Di tengah konflik Timur Tengah, para pembeli mendorong Indeks Dolar AS mendekati 98,00 pada awal perdagangan Asia.

Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan di dekat 98,00 pada awal jam perdagangan Asia pada hari Senin. Permintaan naik karena pedagang beralih ke aset *safe haven* (aset yang biasanya dianggap lebih aman saat krisis, misalnya dolar AS, emas, atau obligasi pemerintah) ketika konflik di Timur Tengah meningkat. Dolar AS mendapat dukungan setelah aksi militer akhir pekan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Serangan udara berlanjut, dengan rudal Iran menargetkan Tel Aviv dan negara-negara di Teluk Persia, sementara Israel terus menyerang Iran.

Permintaan Safe Haven Mendukung Dolar

Pergerakan ini mengikuti beberapa minggu peringatan AS tentang program senjata nuklir Iran. Situasi ini juga terjadi setelah bentrokan antara para demonstran dan pemerintah Iran. Data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang lebih tinggi dari perkiraan juga mendukung Dolar. PPI (ukuran perubahan harga di tingkat produsen/pabrik) memperkuat perkiraan bahwa Federal Reserve (Fed, bank sentral AS) mungkin mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama. Kenaikan DXY dibatasi oleh ketidakpastian kebijakan tarif AS. Pada 20 Februari, Mahkamah Agung AS membatalkan tarif “timbal balik” Presiden Donald Trump. Setelah itu, ia menggunakan Section 122 dari Trade Act 1974 (bagian aturan perdagangan AS yang memberi wewenang tertentu untuk menerapkan tarif) untuk memberlakukan rezim tarif global baru. Dolar AS adalah mata uang Amerika Serikat dan digunakan luas di luar negeri bersama uang kertas lokal. Dolar mencakup lebih dari 88% transaksi valas global, atau sekitar $6,6 triliun per hari, berdasarkan data 2022.

Prospek Kebijakan Fed Dan Posisi Pasar

Target inflasi Fed adalah 2%, dan Fed menyesuaikan suku bunga untuk mengelola inflasi dan lapangan kerja. *Quantitative easing* (pelonggaran kuantitatif: Fed menambah uang beredar dengan membeli aset seperti obligasi untuk mendorong ekonomi) dapat melemahkan Dolar, sementara *quantitative tightening* (pengetatan kuantitatif: Fed mengurangi dukungan dengan mengurangi pembelian/mengecilkan neraca) cenderung mendukung Dolar. Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

WTI melonjak lebih dari 8% saat ketegangan dengan Iran membatasi Selat Hormuz, dibuka jauh lebih tinggi dan menembus ambang $72.

WTI memulai hari Senin dengan celah harga (price gap: lonjakan harga saat pasar dibuka sehingga ada “jarak” dari harga penutupan sebelumnya) lebih dari 5% lalu naik lebih dari 8%, menembus $72. Pergerakan ini mengikuti konflik baru antara AS dan Iran, dengan dukungan dari Israel. AS dan Israel melakukan serangan ke Iran pada hari Sabtu. Setelah serangan, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan penghentian pengiriman melalui Selat Hormuz.

Guncangan Pasokan Selat Hormuz

Lebih dari 20% minyak dunia melewati Selat Hormuz. Reuters melaporkan banyak pemilik kapal tanker, perusahaan minyak, dan perusahaan perdagangan menghentikan sementara pengiriman minyak mentah (crude: minyak yang belum diolah), bahan bakar, dan gas alam cair (LNG: gas yang didinginkan hingga menjadi cair agar mudah diangkut) melalui jalur air tersebut. Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi militer di Iran akan berlanjut sampai tujuan AS tercapai. Pergerakan harga berikutnya bergantung pada kabar terbaru tentang konflik. Pasar juga bereaksi terhadap OPEC+ yang menyetujui kenaikan produksi 206.000 barel per hari untuk April. Kenaikan ini lebih tinggi dari perkiraan analis.

Penentuan Posisi Menghadapi Pergerakan Tajam

Dengan rumor ketidakstabilan baru di kawasan, kami melihat CBOE Crude Oil Volatility Index (OVX) (indeks volatilitas: ukuran seberapa besar pasar memperkirakan harga bisa naik-turun) bertahan tinggi di level 38. Ini menunjukkan pelaku pasar menilai risiko besar terhadap gangguan pasokan. Artinya premi opsi (biaya opsi: harga yang dibayar untuk membeli “hak” jual/beli) mahal, karena pasar takut gangguan pengiriman terulang. Jadi, hanya membeli long call (opsi beli: hak untuk membeli pada harga tertentu) bisa menjadi strategi yang sangat mahal untuk mengejar peluang kenaikan. Karena biaya opsi tinggi, kita bisa mempertimbangkan vertical call spread (gabungan dua opsi beli dengan harga target berbeda). Caranya: membeli call dengan strike lebih rendah (strike: harga patokan opsi) dan menjual call dengan strike lebih tinggi. Ini menurunkan biaya masuk, sambil tetap bisa untung jika harga minyak naik. Strategi ini menjaga pandangan tetap positif tanpa membayar terlalu mahal untuk volatilitas. Untuk mengurangi risiko bila ketegangan tiba-tiba mereda atau ada pelepasan terkoordinasi dari Strategic Petroleum Reserve (SPR: cadangan minyak darurat milik pemerintah AS), membeli put (opsi jual: hak untuk menjual pada harga tertentu) atau memakai put spread (gabungan dua opsi jual) tetap masuk akal. Ini seperti asuransi jika situasi geopolitik mendadak tenang. Selain itu, perlu dicatat pasar fisik (pasar barang nyata: transaksi minyak sungguhan, bukan kontrak) lebih ketat dibanding 2025. Data terbaru Energy Information Administration (EIA) (lembaga data energi pemerintah AS) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun hampir 9 juta barel selama sebulan terakhir, sehingga cadangan penyangga lebih kecil. Keketatan ini berarti guncangan pasokan baru bisa mendorong harga naik lebih kuat. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Sterling melemah ke bawah 1,3450 seiring penguatan dolar, didorong oleh ketegangan di Timur Tengah dan ketidakpastian politik di Inggris

