai waktu tertentu) atau bull call spread (strategi opsi: membeli call dan menjual call lain di harga lebih tinggi untuk menekan biaya) dinilai sebagai strategi yang lebih hati-hati untuk mengejar potensi kenaikan sambil membatasi risiko. Volatilitas tersirat yang tinggi membuat menjual opsi tanpa perlindungan (naked options: menjual opsi tanpa punya posisi penutup) sangat berbahaya, karena satu berita bisa memicu kerugian besar. Posisi diarahkan untuk harga yang lebih tinggi, sambil mengendalikan biaya dari pandangan tersebut. Kekosongan kepemimpinan di Iran setelah kematian Ayatollah Khamenei membuat krisis ini kemungkinan tidak cepat selesai. Ini menciptakan periode ketidakstabilan yang dapat bertahan dan cenderung menahan harga minyak tetap tinggi selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Pasar kemungkinan melihat penurunan harga sebagai peluang beli sampai ada penurunan ketegangan yang jelas. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

PMI Manufaktur AIB Irlandia naik ke 53,1 dari 52,2, mengindikasikan aktivitas pabrik yang lebih kuat pada Februari.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur AIB Irlandia naik menjadi 53,1 pada Februari. Bulan sebelumnya 52,2. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur sedang berkembang. Perubahan ini berarti laju pertumbuhan pada Februari lebih cepat dibanding Januari.

Momentum Manufaktur Irlandia Meningkat

Kenaikan PMI Manufaktur AIB Irlandia ke 53,1 adalah sinyal jelas bahwa pertumbuhan makin cepat. Ini menunjukkan produksi pabrik dan pesanan baru yang lebih kuat sedang mendorong pergerakan ekonomi menuju kuartal kedua. Ini bisa dibaca sebagai indikator positif untuk ekonomi Irlandia. Data ini memperkuat alasan untuk mempertimbangkan call option pada indeks ISEQ 20 atau ETF yang mengikuti saham Irlandia. (Call option adalah kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu; ETF adalah produk investasi yang diperdagangkan seperti saham dan isinya mengikuti indeks/kelompok aset). Jika melihat data sebelumnya, lonjakan serupa pada kuartal ketiga 2025 terjadi sebelum kenaikan saham industri dan saham yang bergantung pada ekspor. Per Januari 2026, pengangguran Irlandia tetap rendah di 4,4%, dan pembacaan PMI ini mengarah bahwa kondisi itu bisa berlanjut, sehingga mendukung saham dalam negeri. Kekuatan di ekonomi inti kawasan Euro ini bisa menjadi pendorong bagi Euro, terutama terhadap Pound Inggris. Ada peluang pada call option EUR/GBP, karena Bank of England masih memberi sinyal outlook ekonomi yang lebih hati-hati dibanding optimisme yang mulai muncul di beberapa bagian Eropa. (EUR/GBP adalah nilai tukar Euro terhadap Pound; outlook adalah perkiraan arah kondisi ekonomi). Perbedaan arah ini bisa mendorong pasangan mata uang tersebut naik dalam beberapa minggu ke depan. Data kuat ini juga bisa membuat Bank Sentral Eropa (ECB) lebih ragu untuk menurunkan suku bunga. Dengan inflasi inti kawasan Euro yang masih sulit turun dan bertahan di sekitar 2,9%, kinerja Irlandia yang kuat menambah alasan untuk menjaga kebijakan tetap ketat. (Inflasi inti adalah inflasi tanpa komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan makanan; kebijakan ketat berarti suku bunga cenderung dipertahankan tinggi). Ini bisa membuka peluang pada futures suku bunga jangka pendek, dengan taruhan bahwa suku bunga akan bertahan lebih tinggi lebih lama dari perkiraan pasar. (Futures adalah kontrak untuk membeli/menjual di masa depan; “taruhan” di sini maksudnya strategi trading berdasarkan perkiraan arah suku bunga).

Risiko Utama Dan Pertimbangan Posisi

Walau sinyalnya positif, rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) Irlandia dan kawasan Euro yang akan datang perlu dipantau untuk tanda inflasi terlalu panas. (CPI adalah ukuran rata-rata perubahan harga barang dan jasa yang dibayar konsumen; “terlalu panas” berarti inflasi naik terlalu cepat). Kenaikan inflasi yang tajam bisa membuat pasar gelisah, jadi menggunakan options spread bisa menjadi cara yang lebih aman untuk membatasi risiko. (Options spread adalah strategi menggabungkan beberapa option untuk membatasi risiko sekaligus tetap punya peluang untung). Ini membantu menangkap potensi kenaikan dari kekuatan manufaktur sambil melindungi dari perubahan sentimen yang tiba-tiba. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Back To Top
server

Halo 👋

Bagaimana saya bisa membantu?

Ngobrol langsung dengan tim kami

Obrolan Langsung

Mulai percakapan langsung lewat...

  • Telegram
    hold Ditangguhkan
  • Segera hadir...

Halo 👋

Bagaimana saya bisa membantu?

telegram

Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

QR code