GBP/USD turun ke sekitar 1,3420 pada awal perdagangan Asia hari Senin karena Dolar AS sedikit menguat. Pergerakan ini terjadi setelah ketegangan Timur Tengah meningkat usai serangan AS–Israel ke Iran pada akhir pekan. Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan militer di berbagai wilayah Iran setelah beberapa minggu Washington memberi peringatan soal program nuklir Iran (program pengembangan teknologi nuklir yang dikhawatirkan bisa dipakai untuk membuat senjata). Serangan akhir pekan itu meningkatkan kekhawatiran perang regional yang lebih luas, sehingga permintaan aset “safe-haven” (aset yang dianggap lebih aman saat krisis) terhadap Dolar AS naik dan menekan pasangan ini.

Tekanan Politik dan Kebijakan Uang di Inggris

Di Inggris, Partai Labour kalah dalam pemilihan sela (by-election: pemilihan untuk mengganti kursi yang kosong di tengah masa jabatan) di Gorton dan Denton, sehingga muncul pertanyaan soal kepemimpinan Perdana Menteri Keir Starmer. Perkiraan bahwa Bank of England akan lebih longgar juga menambah tekanan pada Pound dalam jangka dekat. Konflik yang makin memanas di Timur Tengah menambah ketidakpastian besar di pasar, mendorong investor mencari aset yang lebih aman. Dolar AS diuntungkan dari situasi ini, terlihat dari indeks volatilitas mata uang (ukuran seberapa besar naik-turun harga mata uang) yang melonjak lebih dari 15% dalam 48 jam terakhir. Sikap defensif ini menjadi faktor utama yang menekan GBP/USD. Dampak langsung serangan ke Iran terasa di pasar energi, dengan kontrak berjangka Brent (Brent crude futures: kontrak untuk membeli/menjual minyak Brent di harga tertentu pada waktu mendatang) melonjak melewati $115 per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun. Kenaikan tajam harga minyak ini memicu kekhawatiran inflasi global (kenaikan harga secara umum) dan perlambatan ekonomi, sehingga alasan untuk memegang aset aman makin kuat. Kondisi ini membuat mata uang yang lebih berisiko seperti Pound Sterling (mata uang Inggris) jadi kurang menarik. Kondisi serupa terjadi pada tahap awal konflik Ukraina tahun 2022, saat indeks dolar (DXY: ukuran kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama) naik tajam selama beberapa pekan. Periode itu menunjukkan guncangan geopolitik bisa membentuk tren yang bertahan di pasar mata uang. Pelaku pasar perlu mengantisipasi pola penguatan dolar yang mirip jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut.

Peluang BoE dan Prospek Sterling

Dari sisi Inggris, situasi politik menambah kelemahan pound. Kekalahan pemilihan sela terbaru memicu kekhawatiran, dengan jajak pendapat YouGov terbaru menunjukkan tingkat persetujuan terhadap pemerintah Labour turun 8 poin menjadi 35%. Ketidakstabilan politik ini menciptakan kondisi yang sulit bagi mata uang. Selain itu, sikap “dovish” Bank of England (dovish: cenderung memilih suku bunga lebih rendah untuk mendukung ekonomi) kini semakin kuat diperhitungkan pasar. Overnight Index Swaps (OIS: instrumen/kontrak di pasar untuk memperkirakan arah suku bunga kebijakan) saat ini menunjukkan peluang lebih dari 70% untuk pemangkasan suku bunga 25 basis poin (basis poin: 0,01%; jadi 25 bps = 0,25%) pada rapat Bank berikutnya. Perbedaan kebijakan ini dengan Federal Reserve AS yang lebih hati-hati memberi tekanan fundamental pada pound. Kita bisa melihat kembali gejolak politik akhir 2022, saat masa jabatan singkat PM Truss, untuk mengingat betapa sensitifnya pound terhadap politik domestik dan kredibilitas fiskal (kepercayaan pasar pada kemampuan pemerintah mengelola anggaran dan utang). Saat itu pasar menghukum pound keras hingga turun ke level terendah terhadap dolar. Riwayat ini menunjukkan gabungan keraguan politik dan perkiraan pemangkasan suku bunga saat ini adalah kombinasi negatif bagi Sterling. Dengan dua tekanan ini—dolar lebih kuat dan pound lebih lemah—sebagian pelaku pasar mungkin mempertimbangkan strategi yang diuntungkan jika GBP/USD turun. Membeli opsi jual (put options: kontrak yang memberi hak untuk menjual aset di harga tertentu; biasanya untung saat harga turun) pada pound memberi cara dengan risiko yang lebih terukur untuk memanfaatkan potensi penurunan lanjutan dan lonjakan volatilitas. Menjual kontrak berjangka GBP/USD (futures: kontrak untuk transaksi di masa depan pada harga yang disepakati) adalah pendekatan yang lebih langsung bagi yang memperkirakan tren turun berlanjut dalam beberapa minggu ke depan.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Di tengah serangan AS dan Israel yang terus berlanjut terhadap Iran, investor berbondong-bondong ke emas, mendorong harga mendekati $5.400

Emas naik lebih dari 2% menuju $5.400 setelah laporan tentang serangan lanjutan AS dan Israel terhadap Iran. Emas dibuka dengan *gap* naik (selisih harga pembukaan yang lebih tinggi dari penutupan sebelumnya) sekitar $17 dan bergerak naik pada awal perdagangan Asia. Saat artikel ini ditulis, emas naik 1,50% pada hari itu di sekitar $5.350. Para pedagang memantau konflik untuk melihat tanda-tanda berapa lama konflik ini akan berlanjut.

Guncangan Minyak Dan Permintaan Aset Aman

Iran telah menghentikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, sehingga harga minyak naik dan perkiraan inflasi (kenaikan harga barang/jasa secara umum) meningkat. Hal ini mendukung permintaan emas. Emas sudah lama dipakai sebagai penyimpan nilai (aset yang cenderung menjaga daya beli) dan alat tukar. Emas juga dipakai untuk perhiasan dan sering dibeli saat pasar sedang tegang. Bank sentral adalah pemegang emas terbesar dan memakainya untuk diversifikasi cadangan (membagi simpanan ke beberapa aset agar risiko tidak terkonsentrasi). Pada 2022, mereka menambah 1.136 ton emas senilai sekitar $70 miliar, total tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai, dengan China, India, dan Turki menaikkan cadangan. Harga emas sering bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS dan obligasi pemerintah AS (US Treasuries, surat utang yang diterbitkan pemerintah AS). Harganya juga bisa bereaksi terhadap risiko geopolitik, ketakutan resesi (perlambatan ekonomi yang dalam), dan perubahan suku bunga. Emas diperdagangkan dalam dolar AS dengan kode XAU/USD (harga emas terhadap dolar AS).

Volatilitas Pasar Dan Lindung Nilai

Dengan emas melesat melewati $5.300, kita harus siap menghadapi volatilitas (naik-turun harga yang tajam) dalam beberapa minggu ke depan. Kenaikan awal ini adalah reaksi langsung terhadap konflik di Timur Tengah, yaitu aksi “lari ke aset aman” (memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman) yang masih bisa berlanjut. Pedagang derivatif (produk turunan seperti opsi dan futures) sebaiknya melihat opsi beli (*call option*, hak untuk membeli pada harga tertentu) pada emas, karena level *strike* (harga patokan dalam kontrak opsi) di $5.500 bahkan $6.000 kini mulai diperhitungkan jika konflik membesar. Indikator ketakutan pasar, VIX (indeks yang mengukur perkiraan gejolak pasar saham AS), sudah melonjak lebih dari 40% ke 38, level tertinggi sejak gejolak perbankan pada 2025. Ini membuat membeli opsi lebih mahal, tetapi melindungi portofolio saham jangka panjang dengan opsi jual indeks (*index put*, hak menjual indeks pada harga tertentu untuk membatasi rugi) kini sangat penting. Kami memperkirakan volatilitas tersirat (*implied volatility*, perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) akan tetap tinggi selama ketegangan geopolitik menjadi penggerak utama pasar. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran adalah faktor paling besar untuk inflasi yang lebih luas. Minyak Brent sudah naik 15% menjadi di atas $120 per barel, level yang akan langsung berarti biaya energi lebih tinggi dan menekan bank sentral. Ini memperkuat alasan emas sebagai pelindung inflasi (*inflation hedge*, aset yang diharapkan tahan saat inflasi naik), tren yang terlihat sepanjang 2025 ketika inflasi global rata-rata tetap tinggi di 4,1%. Ini bukan waktu untuk lengah pada aset berisiko (seperti saham), karena korelasi berlawanan (satu naik saat yang lain turun) sedang terlihat jelas. Seperti krisis sebelumnya, misalnya guncangan awal perang Ukraina pada 2022, pasar saham kemungkinan bergerak turun saat modal mencari tempat aman. Kami melihat futures S&P 500 (kontrak berjangka yang mencerminkan perkiraan arah indeks S&P 500) mengarah pada pembukaan yang jauh lebih rendah, dengan pedagang sudah memperhitungkan risiko yang meningkat. Walau Dolar AS juga dianggap aset aman, guncangan inflasi mendadak dari minyak membuat arahnya lebih rumit. Dolar yang lebih kuat biasanya membatasi kenaikan emas, tetapi pasar kini bertaruh bahwa inflasi yang bertahan bisa memaksa The Fed (bank sentral AS) berada dalam posisi sulit terkait suku bunga. Pantau indeks DXY (indeks kekuatan Dolar AS terhadap beberapa mata uang utama), karena pelemahan di bawah level 102 bisa menjadi pendorong tambahan bagi emas. Ingat bahwa bank sentral telah menjadi penopang kuat bagi harga emas. Mereka melanjutkan pembelian besar sepanjang 2025, menambah lebih dari 1.000 ton ke cadangan sebagai langkah mengurangi ketergantungan pada dolar (*de-dollarize*, mengurangi penggunaan/ketergantungan pada Dolar AS). Permintaan dasar ini menunjukkan bahwa setiap penurunan harga emas kemungkinan dianggap sebagai peluang beli oleh pelaku besar. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Di tengah eskalasi konflik AS–Israel–Iran, Yen Jepang bersaing dengan Dolar AS saat investor mencari aset aman

Yen Jepang menguat terhadap Dolar AS karena konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki hari ketiga. Pasangan USD/JPY masih mencatat kenaikan kecil, terbagi antara kekuatan Dolar AS secara luas dan meningkatnya permintaan Yen sebagai mata uang *safe haven* (aset yang biasanya dicari saat pasar panik karena dianggap lebih aman). Amerika Serikat melancarkan serangan yang masih berlangsung terhadap pimpinan dan militer Iran bersama Israel. Laporan tersebut menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas, dan menyatakan Teheran diperkirakan akan membalas.

Fokus Pasar Dan Permintaan Safe Haven

Pasar berfokus pada apakah pertempuran ini berubah menjadi konflik kawasan yang lebih luas di Timur Tengah. Jika itu terjadi, harga minyak bisa naik, inflasi (kenaikan harga barang secara umum) meningkat, dan pertumbuhan ekonomi global melemah. Yen juga didukung oleh perkiraan kenaikan suku bunga dari Bank of Japan (bank sentral Jepang, yaitu lembaga yang mengatur kebijakan uang dan suku bunga). Sebaliknya, Federal Reserve AS (bank sentral AS) masih diperkirakan akan menurunkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang, yang menekan Dolar AS. Kami menilai fokus utama dalam beberapa minggu ke depan adalah volatilitas pasar (naik-turun harga yang cepat dan besar). VIX, indikator “ketakutan” pasar (ukurannya menunjukkan seberapa besar perkiraan gejolak pasar), sudah melonjak dari kisaran tenang 13–15 yang terlihat pada sebagian besar 2025 ke kisaran tinggi 20-an. Ini mirip dengan guncangan awal konflik Ukraina pada 2022, sehingga memanfaatkan volatilitas melalui opsi (kontrak yang memberi hak untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu, dengan risiko yang biasanya terbatas pada premi/biaya opsi) terlihat masuk akal. Risiko konflik yang lebih luas yang secara langsung mengancam Selat Hormuz (jalur laut penting untuk pengiriman minyak) membuat lonjakan tajam harga minyak menjadi skenario yang paling kami yakini. Kami bersiap untuk pergerakan seperti awal 2022, ketika minyak Brent (patokan harga minyak dunia) melonjak lebih dari 30% dalam beberapa minggu dari level sebelum konflik sekitar $90 per barel. Membeli opsi call *out-of-the-money* pada kontrak berjangka minyak (opsi beli dengan harga target di atas harga saat ini; kontrak berjangka adalah perjanjian beli/jual di masa depan) memberi potensi untung besar dengan risiko yang sudah ditentukan.

Strategi Opsi Untuk USD JPY

Untuk pasangan USD/JPY, situasinya seperti tarik-menarik antara dua aset aman, sehingga sulit menentukan arah harga dalam waktu dekat. Peran dolar sebagai mata uang cadangan dunia (mata uang utama yang banyak dipakai dalam perdagangan dan simpanan global) berhadapan dengan daya tarik yen saat gejolak, sehingga ketidakpastian sangat tinggi. Karena itu, kami melihat strategi seperti *long straddle* atau *long strangle* (strategi opsi yang dapat untung jika harga bergerak besar ke atas atau ke bawah; straddle biasanya membeli call dan put pada harga yang sama, strangle pada harga yang berbeda) yang mengambil manfaat ketika pasangan ini keluar dari rentang sempitnya. Konflik ini mengacak perkiraan arah kebijakan bank sentral yang kami pegang pekan lalu. Pasar sebelumnya menilai peluang lebih dari 70% bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga pada Juni, tetapi lonjakan harga minyak kini mengancam gelombang inflasi baru yang bisa menunda atau membatalkan rencana itu. Ketidakpastian ini, ditambah sikap *hawkish* Bank of Japan (cenderung menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi), membuat pembelian opsi put pada indeks saham (opsi jual sebagai pelindung jika pasar turun; indeks saham adalah ukuran gabungan pergerakan banyak saham) menjadi lindung nilai (hedge: cara mengurangi risiko) yang diperlukan terhadap perlambatan pertumbuhan global.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Meningkatnya konflik Timur Tengah memicu permintaan Dolar sebagai aset safe-haven, mendorong EUR/USD menuju 1,1770 pada awal perdagangan Asia.

EUR/USD turun mendekati 1,1770 pada awal perdagangan Asia hari Senin, karena permintaan terhadap Dolar AS meningkat. Dolar menguat terhadap Euro karena konflik yang meningkat di Timur Tengah membuat pasar lebih waspada dan mendorong mata uang “safe haven” (aset yang biasanya dicari saat kondisi tidak pasti, seperti Dolar AS). CNBC melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar dan masih berlangsung terhadap pimpinan dan militer Iran. Serangan udara dilaporkan terus berlanjut di seluruh wilayah tersebut.

Eskalasi Mendorong Permintaan Aset Aman

Rudal Iran dilaporkan menargetkan Tel Aviv dan negara-negara di Teluk Persia, sementara Israel melanjutkan serangan ke Iran. Kekhawatiran eskalasi yang lebih luas dikaitkan dengan dukungan tambahan untuk Dolar AS dalam waktu dekat. John Briggs, kepala strategi suku bunga AS di Natixis, mengatakan para trader mengambil pendekatan “utamakan aset aman, urusan lain belakangan”. Ia mengatakan skala serangan dan balasan Iran lebih besar dari perkiraan pasar. Reaksi pasar yang cepat membuat kita perlu fokus pada volatilitas (naik-turun harga yang tajam) sebagai “kelas aset” tersendiri. Indeks Volatilitas CBOE (VIX, ukuran ketakutan/ketidakpastian pasar saham AS) sudah melonjak lebih dari 45% dalam 24 jam terakhir, naik di atas 30, level yang jarang bertahan sejak gejolak perbankan 2023. Ini berarti sebaiknya “membeli volatilitas” (memasang strategi yang untung saat pergerakan harga membesar), bukan menjualnya, dengan opsi (kontrak yang memberi hak membeli/menjual di harga tertentu) pada indeks utama menjadi jauh lebih mahal dari waktu ke waktu. Di pasar mata uang, perpindahan dana ke Dolar AS adalah transaksi utama, dan kita perlu menyesuaikan posisi. Kita bisa mempertimbangkan membeli opsi put (opsi untuk menjual, biasanya diuntungkan saat harga turun) pada Euro atau memakai futures (kontrak berjangka) untuk melakukan short (bertaruh harga turun) pada pasangan EUR/USD secara langsung, menargetkan level di bawah 1,15 dalam waktu dekat. Jika melihat dari sudut pandang 2025, penurunan tajam EUR/USD saat krisis Ukraina 2022 menjadi contoh jelas untuk arus dana yang lari ke Dolar AS.

Guncangan Energi dan Posisi Bertahan

Konflik ini langsung mengancam pasokan energi global, sehingga posisi long (bertaruh harga naik) pada minyak mentah menjadi penting. Futures Brent (kontrak berjangka minyak Brent) sudah melonjak lebih dari $15 dan diperdagangkan di atas $110 per barel, mencerminkan ketakutan gangguan pasokan di Selat Hormuz (jalur utama pengiriman minyak). Membeli opsi call (opsi untuk membeli, biasanya untung saat harga naik) pada ETF minyak (produk mirip reksa dana yang diperdagangkan seperti saham, mengikuti harga minyak) atau long pada kontrak futures adalah langkah langsung untuk menangkap potensi kenaikan lanjutan. Emas juga menjadi aset aman utama, dengan harga mendekati $2.400 per ons karena investor melakukan lindung nilai (hedging, upaya mengurangi risiko) terhadap ketidakstabilan luas. Kita bisa mendapatkan eksposur (paparan investasi) lewat opsi call pada saham penambang emas atau langsung melalui futures emas. Berbeda dari krisis sebelumnya, skala konflik ini memperkuat Dolar AS sebagai aset aman utama, lebih dibanding Yen atau Franc. Untuk pasar saham, strategi yang jelas adalah menambah posisi defensif (lebih tahan saat pasar turun) dengan membeli opsi put pada S&P 500 dan Nasdaq 100 (indeks saham AS). Maskapai, barang konsumsi non-primer, dan sektor lain yang sensitif terhadap harga minyak tinggi dan ketidakpastian ekonomi kemungkinan mengalami penurunan paling tajam. Kita perlu siap menghadapi kondisi risk-off (investor menghindari risiko) yang berkelanjutan, saat uang tunai dan aset aman lebih diprioritaskan.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Trump bersumpah pasukan AS akan terus melanjutkan operasi di Iran hingga Amerika mencapai semua tujuan yang telah dinyatakan.

Dalam pidato yang dirilis pada Senin pagi waktu Asia, Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi tempur (aksi militer langsung) AS di Iran masih berlangsung. Ia mengatakan aksi militer akan berlanjut sampai tujuan AS tercapai. Ia mengatakan AS telah menyerang ratusan target, termasuk fasilitas Garda Revolusi (pasukan elit militer Iran), sistem pertahanan udara (alat untuk menembak jatuh pesawat atau misil), sembilan kapal, dan sebuah bangunan angkatan laut. Ia kembali menegaskan operasi tempur masih berlanjut.

Eskalasi Dan Sinyal Strategis

Trump mengatakan kemungkinan akan ada lebih banyak korban dari pihak AS dan AS akan membalas kematian warga Amerika. Ia mengatakan rezim Iran yang memiliki misil jarak jauh (senjata roket yang bisa menyerang dari jarak sangat jauh) dan senjata nuklir (bom bertenaga nuklir) akan mengancam warga Amerika. Ia mengatakan para anggota parlemen AS tidak melihat ada rencana untuk Iran setelah serangan. Ia mendesak Garda Revolusi, militer Iran, dan polisi untuk menurunkan senjata dan menerima kekebalan (tidak dihukum) atau menghadapi kematian. Ia menyerukan warga Iran untuk memanfaatkan momen ini dan merebut kembali negara mereka. Ia juga mengatakan kepada warga Iran bahwa Amerika bersama mereka. Sifat operasi militer yang tanpa batas waktu ini langsung menambah “premi risiko” (biaya tambahan karena ketidakpastian) pada harga minyak mentah. Kita sudah melihat kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) (kontrak harga minyak AS untuk pengiriman di masa depan) melonjak lebih dari 8% ke $95 per barel, karena Selat Hormuz, titik sempit jalur pelayaran (chokepoint) untuk hampir 20% pasokan global, kini menjadi zona sengketa. Trader sebaiknya mengambil posisi pada opsi call jangka dekat (kontrak yang memberi hak membeli pada harga tertentu dalam waktu dekat) di minyak mentah dan ETF energi seperti XLE (reksa dana yang diperdagangkan di bursa yang mengikuti saham sektor energi) untuk memanfaatkan volatilitas (naik-turun harga) yang berlanjut.

Volatilitas Dan Penempatan Risiko

Komitmen tanpa batas ini memperbesar ketidakpastian pasar, artinya kita harus mengambil posisi di volatilitas (strategi untuk untung dari naik-turun harga). Indeks VIX (indeks “ketakutan” yang mengukur perkiraan volatilitas pasar saham AS) sudah melonjak 25% menjadi di atas 22 dalam perdagangan semalaman, pergerakan yang mengingatkan pada ketegangan awal 2025. Kita sebaiknya membeli opsi call VIX dengan strike (harga patokan) di kisaran 25–30, karena balasan langsung bisa membuat indeks melesat. Pasar saham secara umum akan menghadapi tekanan berat saat investor mengurangi risiko (de-risk: mengurangi aset berisiko). Kontrak berjangka S&P 500 sudah mengarah pada pembukaan yang lebih rendah, jadi membeli opsi put (kontrak yang memberi hak menjual pada harga tertentu) pada indeks besar seperti SPY (ETF yang mengikuti indeks S&P 500) adalah langkah bertahan utama untuk beberapa minggu ke depan. Kami memperkirakan sektor teknologi berorientasi pertumbuhan dan sektor barang konsumsi non-primer (consumer discretionary: barang/jasa yang tidak wajib) akan berkinerja jauh lebih buruk. Sebaliknya, penyebutan jelas soal serangan yang berlanjut ke banyak target menjadi sinyal beli langsung untuk sektor pertahanan. Kami menambah posisi opsi call pada perusahaan seperti Raytheon dan Lockheed Martin, yang secara historis berkinerja lebih baik saat konflik aktif seperti pada 2022. Pernyataan ini memastikan aliran kontrak pemerintah dan pesanan pengisian ulang amunisi.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, AUD/USD turun pada awal perdagangan Asia, bertahan di sekitar 0,7050.

AUD/USD turun ke sekitar 0,7055 pada awal perdagangan Asia pada hari Senin. Dolar AS menguat terhadap Dolar Australia karena ketegangan meningkat di Timur Tengah setelah AS dan Israel melancarkan serangan berkelanjutan terhadap pimpinan dan militer Iran. AS dan Israel memulai operasi tempur besar melawan Iran setelah serangan militer gabungan pada hari Sabtu. Televisi pemerintah Iran mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara di Teheran pada hari Sabtu.

Eskalasi Timur Tengah Mendorong Sikap Hindari Risiko

Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Yordania. Risiko konflik yang meluas mendukung Dolar AS dan menekan AUD/USD. Pasar memantau perkembangan lanjutan dalam ketegangan AS-Iran. Sejumlah analis juga menyoroti gejolak kebijakan AS di bawah pemerintahan saat ini sebagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan Dolar AS terhadap Dolar Australia. Karena risiko geopolitik meningkat tajam, kami memperkirakan volatilitas pasar akan naik dalam beberapa minggu ke depan. Trader dapat memperhatikan CBOE Volatility Index (VIX), yaitu indikator yang mengukur perkiraan naik-turunnya pasar saham (volatilitas) dengan melihat harga opsi pada indeks S&P 500; kemungkinan VIX sudah melonjak. Kami melihat pergerakan VIX yang mirip, dari di bawah 20 ke di atas 35, dalam beberapa minggu setelah awal konflik Ukraina pada awal 2022. Kondisi seperti ini membuat biaya premi opsi menjadi mahal, tetapi tetap diperlukan untuk lindung nilai (hedging), yaitu cara mengurangi risiko kerugian. Untuk pasangan AUD/USD, penurunan lanjutan terlihat mungkin karena dolar Australia biasanya melemah saat pasar menghindari risiko. Kami menilai membuka posisi bearish, yaitu posisi yang untung jika harga turun, melalui membeli opsi put pada AUD/USD adalah cara langsung untuk mendapat keuntungan atau melindungi diri dari penurunan lebih lanjut. Opsi put adalah kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk menjual pada harga tertentu. Secara historis, AUD sering bergerak searah dengan kinerja saham global, dan pernah turun tajam saat kejadian “risk-off” pada 2022.

Strategi Utama di Minyak, Emas, dan Saham

Dampak paling langsung ada pada minyak mentah, dengan peluang tinggi gangguan pasokan di Timur Tengah. Kami memperkirakan kenaikan cepat pada harga WTI dan Brent, yaitu dua patokan harga minyak mentah global. Kenaikannya bisa melampaui lonjakan 25% yang terlihat pada bulan setelah konflik Ukraina dimulai. Membeli opsi call atau call spread pada kontrak berjangka minyak atau ETF terkait dapat menjadi cara untuk memosisikan diri pada kenaikan ini. Opsi call adalah kontrak yang memberi hak untuk membeli pada harga tertentu, sedangkan call spread adalah strategi memakai dua opsi call untuk membatasi biaya dan potensi untung/rugi. Kontrak berjangka (futures) adalah perjanjian membeli/menjual aset pada harga dan tanggal tertentu. ETF adalah produk investasi yang diperdagangkan seperti saham dan biasanya mengikuti indeks atau aset tertentu. Perpindahan ke aset aman juga biasanya menguntungkan emas. Kami memperkirakan emas menembus level resistance terbaru, yaitu area harga yang sering menahan kenaikan, karena investor mencari perlindungan dari konflik dan gejolak pasar mata uang. Menggunakan kontrak berjangka emas atau opsi call pada ETF berbasis emas adalah strategi yang umum pada kondisi krisis seperti ini. Di pasar saham, kita perlu bersiap untuk tekanan jual yang luas pada indeks besar seperti S&P 500, yaitu indeks yang berisi 500 perusahaan besar AS. Membeli protective puts pada instrumen pelacak indeks adalah strategi lindung nilai yang bijak untuk portofolio yang sudah ada. Protective put berarti membeli opsi put untuk membatasi kerugian jika harga turun. Kami juga memperkirakan pergerakan khusus sektor, misalnya maskapai melemah karena biaya bahan bakar naik, dan saham sektor pertahanan berpotensi menguat, mirip seperti yang terjadi pada 2022.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

OPEC+ merencanakan kenaikan produksi yang moderat pada April seiring meningkatnya permusuhan Iran-Israel, dengan serangan balasan yang melibatkan pasukan AS.

OPEC+ mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka akan meningkatkan produksi minyak mentah saat pasukan AS dan Israel melancarkan serangan besar ke Iran, dan Iran melakukan serangan balasan terhadap Israel serta instalasi militer AS di sekitar Teluk. Kelompok itu menyepakati kenaikan produksi sebesar 206.000 barel per hari (bpd), lebih tinggi dari perkiraan sebagian analis.

Prospek Volatilitas Pasar

Pada saat berita ini ditulis, WTI naik 2,67% pada hari itu ke $67,20. Kita melihat pasar bereaksi terhadap risiko geopolitik besar, yang berarti volatilitas (naik-turunnya harga yang cepat dan tajam) menjadi faktor utama untuk beberapa pekan ke depan. Indeks Volatilitas Minyak Mentah CBOE (OVX)—indeks yang mengukur perkiraan naik-turun harga minyak berdasarkan harga opsi—kemungkinan melonjak jauh di atas level 45 poin yang terlihat saat kekhawatiran ekonomi pada akhir 2025. Ini menunjukkan trader perlu siap menghadapi perubahan harga harian yang lebar dan mempertimbangkan strategi yang bisa diuntungkan dari pergerakan besar ini. Kenaikan pasokan OPEC+ sebesar 206.000 bpd bersifat simbolis dan tidak banyak meredakan kekhawatiran pasokan jika konflik membesar. Dari data pelayaran 2025, lebih dari 18 juta barel minyak melewati Selat Hormuz setiap hari—jalur sempit yang menjadi titik “leher botol” (chokepoint: titik sempit yang jika terganggu bisa menghambat arus besar) dan kini berada di zona konflik langsung. Gangguan sedikit saja pada arus ini akan langsung mengalahkan kenaikan produksi yang kecil tadi dan mendorong harga jauh lebih tinggi. Namun, ini juga perlu ditimbang dengan potensi turunnya permintaan (demand destruction: permintaan turun karena harga tinggi atau kondisi ekonomi memburuk) jika konflik meluas dan memicu perlambatan ekonomi global. Laporan Badan Energi Internasional (IEA) Februari 2026 sudah menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan tahun itu menjadi hanya 1,1 juta bpd, dengan alasan data ekonomi yang melemah di akhir 2025. Resesi akibat perang (resesi: ekonomi menyusut/lesu) akan menekan permintaan lebih jauh, sehingga memberi tekanan turun yang kuat pada harga. Bagi trader yang menilai risiko pasokan sebagai faktor utama, membeli opsi call out-of-the-money pada futures minyak mentah Mei dan Juni 2026 adalah cara langsung untuk bertaruh pada lonjakan harga. (Opsi call: hak untuk membeli pada harga tertentu; out-of-the-money: harga patokan opsi lebih tinggi dari harga saat ini sehingga biasanya lebih murah, tetapi butuh kenaikan harga besar agar untung; futures: kontrak untuk membeli/menjual di masa depan pada harga tertentu.) Jika melihat minggu-minggu awal konflik Ukraina pada 2022, harga minyak sempat naik lebih dari 30%, menunjukkan betapa cepat pasar bereaksi terhadap peristiwa militer. Strategi ini memberi potensi untung besar jika pola serupa terulang.

Strategi Selisih Brent–WTI

Mereka yang memperkirakan konflik singkat atau resesi global yang cepat bisa melihat opsi put untuk bertaruh pada turunnya harga. (Opsi put: hak untuk menjual pada harga tertentu, biasanya untung jika harga turun.) Cadangan Minyak Strategis AS (U.S. Strategic Petroleum Reserve/SPR: persediaan minyak milik pemerintah untuk kondisi darurat), yang menurut data pemerintah sudah dibangun kembali hingga lebih dari 400 juta barel pada Januari 2026, bisa dilepas untuk menahan harga. Pelepasan terkoordinasi ditambah kekhawatiran resesi dapat membuat lonjakan harga awal berbalik turun tajam. Kami juga menyoroti perbedaan harga antara minyak Brent, patokan internasional, dan West Texas Intermediate (WTI). Selisih ini (spread: selisih harga antara dua acuan), yang berada di sekitar $5 pada kuartal terakhir 2025, kemungkinan melebar karena konflik lebih mengancam rantai pasok Brent dibanding WTI di Amerika. Memperdagangkan selisih ini bisa menjadi cara yang lebih tepat untuk memanfaatkan dampak krisis yang berbeda tiap wilayah.

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

PMI Manufaktur S&P Global Australia turun ke 51 dari 51,5 sebelumnya, menandakan ekspansi yang lebih lambat.

PMI (Indeks Manajer Pembelian, yaitu survei untuk mengukur kondisi bisnis) Manufaktur S&P Global Australia turun ke 51,0 pada Februari dari 51,5 pada bulan sebelumnya. Angka di atas 50 masih menunjukkan aktivitas manufaktur bertumbuh, sedangkan angka di bawah 50 menunjukkan penyusutan.

Momentum Manufaktur Australia Melambat

Data PMI manufaktur terbaru memberi sinyal jelas bahwa laju ekonomi Australia melambat. Walau angka 51 masih berarti ekspansi (pertumbuhan), penurunan dari 51,5 menunjukkan pertumbuhan sektor manufaktur mulai mendingin. Ini menguatkan pandangan bahwa Reserve Bank of Australia (RBA, bank sentral Australia) yang menahan suku bunga acuan (cash rate, yaitu suku bunga utama) di 4,35% dalam dua rapat terakhir, kemungkinan tetap menunggu dalam waktu dekat. Data ekonomi yang melemah ini menekan dolar Australia. Karena RBA lebih kecil kemungkinannya menaikkan suku bunga, kita bisa mempertimbangkan strategi yang diuntungkan saat AUD melemah, terutama terhadap dolar AS. Pagi ini, AUD/USD berada di sekitar 0,6550, dan membeli opsi put (kontrak yang nilainya naik saat harga turun) pada dolar Australia atau menjual futures AUD (kontrak berjangka, yaitu perjanjian jual/beli di harga tertentu untuk tanggal mendatang) bisa menjadi langkah yang masuk akal untuk beberapa minggu ke depan. Untuk pasar saham, perlambatan ini menjadi hambatan bagi ASX 200 (indeks saham utama Australia), terutama bagi perusahaan industri dan material. Jika melihat kenaikan pasar yang kuat pada kuartal terakhir 2025, data ini bisa menjadi tanda puncak sementara. Trader dapat mempertimbangkan membeli opsi put indeks ASX 200 untuk lindung nilai (hedge, yaitu mengurangi risiko) atas posisi beli, atau untuk berspekulasi pada koreksi (penurunan) jangka pendek. Perlambatan ini juga dipengaruhi kondisi luar negeri. Data terbaru menunjukkan produksi industri China pada Januari naik lebih rendah dari perkiraan, dan harga bijih besi turun ke sekitar $115 per ton dari puncaknya di akhir 2025. Faktor-faktor ini langsung memengaruhi permintaan terhadap manufaktur Australia dan menguatkan pandangan negatif. Karena ada sinyal yang saling bertentangan—ekonomi masih tumbuh tetapi tenaganya melemah—volatilitas pasar (naik-turun harga yang lebih besar) kemungkinan meningkat. Ini memberi peluang bagi trader yang memakai opsi untuk mendapat untung dari pergerakan harga. Kita bisa melihat strategi membeli straddle (membeli opsi call dan put sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama, untuk mengambil peluang dari pergerakan besar ke arah mana pun) pada saham industri utama atau indeks ASX 200 agar bisa memanfaatkan pergerakan yang lebih besar, tanpa bergantung pada arah akhirnya.

Pendekatan Trading Untuk Volatilitas Lebih Tinggi

Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

Back To Top
server

Halo 👋

Bagaimana saya bisa membantu?

Ngobrol langsung dengan tim kami

Obrolan Langsung

Mulai percakapan langsung lewat...

  • Telegram
    hold Ditangguhkan
  • Segera hadir...

Halo 👋

Bagaimana saya bisa membantu?

telegram

Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

QR code